Para Lovers, Tidak Ada Makan Siang Gratis!

Oleh : Akhmad Fauzi*

Ada yang menarik dari cerita Cak Nun di acara Kongkow Budaya, suatu komunitas diskusi yang dimiliki begawan puisi ini. Dari enam penguasa yang pernah dijelajahinya (Orla sampai SBY) tipologi gerakan saling mendukung (utamanya anak muda) selalu sama : “Gempita saat berada di luar, tetapi diam saat merasakan empuknya kursi”. Nuansa idealisme masih terus terbangun ketika kursi belum diduduki, begitu menggebu. Tetapi begitu sudah bersinggasana, hilang idealisme yang dibangun dengan susah payah itu. (penulis melihat cerita cak Nun ini di sebuah televisi pada malam Minggu, 19 April 014)

Teringat saya istilah panasbung dan panastak, akronim yang lahir dari gempita pemilu kali ini. Uniknya, kedua “panas” itu masih dalam posisi berebut, sama-sama di luar pagar kekuasaan. Sehingga bisa dibaca, gaya pelampiasannya terkesan tanpa ujung dan berakhir atau dalam istilah awam debat kusir. Kalau melihat pengalaman cak Nun di atas maka dapat diprediksi kelompok panas yang memenangkan kursi nanti akan menjadi anak manja bagi kekuasaan. Akan terdiam seribu basa meski sang penguasa nyata-nyata salah. Akan tetap mengikuti langkah penguasa yang didukungnya. Ada benarnya juga, saya masih ingat bagaimana Sri Mulyani dan Anggito Abimanyu menghajar tim ekonomi B.J Habibie di saat-saat masa akhir lengsernya presiden ke tiga ini. Bagaimana akhir ceritanya? Perjalanan selanjutnya kedua penghajar itupun kini terseok-seok dihajar juga!

Inikah prototipe politik yang akan dibangun di negeri ini? Nelangsa kalau jawabnya adalah “iya”. Panabung dan panastak adalah pion yang diremot oleh arus, maka warna aruslah yang lebih dominan dalam setiap hentakan langkah pion itu. Pertanyaannya, ketika arus nanti memenangi perebutan lantas terjadi perkritisan demi pengkritisan, kemudian sang arus kembali keluar pagar kekuasaan, akan lari kemana nasib pion itu?

Benar jika kebenaran sulit untuk ditangkap, karena gema suara pion-pion itu tidak mau ramah dengan indikator kebenaran. Ukuran bakunya adalah pesanan arus, dengan target jelas, yaitu “yang melawan arus”. Semoga pembaca bisa meruntut hasil akhir dari semua ini, yaitu : awam menjadi objek bulan-bulanan permainan arus, dan arus itu jelas bukan orang yang berkantong tipis, juga buka yang tanpa pamrih, pun juga bukan malaikat, karena bisa jadi arus itu adalah korban arus sebelumnya yang telah bertekad untuk membalas arus yang telah mengalahkannya…!

Ironis, negara sebesar ini harus di remote oleh segelintir kepentingan (arus), sementara rakyat terdiam saja hanya menjadi peran pembantu atau malah figuran. Benarkah ini karena “kelapangan tanpa arus” dan “kelegaan dalam mengalah” telah mati? Atau karakter itu telah disandera oleh mimpi-mimpi? Atau memang sejatinya negeri kita tidak pernah ada arus yang berisi nafas kelapangan, kelegaan, kemaafan, keramahan yang membumi! Atau arus itu telah terbeli oleh arus baru buatan luar negeri…!!!

Jika ia, segera bangun kesadaran awam untuk mengetahui efek akibat permainan arus ini. Awam harus dibiasakan ketika ada jalan umum yang tiba-tiba ditutup karena melawan arus. Awam harus rela tidak tersapa pembangunan karena mencibir arus. Juga, akan dibuka lebar-lebar lowongan nasbung dan nastak sekuat otak dan receh sang pemilik arus. Dan, jangan bermimpi di setiap jamannya ada satria yang pantas untuk dipuja! Sadarlah para punggawa negeri, para cantrik, para pemikir, penceramah, dan motivator…, anda sedang dalam bidikan terkaman arus untuk dibungkus menjadi pasukan khusus khas pemilik arus!

Benar-benar tidak ada makan siang gratis, benar-benar sejarah tidak pernah berganti, melainkan hanya berulang… (*)

Kertonegoro, 22 April 014

Catatan :

Tulisan ini terinspirasi dari perang opini yang sekarang sedang marak untuk saling mendukung calonnya, simbol realitas warna wacana.

Ilustrasi : www.sesawi.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: