Open House Gaya Pendidik

OPEN HOUSE ALA PENDIDIK

oleh : Akhmad Fauzi*

Tanpa protokoler, cukup beberapa lembar format presensi, beralas ambal setengah kumuh berhiaskan kue ala kadarnya, bahkan setengahya masih baru akan dicicil bulan depan.

Pernah di suatu tahun, jauh-jauh hari sebelum lebaran, OPEN HOUSE ini dicoba di planing serapi mungkin. Tersusun penjadwalan, pemberian sosialisasi, sampai per SMS untuk membuat janji. Ternyata, kekakuan yang terjadi. Tragisnya, yang datang (siswa utamanya) turun drastis!

Cukup sekali saja penjadwalan itu. Bagaimanapun, nilai komunitas memberikan warna tersendiri untuk disikapi dan diikuti. Plagiasi hanya menimbulkan kelucuan, lebih-lebih jika dilihat hati! Meimbulkan kosekwensi yang dipaksakan yang ujung-ujungnya akan mengakui kalau sebenarnya tidak pantas.

Open house bagi karakter pendidik memang tidak bisa sembarangan disamakan. Ketika pagi belum begitu lama datang, tanpa ba bi bu, mereka datang dengan kesahajaan yang penuh. Padahal tidak jarang, saya (yang berlagak pejabat) belum juga tersentuh air mandi. Belum lagi alur pembicaraan harus dikendalikan oleh tuan rumah. Jangan berharap banyak mereka datang dengan membawa segebok “sharing informasi”, pandai-pandailah membaca wajah dan kondisi yang ada. Kalau tidak, bakal terjadi pembisuan tanpa arah atau pulang tanpa sempat meneguk seteguk air kemasan yang tersedia.

Open House bagi pendidik adalah keharusan sebagai bentuk keterlanjutan pembelajaran di kelas. Meski tidak ada yang pernah meneliti, rasanya interaksi open house ini menjadi titik puncak pendeklarasian keterikatan emosional. Ketika sapa terdengar yang kemudian dilanjutkan dengan jabat erat tangan dengan latar belakang suasana yang haru biru, kosmis bawah sadar masing-masing bergerak tak semestinya, meski itu hanya dalam hitungan detik.

Ope house bagi pendidik menjadi bukti keterhapusan jarak dalam strata di dunia pendidikan sekaligus pelangsung budaya “tahu diri” dalam prilaku sosial kita. Yang itu menjadi ruh untuk menjaga keberlangsunga etika dan keilmuwan di setiap peradaban. Sederhananya, aurora yang terjadi di open house itu adalah perilaku aktif untuk menumbuhkan filosofi pendidikan. Terjauh dari tendensi “ingin” apalagi “bisa jadi”. Tertutup untuk “berlagak” takut untuk “dibuat-buat”.

Open house bagi pendidik adalah keharusan untuk menunjukkan kesejatian akan penjiwaannya dengan profesi yang diembannya. Meski open house itu harus dalam keterbatasan dengan pelayanan minimal.

Sejatinya, open house beliau-beliau itu, adalah hasil turunan, yang dipoles sedemikian rupa agar tampak sakral, padahal, hati bisa jadi sudah dititipkan pada tendensi-tendensi. Bukan justifikasi yang mengemuka di sini, tetapi ajakan, jika ruh open house itu ada di hati!

Maka keluarlah siswa didik itu dari rumah yang tampak sederhana, dengan senyum renyah dalam hati. Sementara logika dan fikirnya tidak sempat lagi meminta apapun!

Wallahu’alam bisshowab (*)

Kertonegoro, 13 Agustus 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: