Pakailah Yang Ada

Oleh : Agus Susanto*

Tahun lalu saya berkesempatan hadir didalam acara peresmian pabrik gula yang konon akan jadi terbesar se Asia Tenggara. Letak pabrik gula tersebut adalah di daerah Glenmore Genteng Banyuwangi. Sedianya Menteri BUMN Dahlan Iskan hadir meresmikan pabrik gula di Glenmore tersebut, tetapi karena ada acara mendadak, Menteri BUMN harus menghadiri acara bersama Presiden Republik Indonesia. Maka acara peresmian pabrik gula Glenmore harus mengalah.

Saya mencatat pidato Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang hari ini sedang giat-giatnya membangun Bumi Blambangan ini. Seolah tidak lelah untuk selalu memberikan review dari kegiatan membangun kota Banyuwangi, sampai sejarah Banyuwangi pun diselipkan didalam pidato beliau.

Pikiran saya menerawang jauh saat bupati Banyuwangi menjelaskan panjang lebar tentang apa yang sudah beliau lakukan untuk kota Banyuwangi, dari konsep agro industri, adanya Universitas Politeknik Negeri, tentang Rumah sakit rujukan pun dijelaskan detil. Membuat decak kagum pendengar yang hadir di acara tersebut. Saya juga mengangkat jempol tinggi-tinggi untuk semangat beliau.

Pada saat yang sama pula saya berbincang-bincang dengan beberapa teman pengusaha yang hadir disana. Ada beberapa catatan dari pengusaha yang kadang tidak sependapat dan tidak sama dengan apa yang diharapkan bupati Banyuwangi untuk perkembangan kota Banyuwangi. Ada yang berkata “Apa bisa semua mimpi untuk Banyuwangi ini akan terwujud?” Saya tersentak juga melihat ada ketidak percayaan dari warga Banyuwangi itu sendiri akan kotanya. Dijawab pula “kita ini bisa membangun,tapi sulit untuk bisa mempertahankan ya,” kata dia lagi.

Jujur saat pernyataan kita ini bisa membangun, tapi sulit untuk mempertahankannya dilontarkan, saya sependapat dengan dia. Hal yang sama juga terjadi didunia entrepreneur yang saya geluti sehari-hari. Untuk konsisten itu butuh pengorbanan yang sangat tinggi.

Sepanjang perjalanan pulang ke Jember sehabis acara peresmian pabrik gula dan memberi seminar entrepreneur di ponpes Darussalam di Blokagung, pikiran saya terus berputar-putar tentang dua pernyataan yang terpolarisasi,satu ke kutub utara satunya lagi ke kutub selatan.

Saya jadi ingat, hari-hari ini saya lagi pindahan tempat usaha musik saya, ke alamat yang baru. Setiap hari saya bersemangat ditempat yang baru, toko wallpaper dan toko bahan-bahan bangunan selalu masuk daftar yang wajib saya kunjungi untuk proses pembukaan toko musik dialamat yang baru. Program beli ini beli itu selalu saya catat di Galaxy note saya.

Saya juga langsung ingat kota saya tercinta Jember, saya berpikir kalau kota Banyuwangi yang hari ini lagi bekerja keras membangun kota untuk mewujudkan Banyuwangi Baru, dengan semangat yang baru pula. Jember sejujurnya sudah ada pabrik gula, universitas negeri, rumah sakit yang besar, agroindustri bahkan industri semen pun ada di Jember. Tambang emas, mangan, pasir besi juga ada di Jember. Tentang lapangan terbang? Wow, jujur ada juga di Jember.

Jadi apa yang tidak ada di Jember? Kalau Banyuwangi masih progres membangun mimpi sejuta dolarnya, Jember sudah dulu ada fasilitas itu.

Kembali ke tempat usaha saya. Saya putuskan untuk tidak membeli apa-apa sepulang dari Banyuwangi. Saya langsung ketempat usaha yang lama, saya lihat, saya bongkar-bongkar gudang, ternyata saya kembali tersentak keras! Bahkan sangat keras sekali, dalam bahasa musiknya adalah fff yang artinya fortissimo assai, sangat keras sekali!

Apa yang membuat saya tersentak keras? Ternyata barang-barang yang saya perlukan saat ini ditempat yang baru, sudah saya punyai lama di gudang penyimpanan saya. Bahkan ada beberapa barang yang masih didalam dusnya belum dibuka sama sekali. Akhirnya saya putuskan untuk memakai apa yang ada untuk proses tempat yang baru. Hasilnya? Luar biasa sekali. Tidak perlu mahal untuk sebuah proses yang baru, kalau kita semua mau melihat apa yang kita punyai dulu yang sedang teronggok tak berdaya di gudang-gudang kita. Manfaatkanlah itu.

Jangan sampai apa yang diprogreskan Banyuwangi Cuma ada di semangat awal saja. Jember yang sudah mempunyai fasilitas itu semua kadang juga bingung mau dibuat apa? Mau di bagaimanakan? Mau dilanjutkan? Mau di tambahkan? Dilebarkan? Mau apa?

Fasilitas stadion di Jember sudah ada sebenarnya, tinggal memoles lebih baik lagi. Fasilitas lapangan terbang di Jember sudah ada, tinggal menambah run way nya. Fasilitas rumah sakit di Jember sudah ada, tapi sangat ironis saya mendengar suara dari salah satu karyawan medical centre di Jember yang setiap hari tidak ada kegiatan yang dilakukan. Duduk dan duduk saja katanya. Fasilitas universitas Jember sudah luar biasa, ada perguruan tinggi negeri dan politeknik negeri yang hadir di Jember.

Beberapa waktu lalu Bank Indonesia melalui rekanannya mengadakan survei uang yang beredar di kalangan kampus. Hasilnya sekitar 15 Milyar uang beredar di daerah kampus dan uang itu habis setiap bulannya. Suatu survey yang sangat memberi harapan bagi siapa saja yang mendengarnya. Ajakan untuk segera membuat suatu kawasan pemukiman pondokan juga disuarakan di acara Bank Indonesia tersebut. Dari pada mahasiswa kerepotan mencari tempat mondok alangkah baiknya kalau pemondokan itu juga difasilitasi oleh perguruan tinggi yang ada. Juga ajakan untuk memakai tempat-tempat kantor pemerintahan yang cuma terpakai pada siang hari saja, untuk dimanfaatkan menjadi suatu kegiatan malam hari oleh mahasiswa disana. Daripada membangun suatu kawasan lagi, pakai saja yang sudah ada lebih maksimal.

Ayo saya mengajak baik warga Banyuwangi dan warga Jember, mari kita melihat kembali potensi-potensi kita. Apa-apa yang sudah ada, sudahkah kita manfaatkan sebaik mungkin? Atau malah jadi barang rongsokan tergeletak tak berarti di gudang-gudang kita?

Memang secara psikologis manusia itu punya kecenderungan akan hal-hal yang baru, spektakuler dan selalu bergerak maju. Tapi ingat lah apa-apa yang sudah ada dan yang sudah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita, baiknya juga kita hargai.

Tak terasa hampir dua jam saya tertidur di mobil yang saya tumpangi menuju Jember, bermimpi? Tidak juga, saya masih mendengar suara-suara klakson diluar sana. Saya masih mendengar suara dengkuran saya sendiri. Saya masih sadar didalam mimpi saya.

Saya tekadkan sekali lagi untuk memanfaatkan barang-barang lama yang sudah saya pernah beli, yang sudah sekian lama saya tinggalkan untuk saya akan pakai menjadi sesuatu yang berarti. Yang nantinya ditempat usaha yang baru akan ada banyak potensi-potensi terpendam yang re-new dan re-born lagi.

Menjadi juara satu itu mudah, tapi mempertahankan untuk selalu menjadi juara satu itu perlu pengorbanan terus menerus.

*Agus Susanto (Ketua Ikatan Pengusaha Jember, [email protected]com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: