Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Pembangunan Ekonomi

arum sabilOleh : HM. Arum Sabil

Pada bulan Januari 2013 ini usia Nahdlatul Ulama sudah sekitar 87 Tahun, karena NU lahir pada tanggal 31 Januari 1926 / 16 Rajab 1344 H.    Dalam sejarah dikenal ada tiga embrio berdirinya NU yaitu 1. Nahdlatut Tujjar, 2. Taswirul Afkar, 3. Nahdlatul Wuthon. Nadlatut Tujjar (kebangkitan pengusaha) sebagai organisasi yang ikut serta berperan dalam dakwah Islam memiliki pengaruh yang sangat berarti dalam melakukan perubahan kondisi masyarakat. Terbukti bahwa Islam di dunia ini berkembang luas tidak hanya diperankan oleh kalangan Ulama,  Kholifah, Raja, atau penguasa pemerintahan saja, tapi para pelaku ekonomi, petani, pedagang, nelayan, dan para saudagar kaya juga memiliki peran signifikan dalam gerakan dakwah Islam.

Karena yang  menjadi motivator berdirinya NU adalah adanya Nahdlatut al-tujjar (kebangkitan para saudagar), yang menginkan pengembangan dan kemajuan ekonomi dalam berbagai bidang, maka dalam tulisan ini dan untuk memperingati Harlah NU ke 87, penulis akan memaparkan tulisan pemanfaatan sumber daya alam, sesuai dengan bidang penulis dalam kepengurusan di Pengurus Besar Lembaga Pengembangan Pertanian NU (PB.LPPNU).

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam telah mengumandangkan bahwa langit, bumi dan seisinya diciptakan untuk menjadi sarana hidup manusia. Dalam surat Al-Baqarah :22 Allah Swt berfirman “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”.

Demikian pula dalam memahami realitas di sekitar kita, logika kita juga mengatakan bahwa binatang dan tumbuhan juga diciptakan Allah untuk manusia. Pernahkah kita berfikir kenapa pohon mangga berbuah sebanyak itu? untuk dirinya sendiri atau untuk siapa? kalau hanya untuk kepentingan pohon mangga itu sendiri, misalnya untuk menyambung kehidupannya, agaknya tidak perlu berbuah sebegitu banyak. Kenapa dia harus berbuah ratusan?

Bahkan bukan hanya dari jumlah, jenisnya juga banyak yang  masing-masing memiliki rasa yang berbeda. Kalau untuk keperluan binatang, misalnya codot, kenapa harus sebanyak itu? Berapa banyak codot yang memakan buah mangga? Jawabannya tentu semua itu untuk kepentingan ekonomi manusia.

Bukan hanya buah-buahan, tanaman demikian banyak ragamnya, ada sayuran, ada kayu-kayuan, ada obat-obatan, ada tanaman hias, ada tanaman pardu, ada tanaman hama, ada tanaman penghasil biji-bijian, dan ribuan atau jutaan lagi jenis yang tersebar di seantero dunia, semua tidak lain diciptakan Allah untuk kesenangan dan keperluan manusia.

Begitu pula dengan binatang, pernahkah kita mengamati sapi perah? Dan pernahkah kita juga bertanya untuk apa dan untuk siapa sapi perah itu menghasilkan susu sedemikian banyak. Kalau hanya untuk anaknya, pasti tidak perlu sedemikian banyak. Anak sapi hanya butuh sedikit saja setiap harinya dan itupun ketika ia masih kecil. Dan ketika ia sudah dewasa, ia tidak butuh lagi susu dari induknya.

Namun toh demikian, produksi susu sapi perah itu berjalan terus. Sekali lagi tidak ada jawaban lain dalam kasus ini, jawabannya hanya satu: semua diciptakan Allah untuk manusia supaya manusia memperoleh minuman bergizi, supaya mendirikan pabrik susu, dan muncul lapangan pekerjaan baru untuk menunjang kehidupan ekonomi mereka.

Sebagaimana yang telah diuraikan diatas, bahwa langit, bumi dan seisinya diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia, maka selanjutnya Allah mengutus manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi yaitu sebagai penghuni yang menggarapnya untuk memakmurkannya. Dengan demikian hubungan antara manusia dengan bumi dan seisinya bukan hubungan antara penakluk dan yang ditaklukkan. Akan tetapi sebatas hubungan pemanfaatan di bawah ketundukan kepada kehendak Allah SWT sebagai penciptanya.

Pemanfaatan yang dimaksud harus mematuhi aturan dan norma-norma yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai pencipta manusia dan bumi yang ditempatinya. Pemanfaatan yang tidak mengindahkan aturan-aturan tersebut merupakan suatu pelanggaran yang diancam oleh Allah dengan adzab yang akan ditimpakan, baik ketika di dunia atau di akhirat.

Di dalam surat Al-Baqarah ayat 21 Allah berfirman: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa.”

Ayat ini mengisyaratkan bahwa sebelum Allah menciptakan kita, Allah telah menciptakan orang-orang sebelum kita. Dengan demikian dapat dipahami bahwa Allah akan menciptakan lagi orang-orang di belakang kita. Apabila orang-orang terdahulu telah menyisakan bumi dan seisinya untuk kepentingan kita, apakah kita akan menghabisinya dan tidak menyisakan untuk orang-orang dibelakang kita ?

Dari sini dapat kita ketahui bahwa Allah menghendaki adanya pemanfaatan secara berkesinambungan dari jagat raya ini untuk kepentingan manusia. Berdasarkan itu, pemanfaatan yang diajarkan oleh Islam adalah pemanfaatan yang diikuti dengan pelestarian, pengelolaan yang baik, penghematan dan tidak mengurasnya.

Dalam kaidah fiqih dikenal suatu ungkapan yang menyatakan ad-dhararu yuzalu (segala sesuatu yang membahayakan harus dihilangkan). Dari kaidah ini dapat dipahami bahwa Islam menolak melakukan kerusakan apapun terhadap manusia yang menimpa dirinya atau orang lain. Dengan demikian, segala bentuk pemanfaatan terhadap bumi dan seisinya yang menyebabkan kerusakan yang pada gilirannya tidak dapat lagi dimanfaatkan dengan baik oleh dirinya sendiri ataupun orang lain, dipandang sebagai pengingkaran terhadap nikmat Allah yang telah menganugerahkan bumi dan seisinya untuk kepentingan manusia

Sedangkan penyalahgunaan sumber-sumber alam yang dapat menimbulkan kerusakan dapat digambarkan sebagai berikut:

–         Perusakan dan pembinasaan terhadap tanah pertanian

–         Pengurasan dan pencemaran sumber-sumber air

–         Pengurasan hasil-hasil tambang

–         Penggundulan dan pembakaran hutan-hutan

–         Tidak adanya perlindungan terhadap binatang –binatang darat

–         Pembangunan kota dan pemukiman tidak pada tempat yang cocok

–         Pencemaran udara dengan berbagai cara

–         Pemusnahan tempat-tempat rekreasi yang bagus

–         Dll

 

Peternakan Dan Pertanian

Sesuai dengan paradigma baru di era perdagangan bebas ini, telah ditetapkan visi Pembangunan Peternakan “Mewujudkan Masyarakat peternakan yang tangguh dan berwawasan industri Global. Untuk mewujudkan visi tersebut menjadi suatu kenyataan, maka harus memberdayakan masyarakat peternakan dengan mengubah pola usaha peternakan tradisional, menjadi pola usaha peternakan bisnis, dan mengembangkan produk-produk unggulan yang berdaya saing menghadapi pasar global. Oleh karena itu kami uraikan tentang beberapa aktifitas dan manfaat peternakan.

Aktifitas Peternakan

a. Pengadaan makanan ternak

Hijauan makanan ternak bisa didapat dari lahan yang diolah sendiri. Konsentrat yang digunakan diperoleh dengan cara mencampur sendiri dengan menggunakan bahan baku yang mudah di peroleh dan harganya terjangkau

b. Pembibitan penghijauan makanan ternak yang dilakukan meliputi Rumput Raja, Rumput Gajah, Rumput Lampung, Rumput Taiwan, Rumput Gamal, Setaria, Daun pohon-pohanan, Pennisetum Purpureum .

c. Pemiliharaan ternak dan pengadaan makanan ternak  meliputi :

    – Pemberian pakan

    – Kebersihan kandang

    – Pencatatan produksi dan reproduksi ternak

    – Penanganan kesehatan ternak

    – Pemeliharaan sanitasi lingkungan

    – Peningkatan produksi dan reproduksi ternak

    – Pengolahan limbah

    – Penanganan paska panen

    – Perencanaan pengembangan

d. Limbah ternak diolah kembali dengan fasilitas pengolah limbah. Limbah juga digunakan sebagai penyubur tanaman atau pupuk pertanian

e. Limbah ternak juga dapat berfungsi sebagai bio gas atau energi listrik, yang bermanfaat bagi kegiatan rumah tangga.

Dalam konteks peternakan dan pertanian, keduanya memiliki hubungan timbal balik yang amat erat, karena produksi peternakan juga bermanfaat kepada pertanian, dan produksi pertanian juga bermanfaat pada peternakan.

Lingkungan Hidup

Kerusakan lingkungan telah terjadi di berbagai wilayah Indonesia, seperti hutan gundul, tanah longsor, banjir, pencemaran air dan udara, kepunahan tumbuhan dan satwa. Serta perubahan iklim yang mengancam kelangsungan hidup manusia dan menurunkan kualitas lingkungan. Hal ini akibat perbuatan sebagian manusia.

Oleh karena itu harus disadari bahwa kerusakan tersebut mengakibatkan keseimbangan alam terganggu yang pada gilirannya mengancam berbagai proses alam yang mendukung kehidupan saat ini dan masa depan. Sehingga perlu upaya nyata dan berkesinambungan guna menghambat laju kerusakan alam, memulihkan yang rusak, dan melindungi yang tersisa. Sebab, pada hakikatnya alam adalah anugerah dan amanat Allah SWT, yang wajib dipelihara, dikelola, dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan hidup bersama.

Kemaslahatan generasi mendatang sangat tergantung pada kearifan kita dalam mengelola sumber daya alam saat ini. Bila kita mewariskan alam yang rusak berarti kita merampas hak generasi mendatang untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan hidup mereka. Al Qur’an surat an-Nisa’ : 9 mengingatkan :

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (An-Nisa’ :9)”.

Ayat tersebut memberikan spirit kepada kita untuk terus membangun ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada dengan sebaik-baiknya. Semoga bermanfaat. (*)

 HM. Arum Sabil adalah Pengurus Besar Lembaga Pengembangan Pertanian NU (PB LPPNU)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: