OPORTUNIS

Oleh : Akhmad Fauzi*

 

Secara etimologi, Oportunis (-isme) adalah suatu aliran pemikiran yang menghendaki pemakaian kesempatan menguntungkan dengan sebaik-baiknya, demi diri sendiri, kelompok, atau suatu tujuan tertentu. Bagi kaum awam, dia bagaikan sosok asing. Bagi kelompok cendekia, penulis yakin, cukup memuakkan. Bagi politikus, tergantung bagaimana warna “demokrasi” saat itu. Bagi cinta, tidak ubahnya seperti selingkuh. Bagi wanita, mungkin, sejenis “tante-tante”.

Memang, sepemahaman penulis, ruh dari oportunis ini cenderung bermakna jelek. Ketika bergaul di awam, masyarakat akan diajak untuk “plin-plan”. Ketika bergulir di masyarakat akademik, biasanya sering melakukan “plagiasi”. Ketika ke ranah politik, akan terulang kisah “brutus”. Ketika di suatu komunitas, lebih senang bergaya ‘kutu loncat”. Siasat, main mata, “aku dapat apa?”, pembodohan, pembohongan, sampai pada pemlintiran ayat, adalah blue print yang melekat di setiap langkahnya. Anehnya, sampai hari inipun tidak ada sistem yang mampu memusnahkan. Seakan oportunis ini sesuatu unsur yang harus ada di setiap jenjang peradaban.

Ketika adam dan hawa tergoda oleh buah kuldi, ada benih oportunis. Ketika sekian waktu setelah Roshululloh wafat, maka benih oportunis mulai menyapa di sucinya hati sebagian kecil sahabat. Julius Caesar terbunuh, karena oportunis hadir di jiwa seorang senator yang bernama M. Junius Brutus C. (mungkin dari sinilah oportunis lebih dikenal dengan istilah “brutus”). Ketika harga daging sapi melambung, sementara peternak hanya “melihat” saja, penulis yakin, ada yang bermain di situ, inipun bisa disebut sang oportunis alias brutus!  Ketika harga bawang berganti, anehnya, di dalam puluhan kontainer, sang brutus sedang tidur berkasurkan tumpukan bawang sambil menghitung laba atas spekulasi kebrutusannya. Ketika ada revolusi, reformasi, sampai pada gonjang-ganjing politik yang mutakhir sekarang, penulis kok yakin, tangan-tangan brutus sedang bermain di situ. Ketika di tahun ini dan akan datang akan ada perhelatan pilkades sampai pilpres, rasa-rasanya, oportunis sudah rampung mengatur segalanya.

 Dimusnahkan Atau Dilawan?

Kalau dilihat dari sejarah di atas, tidak ada secuilpun fenomena kesejarahan yang tidak beriringan dengan gaya oportunis ini. Dan sejarah pula membuktikan ekses dari permainan brutus ini selalu melahirkan peradaban baru. Menggejalanya rasa oportunis di sebagian kecil sahabat, pasca meninggalnya Roshululloh, melahirkan aliran-aliran baru. Tregedi Julius Caesar melahirkan terpinggirnya sistem politik militers diktator yang kemudian muncul pola pemerintahan republik. Revolusi hadir melahirkan orde baru. Orde baru ada, sebagai embrio lahirnya reformasi. Reformasi harus, maka munculah demokrasi, meski terkesan setengah-setengah.

Fenomena ini kalau dikorelasikan dengan pola fikir “genit” akan terbaca bahwa oportunis ternyata diperlukan juga, harus tetap hadir. Sama halnya dengan energi negatif, bagi yang mencintai kepositifan tentu merindukan kenegatifan untuk sparingpartner. Kegenitan pola fikir ini bukan berarti menjustifikasi kebenaran akan sesuatu yang jelek, tetapi lebih pada pensikapan akan realitas yang sebenanrnya. Maksudnya, nilai akibat tidak bisa dipisahkan dengan nilai sebab. Hukum klausul ini berlaku sepanjang jaman.

Jadi, mana yang lebih perlu? Dimusnahkan atau dilawan? Penulis lebih cenderung pada tidak pada dua-duanya. Analognya sederhana saja, ibarat virus H5N1, semakin merebak, karena adanya mutasi virus, karena telah ada gerakan pencegahan sebelumnya. Dan terbukti ada kecenderungan virus H5N1 ini akan melahirkan jenis virus yang lain.

Ajaibnya, energi kita tidak pernah buntu untuk menjawab rotasi ini. Bukankah ini bukti nyata akan kebenaran firman Tuhan? Bukankah ini yang dikatakan siap menjadi pengukir peradaban? Inilah yang dikatakan hidup telah berjalan.

OPORTUNIS

Tidak!

Aku ia

Bukan menusuk

Tapi menyelamatkan

Bukan! Masih tetap sama

Hanya pindah tempat

Remang-remang di kegelapan

Tanpa asap tanpa bau

Tertawa

Dengan sebegitu sadarnya

Berani-beraninya engkau membanting kontradiksi

Di hatimu

Berani-beraninya, seakan,

Padahal, belum tentu.

Terbanting-banting

di hatimu, Selalu

Berjalanlah dengan gaya itu

Zaman patut berterimakasih

Karena peradaban jadi silih berganti

Dan hati

Tetap putih

Kertonegoro, 27 Maret 2013

*Penulis adalah

Pemerhati Sosial dan Pendidikan

Berdomisili di Desa Kertonegoro – Jenggawah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: