Menulis Sama dengan Menjadi Pengusaha

SwandonoOleh: Suwandono

JEMBER (titik0km.com) – Saya teringat kejadian saat seorang kawan yang tengah serius membaca Koran tiba-tiba melepas tawa lebar, semula saya menduga ia sedang membaca berita lucu atau menikmati gambar kartun. Ternyata dugaan saya salah, yang membuatnya tertawa adalah karena ia membaca berita tentang “Hari Buku Sedunia” yang jatuh pada tanggal itu.

Menurut kawan saya itu, buku memiliki “hari besar” adalah hal yang aneh, bahkan ia nyeletuk “mungkin nanti akan ada hari pohon, pulpen, pensil, celana, dan yang lainnya”. Saya pun tak kuat menahan senyum mendengar celoteh itu.

Berawal dari obrolan ringan itu, saya teringat peristiwa unik sewaktu jalan-jalan di Victoria Park – Hongkong. Keingintahuan saya tergelitik ketika melihat seorang perempuan berwajah Jawa amat serius memainkan laptopnya, lantas saya mendekatinya dan kami berbincang akrab. Ternyata perempuan muda itu adalah seorang TKW asal Malang yang  telah bekerja di Hongkong selama 5 tahun. Saya terperangah saat ia memberi penjelasan jika sedang menulis buku, tepatnya sebuah Novel.

Royalty-nya lumayan Mas, untuk menambah penghasilan,”  tuturnya.  Saya sungguh salut dan takjub dengan apa yang dilakukan perempuan muda itu, ia memanfaatkan hari libur dan waktu luang untuk sesuatu yang amat produktif.

Menulis untuk menambah penghasilan. Sungguh suatu gagasan cerdas yang jarang terlintas di benak banyak orang, buah pikiran luar biasa bagi seorang TKW yang kesehariannya harus berkutat dengan sapu, alat pembersih lantai, peralatan masak dan tetek bengek urusan rumah tangga lainnya. Jika yang melakukan itu seorang mahasiswa atau sarjana, tentu saya tak perlu takjub, karena mahasiswa dan sarjana kesehariannya memang tak jauh dari urusan tulis menulis. Bahkan untuk menjadi seorang sarjana harus menulis skripsi yang tebalnya terkadang melebihi kitab suci.

Namun, terlintaskah di benak para sarjana dan mahasiswa untuk “menambah” penghasilan atau lebih jauh “mencari” penghasilan dari menulis buku? Saya berani menjawab: Tidak banyak yang mempunyai pemikiran seperti itu, bahkan wartawan yang tiap hari bergelut dengan tulisan pun, jarang yang menulis buku.

Mengadopsi ide brilliant dari TKW itu, saya ingin mengajak pembaca Koran ini untuk mencoba meniru apa yang dilakukannya, mencoba mencari/menambah penghasilan dari kegiatan menulis. Menurut saya, menulis buku adalah salah satu bentuk kegiatan berwirausaha, dengan kata lain seorang penulis buku dapat disebut sebagai seorang wirausahawan/pengusaha.

Lantas muncul pertanyaan, Apakah kita mempunyai waktu untuk menulis buku? Apakah menulis itu memerlukan bakat? Apakah memerlukan modal besar untuk menulis buku? Apakah pendapatan dari menulis buku itu besar? Apakah menulis atau mengarang itu bisa dijadikan suatu profesi tetap? Dan beberapa pertanyaan lain yang terkait dengan dunia tulis menulis.

Untuk menulis buku, apakah berbentuk novel, kumpulan cerita pendek/puisi, buku pengetahuan, buku permainan, buku menu masakan atau buku umum lainnya tidak memerlukan waktu khusus yang menganggu keseharian kita. Menulis dapat dilakukan kapan saja saat ada waktu luang, bisa dilakukan di sore hari seusai menjalani pekerjaan rutin, malam hari ketika susah tidur, atau bahkan pagi hari sebelum mandi. Pendek kata, semua orang pasti memiliki waktu untuk menulis, sejauh ada kemauan untuk itu. Justru menulis adalah suatu kegiatan yang sama sekali tidak memerlukan formalitas, tidak memerlukan seragam, sepatu atau atribut lain seperti halnya seorang pegawai kantoran.

Ada pendapat yang mengatakan, menulis membutuhkan bakat. Saya sangat benci dengan pendapat semacam itu, karena hanya akan menyebabkan orang takut untuk memulai menulis karena merasa dirinya tidak berbakat. Menurut saya, siapa pun, asal punya minat dan niat bisa menjadi penulis.

Menjadi penulis, kaidahnya sederhana saja, apa yang dilakukan bisa mirip curhat yang dicurahkan di atas kertas, bisa juga mirip kamera yang membidik suatu persoalan dan membedahnya lebih jauh, menulis bisa juga diartikan memindahkan ucapan ke dalam bentuk tulisan, memindahkan apa yang dilihat dan dirasakan ke dalam alinea-alinea.

Menurut saya, tidak ada seorang pun yang tidak pernah curhat, atau tidak pernah melihat suatu kejadian menarik, sehingga saya menyimpulkan bahwa setiap orang memiliki bahan baku untuk diproses menjadi tulisan yang menarik. Jika para remaja kita sangat piawai menulis “status atau notes” yang indah di wall facebook, maka hal itu menjadi bukti bahwa mereka mempunyai kemampuan menulis yang bagus.

Menulis juga tidak memerlukan modal besar, modal utamanya hanyalah kemauan. Saya menilai, menulis buku adalah salah satu bentuk usaha yang amat minim modal.

Jika suatu karya tulis telah tuntas dikerjakan, tulisan itu selanjutnya ditawarkan ke pihak penerbit, jika penerbit menilai tulisan itu layak diterbitkan maka akan dilakukan negoisasi royalty bagi sang penulis. Dimanakah mencari penerbit? Alamat penerbit bisa dilihat di ribuan buku yang dipajang di toko buku. Sebagai penulis pemula, dapat menawarkan naskah tulisan itu ke banyak penerbit untuk memperbesar peluang tulisan itu dapat diterbitkan. Mudah bukan?

Pendapatan dari seorang penulis tidak dapat dipandang dengan sebelah mata. Menulis buku menjanjikan penghasilan yang luar biasa besar, terlebih iklim membaca di negara kita kian meningkat dari waktu ke waktu.

Saya ambil contoh buku Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta dan serial Candi Murca. Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta terjual diatas 400.000 eksemplar dalam waktu 4 tahun. Sedangkan Serial Candi Murca (direncanakan 15 seri) yang terbit setiap 3-5 bulan sekali terjual di atas 40.000 eksemplar setiap serinya.

Royalti bagi penulis rata-rata 8,5% dari harga jual (10% – pajak 15%), jika harga Laskar Pelangi Rp. 65.000,- maka royalty penulisnya sebesar Rp. 5.525 per buku. Dari penjualan 400.000 eksemplar maka total royalty sang penulis adalah Rp. 2.210.000.000, jika jumlah itu dibagi 4 tahun (masa penjualan), akan muncul penghasilan per tahun sebesar Rp. 552.500.000 atau Rp. 46.041.666 per bulan. Jumlah penghasilan yang lebih tinggi dari gaji resmi seorang Bupati.

Jika ingin melihat angka penghasilan yang lebih besar, kita bisa melihat sosok John Grisham (penulis novel The Firm, The Chamber) atau JK Rowling (penulis novel Harry Porter). Novel The Firm terjual 25 juta eksemplar hanya dalam waktu kurang dari 18 bulan. Bahkan kekayaan JK Rowling disejajarkan dengan Ratu Inggris.

Ada kasus unik yang bisa dijadikan pemompa semangat, bahwa menulis itu bukanlah sesuatu yang rumit dan harus memiliki ide/materi yang perlu pemikiran amat serius. Seorang sarjana tehnik sipil UGM menulis buku permainan tentang cara bermain “kubus ajaib/rubik”, buku itu amat tipis karena hanya 65 halaman. Menurut sang penulisnya, hanya memerlukan waktu 3 hari untuk menulis buku itu karena hanya tinggal memindahkan pengetahuannya bermain kubus warna-warni itu ke dalam tulisan. Buku itu terjual 15.000 eksemplar hanya dalam waktu 2 bulan. Dengan harga Rp. 22.000, berarti royalty yang diterima penulisnya Rp. 28.050.000 atau Rp. 14.025.000 per bulan. Angka yang lumayan untuk seorang sarjana yang sebelumnya menyandang status pengangguran.

Dari uraian singkat ini, adakah yang tertarik untuk mengisi waktu luangnya dengan kegiatan menulis? Atau lebih suka membunuh waktu dengan mengobrol masalah politik yang seolah tiada ujung?. Semoga uraian singkat ini dapat membuka kesadaran dan memicu semangat teman-teman untuk mencoba menulis buku dan sekaligus menjadi seorang wirausahawan. Semoga. (*)

Suwandono, motivator penulis novel laris “LIAN NIO, a true story”. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: