Mengubah Hobi Menjadi Bisnis

SwandonoOleh : Suwandono

JEMBER (titik0km.com) – Sebagai seorang pengusaha, seringkali saya harus menjamu relasi atau memenuhi undangan rekanan di tempat-tempat hiburan malam (night club). Di sela-sela musik yang mengalun lembut, negoisasi bisnis dapat berlangsung cair dan kesepakatan-kesepakatan bisnis dapat tercapai dalam suasana rileks.

Beberapa waktu lalu, saya dan beberapa relasi mengunjungi sebuah klub malam di kota Malang. Seusai kami melakukan pembicaraan serius, seorang pemain band yang tengah beristirahat datang menghampiri saya untuk sekedar say hello dan berbincang ringan.

“Saya ingin menjadi pengusaha seperti anda,” ucap pemain band itu. Ucapan itu amat menyita perhatian saya. Setelah merenung sejenak, saya dapat memahami satu hal baru, yakni banyak orang yang tidak menyadari jika ia sebenarnya telah menjadi seorang wirausahawan/pengusaha. Pemain band itu adalah sebagai contoh.

Menurut saya, pemain band, penyanyi, penari, pelukis atau pekerja seni lainnya dapat dikatagorikan sebagai seorang wirausahawan. Karena apa? karena mereka bekerja tidak ikut orang/perusahaan/instansi lain. Mereka bekerja/berkreasi sendiri lantas berusaha menawarkan/menjual kreasinya itu pada pihak lain.

Memang ada pendapat yang menyebut mereka melakukan pekerjaannya karena tuntutan jiwa/kepuasan diri. Namun bagi orang-orang yang menjadikan “aktivitas seni” itu sebagai cara untuk mencari nafkah/sumber penghasilan utama, maka mereka dapat disebut sebagai seorang wirausahawan/pengusaha juga.

Meskipun ada istilah/ungkapan/ucapan yang menyebut mereka hanya “bermain”, mereka jarang disebut dengan “bekerja”. Jarang kita temui istilah “bekerja musik” atau “bekerja nyanyi”, yang sering kita dengar adalah “bermain musik”.

“Justru saya ingin menjadi seperti anda, karena anda adalah orang-orang pilihan Tuhan,” jawab saya pada pemain band itu. Jawaban saya itu membuatnya terperangah. Lantas pemain band itu meminta penjelasan lebih lanjut.

Saya menyebut para pemain band, penyanyi, pelukis, dan pekerja seni lainnya sebagai orang-orang pilihan Tuhan karena mereka melakukan pekerjaan sesuai dengan kegemaran/kesukaan/keahlian/hobby-nya. Demikian pula dengan para atlit profesional, seperti Michael Schumacer, Louis Hamilton, David Beckham, dan lain sebagainya.

Menurut saya, sungguh beruntung orang-orang semacam itu, menjalani hobi/kegemaran yang menyenangkan, menghasilkan banyak uang dan terkenal di seluruh dunia.

Sebagai seorang pengusaha real estate, membangun rumah bukanlah hobi/kegemaran saya. Seorang pengusaha rokok, belum tentu ia mempunyai kegemaran/kesukaan/ hobi membuat rokok. Demikian pula pengusaha-pengusaha yang menggeluti berbagai bidang bisnis lainnya, apa yang mereka kerjakan/tekuni belum tentu sama dengan kegemaran/ hobi mereka.

Satu-satunya alasan jujur yang membuat saya dan banyak pengusaha lain tetap bertahan menekuni bidang bisnis masing-masing adalah “kegemaran” mencari uang/mencetak profit.

Saya mengambil pelajaran penting dari pembicaraan ringan dengan pemain band itu, bahwa hobi dapat diubah menjadi suatu ladang bisnis.

Jika berbicara hobi, saya dan juga anda pasti harus mengeluarkan biaya untuk memuaskan kegemaran/ hobi yang kita miliki, yang hobi memancing di kolam pancing harus membayar charge kolam, yang gemar berburu babi hutan harus mengeluarkan dana cukup besar untuk membayar semua biayanya, yang suka olah raga tenis atau lainnya juga tetap harus mengeluarkan sejumlah uang untuk membiayai aktivitas olah raga itu.

Saya yakin, setiap orang tentu memiliki kegemaran/ hobi dan jika dikaitkan dengan kesimpulan bahwa hobi dapat diubah menjadi ladang bisnis, berarti pula setiap orang mempunyai peluang untuk mempunyai bisnis/usaha dari hobi yang dimilikinya.

Saya mengenal seseorang yang mempunyai hobi menyelam, ia berprofesi sebagai pegawai sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Setiap ada waktu luang, selalu ia pergunakan untuk menyalurkan hobi -nya menyelam bersama dengan teman-temannya. Lambat laun, ia mampu mencium peluang bisnis dari kegemarannya itu. Ia mendirikan lembaga kursus/pendidikan “menyelam”. Ia membuat brosur-brosur dan sarana promosi lain untuk mengenalkan bisnis/usahanya itu. Dengan kecerdikannya membidik sasaran, dalam waktu singkat usaha/bisnis kursus menyelamnya itu dapat memperoleh banyak klien dari kalangan menengah ke atas dan usahanya itu kian berkembang dari waktu ke waktu.

Dari seorang kawan yang menjadi entertainment manager di sebuah klub/tempat hiburan di kota Malang, saya mengetahui jumlah rata-rata pendapatan group band anak-anak muda yang secara regular manggung di tempat-tempat hiburan malam. Anak-anak muda yang usianya dibawah 30 tahun itu memperoleh kontrak minimal Rp 45.000.000 sebulan.

Jika angka itu dibagi 8 (jumlah personelnya), maka pendapatan per orang adalah Rp 5.625.000 per bulan. Jika ditambah dengan bonus dan tips dari pengunjung, maka perolehan tiap orang dapat mencapai Rp 10.000.000  per bulan. Angka yang cukup lumayan untuk ukuran anak-anak muda yang sebagian besar masih duduk di bangku kuliah itu.

Jika anak-anak muda itu dapat konsisten meningkatkan kualitas dalam “bermain” musik, maka nilai kontrak yang akan mereka peroleh tentu semakin tinggi seiring dengan kenaikan popularitas mereka.

Di kota Yogyakarta, saya mengenal seseorang yang hobby memelihara ikan hias. Pada awalnya ia harus merogoh kantong cukup dalam untuk memuaskan kegemarannya itu, karena harga ikan hias yang diminatinya ternyata cukup mahal. Akhirnya ia memutuskan untuk mengubah hobby itu menjadi suatu bisnis. Ia membuka show room ikan hias sekaligus melakukan usaha pembenihannya. Kini, ia tak perlu lagi mengeluarkan uang untuk memuaskan hasratnya memelihara ikan-ikan hias yang eksotis, ia justru meraup keuntungan yang besar dari bisnis ikan hias itu.

Saya mempunyai keyakinan, apa pun jenis hobi/kegemaran kita, dapat diubah menjadi suatu bisnis/usaha. Hobiyang saya maksud tentu adalah hobi yang positif, kegemaran yang tidak melanggar aturan hukum dan norma-norma yang ada.

Dengan uraian singkat ini, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa banyak jalan/cara untuk menjadi wirausahawan/pengusaha, termasuk melalui hobi /kegemaran yang kita miliki.

Bagaimana dengan hobi Anda? Cobalah untuk mengkaji sejenak kegemaran anda tersebut, saya yakin anda akan menemukan celah untuk memberi nilai tambah dari kegemaran itu dan untuk selanjutnya dapat diubah menjadi suatu ladang bisnis yang menguntungkan. Dengan harapan anda dan juga saya dapat masuk dalam kelompok “orang-orang Pilihan Tuhan”, dapat menikmati kegemaran/ hobi sekaligus menghasilkan keuntungan yang besar.

Besar harapan saya agar ulasan ringan ini dapat membuka wacana baru bagi Pembaca titik0km.com ini yang ingin  mendirikan/membangun/memulai suatu bisnis. Dengan kata lain, tidak ada alasan untuk tidak dapat menemukan ide/gagasan untuk membangun suatu bisnis/usaha.

Bagaimana pendapat Anda?

Suwandono adalah seorang motivator dan penulis novel

 

One thought on “Mengubah Hobi Menjadi Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: