Menitipkan Karakter Bangsa Di Sucinya Ramadhan

 

Oleh : Akhmad Fauzi*

 

Memasuki sepertiga pertama Ramadhan ini, cuaca seakan ikut manghayubagyo kepada mereka yang sedang berpuasa. Dua Ramadhan sebelumnya terik matahari menguras hausnya kita menanti berbuka. Syukurlah, fenomena tiga badai ini memberikan hikmah yang sangat mendukung untuk lebih mengkhusukkan diri dalam beribadah. Perubahan fenomena alam ini (seperti yang dikatakan BMKG) akan berlangsung sampai bulan September depan. Semoga tidak menimbulkan gumpalan bencana, semoga alam benar-benar ikut merasakan betapa suci dan khusuknya belahan dunia ini dalam merebut ibadah atas dasar ajakan Illahi ini. Amin

Senin depan, 15 Juli 2013, tahun ajaran baru dimulai, tepat di akhir minggu pertama (bagi yang puasa hari Selasa) dan enam hari berjalan bagi yang mengikuti awal puasa sesuai keputusa pemerintah. Enam atau tujuh hari melaksanakan puasa, rasanya cukup menjadi bekal untuk mengawali kembali ke bangku sekolah. Bagi pendidik tentunya sudah siap dengan menu yang akan disajikan selama satu semester ke depan. Bagi orang tua, meski sedikit mengerutkan dahi (karena kantong terkuras –sebagian tapi-), tetap bisa tersenyum mengiringi sang putra melangkahkan kaki di sekolah yang didamba. Untuk siswa, merupakan impian untuk sesegera mungkin kembali berteriak-teriak menggapai ilmu Tuhan. Terbayang Indahnya kolaborasi hentakan hidup ini. semoga, Ridho Tuhan, Allah SWT, memayungi langkah niat baik yang ada. Amin

Sepertiga pertama Ramadhan adalah Rahmad yang tercurah (dari cuplikan sebuah hadits). Begitu mendalamnya makna hadits ini untuk semakin menyempurnakan kehebatan bulan suci ini. Dalam Rahmad ada hak mutlak Tuhan yang tidak perlu diganggu gugat. Rahmad memberikan simbol bahwa siapapun “bisa”, yang selanjutnya menjadi picu ghiroh hati untuk menselaraskan langkah dengan kebaikan-kebaikan agar rahmad itu menetes di kehidupannya. Dalam rahmad semakin membuktikan, kita tak lebih sebuah pion, yang tidak perlu terlalu jauh mengumbar sangka-sangka (prediksi-prediksi), karena sangka-sangka hanya mengereskan hati, hati yang keras sulit menerima rahmad. Klop sudah! Semoga kita dan mereka yang menginginkan rahmad itu diperkenankan disapa rahmad di sepertiga awal Ramadhan ini. Amin

Rahmad Tuhan yang paling nyata di Ramadhan ini adalah suasana yang “lain” yang tidak akan pernah tertemukan di bulan-bulan sebelum dan sesudahnya. Lainnya suasana ini, bagi sebagian psikolog, ditengarai karena kita yang merasakan lain. Logika yang pas untuk mengkaitkan “serunya” suasana Ramadhan ini. Kita merasa lain, karena terpanggil oleh fikir yang merasa lapang. Fikir lapang karena hati terasa sejuk. Kesejukan itu efek dari semangat kita memutihkan diri karena ada harapan pasti akan janji sang Maha Pemberi Janji. Jadilah eskalasi kejiwaan ini mendownkan semua kegerahan karena begitu kompleksnya kita memanggil semua elemen, bahkan Tuhan pun kita dudukkan sebagai yang “pasti” tanpa syarat aneh-aneh. Gelombang interaksi bathiniah ini tidak akan mampu dihadirkan di selain bulan ini. mengapa? Bukan jiwa kita yang tidak ingin bersih, bukan karena ada momen mudik diakhirnya, bukan pula ekses puasa? Tetapi Tuhan, Allah SWT, terjun langsung menjamah hamba-hamba yang membirukan bulan ini!

Kesimpulan dari keempat paragraf di atas adalah : bulan ini, bulan Ramadhan, bulan suci bagi yang meyakininya, sangat berpeluang untuk mengadegankan kebaikan. Adegan kebaikan itu diberi kemudahan oleh yang memiliki kehidupan karena masing-masing hamba merancakkan niat yang sama. Saking dahsyatnya aurora yang keluar dari kerancakan itu sehingga mampu menundukkan ketidaknyamana yang di bulan-bulan lain tidak mampu kita tundukkan. Bukankah ini peluang yang bagus menjadikan sebagai media pembelajaran yang alamiah bagi kehidupan kita? Sangat rugi jika, kesempatan yang ada ini tidak mampu mendidik kita untuk memanggil kebaikan.

Bagi siswa, jadikan keteduhan ramadhan sebagai pembiasaan untuk menyiapkan bulan-bulan selanjutnya. Caranya? Pandai-pandailah sang pendidik untuk menjustifikasi kenyamanan bulan ini sebagai “penggorengan” yang mampu menyajikan hidangan yang enak, yang tahan basi sampai sebelas bulan ke depan, yang bisa menyehatkan keseluruhan kehidupan anak didik. Mengapa? Teriakkan ke siswa : “Ada janji Tuhan di sana! Dan itu pasti…….”.

Untuk pendidik, adalah sarana yang tepat untuk memoles keprofesionalan profesinya. Caranya? Kebaikan bulan yang telah dimudahkan ini adalah kaca besar yang bisa dipakai untuk mencatat sekaligus merias agar menjadi kemolekan diri. Begitu tampak gambar yang sempurna di kaca itu, beranikan untuk memperlihat di kehidupan siswa dan lingkungan sekitarnya. Dijamin, gengsi keahlian kita akan semakin menebalkan senyum semua.

Untuk yang lain, pastikan tidak ada sedikitpun pengebirian kesempatan yang ada itu. Maksudnya, peran anda cukup terbuka untuk menjadi idola bagi anak-anak kita, maka segerakan mengambil posisi untuk ikut memoles diri di bulan ini. Caranya? Wah, rada ragu untuk memberikan saran. Yang pasti, tumbuhkan kepositifan yang sudah ada di hati kita. Bulan ini cukup baik untuk menimbun energi kebaikan itu. Yakinlah, timbunan itu tidak akan mengacaukan alam, tetapi justru menjadi penyeimbang diri dan alam ketika kekalutan kembali hadir seiring bulan berganti.

Mari kita titipkan karakter bangsa yang ada di diri kita, di lingkungan kita, di bangsa kita, dan di bulan ini kepada pembentukan jiwa anak-anak kita. Kapan lagi kita menyumbangkan kebaikan itu, senyampang ini bulan suci, bulan yang teduh bersama mereka-mereka yang telah meneduhkan bulan ini, karena memang Tuhan telah turun menyapa hambanya di bulan ini, dengan kepastian mutlak akan janji-Nya.

Jangan biarkan berlalu begitu saja, hidup bukan hanya detik ke depan, minggu kemudian, untuk 2014, atau hanya menimbun kegalauan. Hidup sekarang hanyalah antara dari babak yang sebenarnya, nanti, di hari kemudian.

Semoga bermanfaat… (*)

 

Kertonegoro, Ramadhan, Bakda Taraweh di hari keempat puasaku,

Salam kebaikan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: