Musik Untuk Terapi "Sakitnya" Demokrasi

Oleh : Akhmad Fauzi*

Ketika saya menulis lagu mars sekolah, niatan yang ada di benak saat itu adalah untuk menggiring perasaan stakeholder lembaga agar lebih cinta almamater. Setahun kemudian saya tulis lagi lagu (juga tentang sekolah saya) dengan nuansa lebih ceria dan optimistis. Dari perjalanan lagu itu, setidaknya saya melihat ada dua image besar yang menancap di lembaga ini (utamanya siswa), yaitu :

1. Lebih mengenal lembaga dengan hasil nyata ada rasa memiliki
2. Tumbuh rasa percaya diri, karena memiliki lagu kebanggaan yang bisa disuarakan di setiap ada event keluar.

Terbersit cerita jika di sebuah perusahaan besar di jepang untuk menemani karyawan memasuki gerbang kerja selal;u diperdengarkan lagu-lagu patriotik negara kemudian di detik tertentu semua karyawan hening menghadap ke timur (sebagai ejawantah menghadap Dewi Matahari -mohon tidak perlu jabaran ini dikaitkan dengan keyakinan-). Perusahaan itu kini meraksasa merambah dunia.

Seorang ahli fisiologi, Mary Griffith, berpendapat bahwa hipotalamus pada otak mengontrol berbagai fungsi saraf otonom, seperti bernapas, denyut jantung, tekanan darah, pergerakan usus, pengeluaran hormon tiroid, hormon adrenal cortex, hormon sex, bahkan dapat mengontrol seluruh metabolisme tubuh kita. Dalam sebuah penelitian ditemukan adanya peningkatan Luteinizing Hormone (LH) hormon sex yang merangsang pematangan sel telur pada saat mendengarkan musik.

Ketika Surabaya terkhianati oleh boncengan tentara NICA, Bung Tomo memanfaatkan kekuatan ini dengan nuansa yang lain. Hentakan “Allahu Akbar” dengan intonasi tanpa salah dan mengalah, mampu meluluh-lantakkan ketakutan dan kengerian akan ekses kerugian diri. Alunan suara itu membius rasa sakit manusia untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Musik, irama, alunan nada, dan syair yang melebur di dalamnya, energi dahsyat untuk memproduksi gugahan rasa dan perubahan pikir ketika menyapa telinga kita. Efek ajaib, begitulah kira-kira yang sering dikemukakan setiap kali mengkorelasikan musik ini dengan rasa dan hati. Ajaib, karena rentannya suasana hati terpanggil untuk masuk ke “nilai rasa” musik yang didengar. Rasa panik, takut kematian, gelisah diri, melo, bahkan kerinduan yang memanjang, mampu terobati dengan mendengar lantunan dan alunan suara yang berirama. Tak ayal, keajaiban ini membawa sebagaian negara untuk mengembangkan musik ini menjadi terapi “keanehan” psikologi yang menjangkit seseorang.

1. Musik Bersama Rasa Diri

Beberapa kali saya membuktikan hal ini. Terakhir ketika siswa saya berperan aktif dalam malam puncak HUT kemerdekaan RI yang ke-69. Musik yang mengiringi drama absurd yang dipentaskan itu (menurut pengakuan sebagian penonton) menghadirkan keterhanyutan jiwa untuk larut dalam barisan kata-kata puitis. Merinding sekaligus fokus ke pusat perhatian karena penasaran adegan apa lagi yang akan tampak nanti. Sering saya menyapa siulan atau sekilas nyanyian siswa yang saya dengar. Sering pula saya mendapat anggukan sebagai jawaban pembenar atas tebakan rasa hati yang sedang menyeruah. Diskusipun merenyah karena menemukan kesefahaman dari rasa itu.

Grace Sudargo, seorang musisi dan pendidik mengatakan, “Dasar-dasar musik klasik secara umum berasal dari ritme denyut nadi manusia sehingga ia berperan besar dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan raga manusia”. Terpanggil saya untuk mengkolaborasikan pendapat ini dengan “anehnya” Gus Dur setiap kali melihat dan mensikapi fenomena sosial politik yang ada di negeri ini. Gus Dur terkenal sebagai maniak musik klasik yang (ini menurut duga saya mengacu pada pendapat GS di atas) berarti ada peran besar “ruh” musik klasik itu dalam menumbuhkan pandangan-pandangannya.

Lantas, simak perilaku musik SBY, selaraskah? Yups, rasanya ada titik kesamaan antara “gemulai dan santun” beliau dengan nada-nada melo dan ballad di setiap ciptaan lagunya. Jokowi? Konsep musik rock yang menghentak tetapi tidak meninggalkan nuansa konsistensi sebagai manusia. Setidaknya pula menemui kebenaraan alasan mengapa musik ini yang beliau pilih. Benar pula, selalu “panas” dan “tanpa lihat kiri kanan”.

Lantas? Jogja sempat dianalisis telah berubah. Kasus Florence memicu kemarahan yang sebenarnya selama ini sulit dilahirkan dalam budaya Jawa. Untunglah, mediasi Sultan mampu menutup “kemarahan” itu. Bisa diperkirakan, Sri Sultan masih larut dalam “gending-gendingnya”, sehingga rasa santun lebih mengemuka. Bisa pula diduga, lagu “Jogja Tetap Istimewa” ikut berkonstribusi atas berubahnya pensikapan masyarakat Jogja itu. Benarkah? Semua masih duga, tidak perlu menganggap tulisan menuduh mereka ini biang salahnya. Karena konsep sosial itu berada dalam dinamisasi dan kelayakan sejarah.

2. Untuk Terapi “Sakitnya” Demokrasi

Perlu ditegaskan dulu, istilah sakit saya pakai bukan untuk merujuk afiliasi politik saya. Batasan sakit dalam ulasan demokrasi di tulisan ini (baca : ala sambal istri) lebih ditekankan amatan subjektif diri penulis melihat mudahnya “sumpah serapah” melanglang di setiap opini dan analisis-analisis. Nuansa emosi yang lebih menampakkan adanya tarik-menarik yang kuat, seolah negeri ini akan diterkam dan menerkam, tanpa disadari lagi jika geliat ini akan melahirkan wajah-wajah beringas bagi penerus bangsa.

Sebagai masyarakat yang ingin ikut bersikap, banyak persepsi yang lahir dalam benak saya melihat bergesarnya sikap dan alur strategi yang dimainkan anak negeri akhir-akhir ini. Sekuat mungkin saya beriktikad baik bahwa kegerahan aurora demokrasi negeri ini sedang dalam kondisi masa inkubasi. Demam, meriang, dan batuk-batuk. Maka sekuat mungkin pula saya menarik garis kewajaran atas setiap keisengan wacana yang selalu ditampakkan oleh hampir seluruh lapis masyarakat dalam menyikapi kejadian tatanan demokrasi bangsa.

Kewajaran itu menimbulkan posisi tegas diri jika melihat fakta yang ada tidak bisa dalam kondisi buruk sangka. Harus dikuatkan jika beda yang mengemuka berangkat dari koridor perbaikan untuk lebih meluaskan makna kebangsaan negeri tercinta ini. Yang harus dipertahankan bersama adalah “jangan melahirkan budaya baru, jauh dari nilai-nilai falsafah dan kesantunan etika bangsa”. Biarlah di luar banyak wacana, tetapi sumber kebaikan moral dalam negeri tidak lebih kecil jumlahnya.

Kembali pada tema tulisan. Poros warna musik melo dari karakter tokoh yang masih berkuasa dalam beberapa hari ini memang akan segera tergantikan dengan warna hard rock membahana. Dua konfigurasi itu setidaknya korelatif dengan barisan pendukung di belakang kedua tokoh ini. Gesekan biola melankoli malah sering menghadirkan lengkingan keras nada-nada untuk menandingi. Yang menarik, dua warna musik ini selalu gagal untuk disatukan.

Mari kita amati hasil penelitian Herry Chunagi (1996) Siegel (1999), yang didasarkan atas teori neuron (sel kondiktor pada sistem saraf). Penelitian ini menjelaskan bahwa “Neuron akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik, rangsangan yang berupa gerakan, elusan, suara mengakibatkan neuron yang terpisah bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak. Semakin banyak rangsangan musik diberikan akan semakin kompleks jalinan antarneuron itu”. Ini rupanya titik krusial mengapa dua tokoh ini “hanya bisa menyapa saja” tetapi tidak bisa melebur bersama. Mohon dicermati jika saya memulai terapi musik ini lewat analisis di titik ini.

Lantas, dimana posisi koalisi yang satunya, Merah Putih? Inilah menariknya! Saya berharap warna musik yang dipanggulnya adalah gema patriotik sesuai dengan pilihan kata dari penamaan koalisi ini. Sudahkah gema patriotik menjadi warna utama koalisi ini? Bisa dimaklumi jika warna yang ada masih belum begitu kental tergambar. Disamping mudanya umur koalisi ini, pun nuansa ambiguitas atas kesolidannya masih belum tampak kuat. Msekipun, banyak pengamat politik yang angkat topi pasca keputusan UU Pilkada tempo hari atas soliditas koalisi. Sebagian pengamat banyak yang tidak percaya akan fakta soliditas koalisi ini menggolkan UU Pilkada. Bahkan sekarang terbentuk wacana (dari beberapa stasiun TV) jika UU ini bisa mengancam pemerintahan baru nanti. Benarkah? Mari fokus saja pada musik sebagai bagian terapi demokrasi yang sedang sakit, tinggalkan analisis politis itu.

Biarkan analisis akan hitung-hitungan politik gemuruh dalam demorkasi negeri. Namun jangan biarkan gemuruh itu malah menyeret pada konflik yang sebenarnya bukan cita-cita semua. Makanya, di awal saya memberikan sikap tegas, jika memandang penuh prasangka baik harus ditanamkan dalam melihat konstelasi ini. Nyatanya memang, setiap kali tetabuhan yang dibunyikan kubu sesuai dengan warna musiknya selalu dibalas dengan tetabuhan lain. Sakit demokrasi ini, janganlah dinyaringkan penyuaraannya “siapa yang sakit”, tetapi perlu diramaikan obat apa untuk solusi.

Yang jelas, di sebagian negara telah menjadikan beberapa jenis musik untuk menjadi terapi atas beberapa penyakit. Kata kuncinya di sini adalah musik, terapi, dan penyakit. Saya nukilkan ulasan yang berkaitan dengan terapi musik ini dari sebuah artikel “Biasanya, para terapis membagi tema musik ke dalam lima jenis, yaitu musik bertema trance, mellow, semangat, ceria, dan relaksasi. Musik bertema trance adalah jenis musik yang mengandung ungkapan rasa ceria yang luar biasa. Jenis musik semacam itu cocok untuk menyembuhkan orang yang mengalami tekanan mental atau stress.

Musik yang berirama mellow dan melankolis merupakan jenis musik yang menyayat perasaan. Musik semacam itu bisa menurunkan asupan sejumlah komposisi kimia dalam otak. Musik bertema melankolis dalam kondisi normal bisa mengurangi rasa sakit dan nyeri. Sementara jika didengar di saat sedih, bisa mempermudah bagi seseorang untuk menahan rasa duka. Namun, penggunaan musik bertema seperti itu secara berlebihan bisa menurunkan semangat dan kebencian. Musik bertema semangat merupakan jenis musik yang bisa membangkitkan reaksi kuat dan cepat yang disertai dengan tanggapan fisiologis”. Berarti benar, musik bisa menjadi terapi dari gejala penyakit yang diderita.

Menyimak dari ulasan di atas, jika sumber penyakit itu (maaf kami memberi istilah demikian, bukan untuk menghina tetapi memang fakta politik berkata demikian, dalam artian apapun yang menjadi aksi masing-masing selalu terespon negatif) ada tiga warna, maka seyogyanya kita lebih fokus pada ketiga warna itu. Maka berangkat saja terapi musik ini lewat ketiga warna itu. Bisa ketiganya dinyanyikan bersama-sama, bisa terlahirkan jenis musik baru yang bernuansa ketiganya. Lebih ideal lagi jika masing-masing kubu sering-sering mendengar warna lawannya, agar tidak merasa tercubit jika kubu lain menyanyikan warna musiknya.

Mungkin terapi yang cukup efesien dan efektif adalah membiarkan ketiganya berwacana dan mewarnai demokrasi bangsa. Tetapi lakukan dengan penuh irama dan kesejatian karakter musik yang dimiliki. Jika mellow, mellow-lah dengan konsis. Jika menghentak, hentakkan dengan bingar. Jika patriotik, derapkan dengan segagahnya. Lantas terapinya di mana? Alirkan rasa musik, irama, nada, dan syair disetiap hentakannya. Nyanyikan saja dengan penuh penjiwaan. Tidak perlu lagi melirik “ada apa dan mengapa” dengan suara musik di sebelah. Ajak rakyat familier dengan ketiga warna musik itu dan biarkan mereka memilih warna musiknya.

Lahirkan terus dialog-dialog tentang warna musik yang serasa cokok untuk karakter ketiganya. Polarisasi pandangan politik yang sekarang menjadi tiga besar ini jangan berlama-lama gersang oleh amarah dan ambisi. Sulit bagi semuanya jika selalu mentasbihkan “sampai titik darah penghabisan” sementara beda yang ada ternyata dalam koridor ketaatan aturan semua. Berteriak-teriak dengan menyeret “rakyat” pun bukan kearifan karena nuansa yang ada di ketiga pandangan itu meyakini yang sama, yaitu berporos pada rakyat jua.

Melankoli dengan berirama, menghentak dengan berirama, patriotik dengan berirama, suarakan dalam khazanah kosmis demokrasi bangsa. Ternyata intinya, konsisten dengan warna musik sendiri, tidak perlu membedah warna musik lainnya. Maka yang terjadi nantinya adalah negeri ini senantiasa diperdengarkan ketiga warna itu dengan konsekwensi masing-masing menjaga warna musik yang ada.

Segera perdengarkan irama-irama musik di telinga anak bangsa, sudahi dan senyapkan suara-suara tak berirama. Itu semua bisa diterapkan jika ketiganya meyakini berada dalam titik puncak saling percaya untuk saling membangun demokrasi.

Ingat, sebagian besar rakyat tidak pernah gerah dengan tingkah laku ketiganya. Tetapi tolong, layani mereka dengan merdunya warna suara untuk menghantarkan tidur malamnya, dari kelelahan memenuhi kebutuhan diri. (*)

Kertonegoro, 28 September 014
Salam, Demokrasi Sambal Istri Part II

link sumber :
1. http://siipe2r007.wordpress.com/2012/06/11/karya-ilmiah-pengaruh-musik-terhadap-kesehatan-jiwa-fungsi-dan-kerja-otak-manusia/
2. http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/014/09/26/demokrasi-sambal-istri-690738.html

Ilustrasi : ikithink.wordpres.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: