Menipisnya Nilai Kepercayaan

Oleh : Akhmad Fauzi*

“Jadi pemimpin itu sabdo pandito ratu. Gak boleh mencla mencle, pagi ngomong dele, sore ngomong tempe. Akhirnya boong melulu”. Itulah akun tweet Yusrill Ihza M. dan masih banyak lagi statemen serupa, baik yang diucapkan mereka yang di luar kekuasaan (untuk menyerang penguasa) maupun pejabat, untuk mengcounter balik. Ilustrasi warna negeri  yang senantiasa tersajikan setiap hari untuk masyarakat. Yah….

Sebenarnya berat untuk membuat judul ini, dan lebih berat lagi setelah mulai menguraikan. Disamping kental dengan nuansa pesimis, rasanya kok begitu berat beban yang akan diuraikan di tulisan ini. Hampir satu bulan judul tulisan ini penulis pandang saja. Namun, seiring beruntunnya kejadian-kejadian “aneh” di negeri ini, penulis memberanikan diri untuk meneruskan ke pembaca. Entah, apakah konten tulisan masih bisa dibenarkan atau justru akan berlalu karena (juga) tidak bisa dipercaya?

Ketika kasus Nenek Artijah mencuat, ada rasa bosan di hati penulis. Kalau tidak salah, kasus ini semirip dengan lima kasus terdahulu yang juga melibatkan orang kecil dengan kerugian sangat kecil yang terkesan memaksakan pasal. Ketika Eyang Subur mencuat, penulis fikir akan berhenti pada saling tabayyun. Ternyata tidak kan? Bola keunikan eyang berubah menjadi saling menghujat dan saling lapor. Ketika presiden sebuah partai dijadikan tersangka, sungguh, penulis fikir hanya sebuah kasus korupsi biasa. Ternyata realitanya tidak demikian, kiprah “AF” merambah ke mana-mana. Ironisnya, ketika diwawancarai sebuah stasiun televisi, sang istri dengan mudahnya mengatakan, “Jangan tergesa-gesa menyalahkan suami saya, kita tahu semua kalau kucing di kasih ikan terus tentu akan mendekat dengan semaunya…!!!”. Nah, lho.

Belum surut semua itu sudah diramaikan lagi tentang kesemrawutan distribusi soal UN  dan yang paling mutakhir adalah kasus “Perbudakan Panci”.  Belum lagi kalau menguak tentang “cebongan” atau “amuk massa di Musi Rawas” atau “pembakaran mobil polisi” karena menggerebek tempat perjudian. Apakah semua sudah tuntas terselesaikan? Dari ranah pemberitaan bisa dikatakan out of date, tapi dari akar permasalahan (siapapun akan mengatakan) masih menyisakan masalah. Ingat, beberapa hari lalu, Presiden meminta Kepala Daerah untuk sesegera mungkin menyelesaikan kasus yang bernuansa agama. Tentu tidak sembarangan seorang presiden mengatakan ini kalau tanpa ada “tengarai”  titik yang potensial untuk meledak. Padahal, kasus SARA ini begitu berserakan di sudut-sudut negeri. Pertanyaannnya, apakah mampu teratasi?

Bagi sebuah negara bangsa harus berani mengatakan negara tidak boleh kalah oleh apapun, itu jelas. Tapi bagi sebuah komunitas dengan tingkat kemajemukan yang tinggi ditambah jumlah permasalahan yang ada, rasa pesimisme itu masih tampak dan kadar pesimisme semakin hari semakin menggumpal seiring seringnya muncul kasus-kasus yang melibatkan orang-orang pusat. Apa yang sedang terjadi di negeri ini? Beginikah rasanya kalau sedang memasuki transisi peradaban baru? Peradaban baru apa lagi? Toh bahasa samawi telah tuntas terkabarkan dengan jelas, toh fluktuasi perundangan juga teramat sering untuk direvisi dan disempurnakan?

Kekerdilan fikir
senantiasa diperankan setiap detik
seiring condongnya zaman yang semakin menjauh
dari nilai-nilai.

Bahasa langit
yang sudah begitu terang
dan tersempurnakan dengan dinamika aturan juga
norma terasa semakin berbanding balik
dengan konsep hidup kekinian.

Bukan bahasa langit
yang usang,
bukan aturan yang “terkesan” diskriminatif

Tapi mainstrem sesaat
yang sudah semakin menjadi idola
…………………………………
untuk didewakan!

Kertonegoro, SIANG BOLONG
28 April 2013
(Disadur dari :
http://bermututigaputri.guru-indonesia.net/artikel_detail-42745.html)

Yah, menipisnya kepercayaan! Kepercayaan akan niat, kepercayaan dari sebuah pelaksanaan, kepercayaan akan hasil nantinya. Kepercayaan yang seharusnya menjadi modal dasar dalam berinteraksi, kepercayaan yang sudah terlanjur begitu pasrahnya di letakkan oleh rakyat. Kepercayaan, yang bersamanya segala ucap siapapun akan menggetarkan rasa ketenangan dan keadilan.

Kini, kepercayaan itu tergantung siapa yang mengatakan dan kepada siapa ditujukan. Ketika partai “X” berbicara, gaungnya akan menjadi cibir yang lain bahkan di internal partai itu sendiri. Ketika media dengan segala etika keterbukaannya menyuarakan sesuatu, anehnya, yang tersudutkan bisa jadi akan meminta perlindungan di media lain. Ketika nilai-nilai kemanusiaan terungkapkan, justru di sudut lainpun ada yang mengungkapkan nilai-nilai itu untuk berseberangan. Alangkah mirisnya sebuah kebenaran diragukan kebenarannya.

Negeri ini dibangun dengan sudah payah. Dengan waktu, ruang, biaya, dan tekanan yang tak ternilai. Jangan hancur berkeping-keping oleh rasa tidak percaya! Indikasi ketidakpercayaan itu sekarang  justru tidak saja nyaring  tersuarakan di tataran elite. Kalau toh ini konsekwensi dari demokrasi seharusnya hanya berimbas pada mereka yang bertarung di atas, rakyat jangan pernah diajak untuk ikut merasakan. Kalau sekarang rakyat yang merasakan  jelas ini bukan demokrasi, tetapi anarkisme yang dibalut atas nama demokrasi. Berarti ada yang salah di atas! Atas bukan saja berarti yang berkuasa, tetapi bisa jadi juga mereka yang ingin merebut kuasa.

Pakar pendidikan, Arif Rahman, menengarai adanya keterputusan hasil pendidikan. Maksudnya adalah, dari perjalanan pendidikan seharusnya Indonesia sudah masuk ke fase masyarakat yang memiliki peradaban (masyarakat yang menghargai nilai-nilai) sebagai langkah nantinya menuju masyarakat sejahtera (wawancara di sebuah televisi beberapa waktu lalu). Tapi apa lacur, pemahaman pengetahuan yang seharusnya menghasilkan peradaban  itu justru kini membalikkan peradaban. Beliau juga menengarai hal ini karena adanya nilai kejujuran yang mulai pupus. Kembali, rasa percaya yang menjadi biangnya.

Ihsanudin Noorsi, seorang pakar ekonomi juga heran mengapa bangsa ini terdiam ketika ekonomi negara dalam kondisi terjajah (juga dari wawancara di sebuah televisi). Mengapa keterjajahan ekonomi ini tidak membangkitkan nilai heroik di kalangan anak bangsa? Bukankah ini ada yang sedang disembunyikan? Maka, masih menurut beliau, tidak heran kalau bangsa ini ambigu dalam mengambil kebijak moneternya.

Seorang menteri di sebuah akun twiternya dengan lugas menggugat ketidakadilan (menurut beliau) dari penegak hukum terhadap penyidikan rekan separtainya. Atau, lihat talkshow di semua televisi, hampir semuanya meragukan akan masing-masing meski sebenarnya dasar hukum akan masalah tersebut cukup tersedia.

Teori ketatanegaraan menjabarkan bahwa jika sistem yang di bangun sebuah komunitas (negara) itu baik maka akan bisa membangun tatanan yang baik pula. Bisakah teori ini berlaku jika setiap perbaikan sistem selalu didahului dengan apriori? Rumitnya lagi, yang membuat sistempun juga mendahulukan apriorinya atas apriori yang mengapriori. Sungguh sebuah budaya yang kurang sehat. Sungguh, diakui atau tidak, inilah yang memicu adanya peristiwa-peristiwa anarkis di beberapa daerah selama ini. Karena budaya apriori itu telah merambah ke kalangan akar rumput.

Bagaimana cara memutus benang merah kesemrawutan ini? Tidak ada jalan lain kecuali semua “yang merasa tokoh” menyadari mahalnya akibat cara (karakter) berjuang mereka. Sang tokoh (baik yang di seberang jalan maupun yang sedang duduk) harus menyadari bahwa hanya dengan musyawarah, santun, dan terkonsep,  maka gerakan mereka akan tampak elegan dan menyejukkan di tataran bawah. Yang di luar kekuasaan harus menambah keyakinan bahwa penguasa “tidak akan pernah menjerumuskan rakyat dan bangsanya”. Begitupun dengan penguasa, harus tersenyum ramah bahwa “teriakan” yang di luar adalah tambahan energi untuk menuntun ke kearifan dalam mengemban kekuasaan.

Betapa sejuknya kita mendengar pernyataan presiden FIFA yang bangga karena  berkesempatan untuk memberikan sebuah penghargan kepada Sir Alex Ferguson. Atau Pele yang terus terang mengakui sebagai pengagum menejer MU yang kotroversial itu. Mengapa mereka bisa begitu sehati padahal dalam masa karir “sang Sir” ini tidak pernah lepas dari gejolak-gejolak.

Kita harus bisa mengambil hikmah dari “momen pensiun” sang menejer ini. Kita punya motivator ulung, ulama-ulama besar, dan masih banyak birokrat ataupun politisi yang masih putih.

Jamah Hati dengan Cinta,

regang semua anasir-anasir yang memilukan, tancapkan

kalau KITA ADALAH NEGERI YANG “MURAH SENYUM”

penuh keihlasan…

Indahnya kalau FENOMENA FERGUSON ini terpentaskan di tanah kita, dusun kita, alam kita, negeri kita. Karena INDONESIA dibangun atas nama HATI. Hati yang sehati dari beliau-beliau yang jauh dari murka diri. Kita harus mengikuti….

Kertonegoro, 10 Mei 2013

Penulis adalah :

Pemerhati Sosial dan Praktisi Pendidikan

Berdomisili di Kertonegoro-Jenggawah-Jember

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: