Paradigma Baru Transisi kepemimpinan Pondok Pesantren

Paradigma Baru Transisi kepemimpinan Pondok Pesantren

Oleh: Iqbal Kholidi*

Kiai memiliki kedudukan yang sangat penting dalam menentukan masa depan lembaganya. Tidak sedikit pondok pesantren stagnan karena pimpinannya tidak cakap dalam mengelola pondok pesantren tersebut, bahkan yang lebih ironis ketidakmampuan mensinergikan potensi-potensi di internal pondok pesantren bisa berdampak konflik bahkan perpecahan lembaga pondok pesantren, yang berujung pada kemunduran atau bubarnya pondok pesantren tersebut.

Dalam dunia pondok pesantren di tengah-tengah antara kiai, santri dan alumni terdapat golongan kaum muda pondok pesantren, mereka adalah putra-putra kiai yang secara tradisi kelak bisa jadi meneruskan kepemimpinan sang kiai. Dalam dunia pondok pesantren kultur Jawa mereka di kenal akrab dengan panggilan Gus atau Mas, dan di kultur Madura mereka di kenal dengan istilah Lora.

Bagaimana bila sang kiai tidak memiliki putra? Dan siapakah yang akan meneruskan bila pondok pesantren tersebut menganut model kepemimpinan kolektif? Dan apakah tradisi transisi yang demikian (keturunan langsung/sedarah) ini mampu melahirkan penerus yang handal yang mampu menghadapi tantangan zaman dan mampu bersaing membawa pondok pesantrennya lebih maju?. Untuk itu di perlukan sebuah paradigma baru transisi kepemimpinan di pondok pesantren.

Di dalam dunia pesantren ada beberapa model kepemimpinan, yang pertama adalah  kepemimpinan tunggal, biasanya ini terdapat pada pondok pesantren yang baru berdiri (generasi pertama) atau pondok pesantren yang didirikan atas inisiatif perseorangan. Sang kiai inilah yang mengajar santri-santri sekaligus pemilik pesantren. Keseluruhan proses belajar mengajar di pesantren bersumber pada kiai. Dalam perkembangannya, walaupun menggunakan kepemimpinan tunggal, bukan berarti tidak ada yang membantu tugas-tugas kiai, biasanya di pesantren di bentuk organisasi kepengurusan santri yang di rekrut dari santri-santri senior dan di tunjuk seorang kepala kepengurusan.

Kelebihan dari model kepemimpinan tunggal ini adalah bahwa kiai dan santri dapat berkomunikasi secara intens, begitu juga para alumni, walisantri dan simpatisan pesantren dalam berhubungan dengan sang kiai. Inilah yang kemudian secara logis menjadikan dan mengukuhkan model kepemimpinan tunggal bersifat kharismatik. sistem kepemimpinan tunggal ini berdampak santri menjadi fanatik kepada sang kiai, karena keilmuannya di dapat hanya bersumber pada satu orang atau satu sumber.

Yang kedua adalah model kepemimpinan kolektif yang pada dasarnya adalah merupakan perkembangan lebih lanjut dari kepemimpinan tunggal sesuai dengan perubahan dan tuntutan zaman. Kepemimpinan kolektif terbagi menjadi dua: (1) kepemimpinan kolektif non-struktural sebagai respon kebutuhan pengajar dan (2) kepemimpinan kolektif struktural sebagai akibat logis dibentuknya organisasi kepemimpinan pesantren.

Kepemimpinan kolektif non struktural biasanya terjadi ketika santri melebihi kapasitas, kemudian kiai mengangkat anak atau saudara dalam lingkup keluarga dan santri senior untuk membantu melakukan pengajaran kepada para santri yang lebih muda. Dalam kepemimpinan kolektif non struktural, kewenangan dan kebijakan pesantren tetap di pegang oleh kiai. Dengan demikian, pada hakikatnya kepemimpinan kolektif non-struktural merupakan model kepemimpinan tunggal yang di perluas. Biasanya model kepemimpinan kolektif non struktural terdapat di pondok pesantren yang memasuki penerus generasi ke dua dan pondok pesantren dimiliki oleh sebuah keluarga besar.

Kepemimpinan kolektif yang lain adalah model kepemimpinan kolektif struktural yang terdiri dari struktur-struktur yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan pondok pesantren per bidang, seperti bidang peribadatan, bidang pendidikan pesantren, bidang hubungan masyarakat dan alumni, bidang pendidikan formal, bidang pengembangan ekonomi. Model kepemimpinan struktural ini biasanya terdapat di pondok pesantren yang sudah lama berdiri dan secara manajemen sudah matang. Akan tetapi mayoritas pondok pesantren mengacu pada model kepemimpinan tunggal dan kepemimpinan kolektif non-struktural. Sementara yang modelkepemimpinan kolektif struktural masih sedikit sekali. Kalaupun ada hanya formalitas struktural saja, dalam prakteknya kepemimpinan masih sentralistis.

Ada sebuah kejadian di salah satu pondok pesantren. Pondok pesantren ini telah mengalami beberapa kali pergantian pucuk pimpinan (pengasuh) karena wafat, pada suatu ketika, ketika pengasuh pesantren wafat beliau tidak memiliki keturunan laki-laki dan hanya memiliki seorang menantu laki-laki. Sementara itu tradisi peralihan pucuk kepemimpinan pesantren ini berpedoman teguh keturunan sedarah  (nasab), padahal sang menantu sudah lama berkiprah dan berkhidmat di pesantren membantu sang mertua, banyak capaian prestasi yang di lakukan sang menantu sehingga banyak mendapat apresiasi, relasinya juga luas. Akibat dari tradisi itu, ketika pengasuh pesantren ini wafat, kepemimpinan diteruskan kepada adik pengasuh. Bukan kepada sang menantu.  Padahal sang adik selama ini tidak pernah memiliki aktifitas di pesantren itu.

Sementara pesantren-pesantren yang lainnya sudah di pimpin oleh generasi di zamannya, sedangkan pesantren “legendaris” itu masih di pimpin oleh seseorang yang segenerasi dengan pendahulunya. Akhirnya dalam perjalanannya banyak mengalami ketertinggalan dibanding pesantren-pesantren yang lain bahkan la yamutu wala yahya (tidak mati tidak pula eksis). Sang menantu memilih merintis lembaga sendiri dan hanya dalam kurun waktu 10 tahun, pesantren baru ini jauh lebih berkembang dan maju di banding pesantren yang lama yang di tinggalkan sang menantu. Banyak kejadian seperti ini terjadi di pelosok daerah, sebenarnya tidak perlu terjadi asalkan adanya kesadaran yang tinggi akan keberlangsungan masa depan pesantren dengan mengesampingkan ego nasab. “Seleksi alam” pesantren sebenarnya telah menampakkan mana sosok yang memiliki integritas, kualitas intelektual, spiritual, loyalitas dan yang paling antusias diantara lapisan pesantren dalam memajukan lembaga, hanya di perlukan keberanian untuk ijma’ (konsensus) diantara pemilik “saham” pondok pesantren untuk menetapkan siapa yang akan memimpin. Bukan menyerahkan sepenuhnya kepada tradisi.

Orang bijak mengatakan keberhasilan seorang pemimpin organisasi bukanlah hanya persoalan bagaimana ia mampu membawa organisasinya berkembang maju, akan tetapi bagaimana ia mampu menyiapkan dan melahirkan kader-kader yang bermutu yang mampu mengemban perjuangan di masa yang akan datang. Apalah artinya jika sebuah lembaga itu maju akan tetapi hanya seumur pemimpinnya. Wallahu a’lam (*)

*Iqbal Kholidi tinggal di Twitter @iqblack_kholidi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: