Pentingnya Kejujuran dan Keikhlasan

Oleh : Gugun ‘Gugi’ Ginanjar*

Hari sudah senja, sebentar lagi malam menjelang, saya memutuskan untuk pulang setelah seharian berdagang kue di toko. Ketika perjalanan pulang menggunakan motor kesayangan, sehabis berdagang kue buatan istri tersayang, tampaklah seorang Nenek terduduk disisi jalan melepas lelah. Disebelahnya tergeletak setumpuk kayu bakar dan sekantong plastik penuh botol minuman bekas.

Karena rasa iba saya berhenti untuk menepi dan memberikan kue dagangan yang rencanaku bawa pulang karena belum terjual. ”Nenek, saya punya kue untuk Nenek, lumayan buat cemilan dirumah,” ucap saya membuka percakapan seraya memberikan sekantong plastik kue dagangan.

Tampak setengah terkejut dan ragu sang nenek menerima pemberian saya ”terima kasih nak, tapi saya tidak punya uang untuk membeli kue ini,” kata sang Nenek. Saya tersenyum dan kemudian berkata, ”gak papa nek, saya ikhlas memberi kue ini, mudah-mudahan bisa buat perut Nenek kenyang.”

Sang Nenek dengan polos dia bercerita bahwa dari pagi belum makan, karena tidak ada makanan untuk dimasak dirumahnya. Untuk membeli kebutuhan sehari-hari untuk memasak dirumah beliau, harus mencari kayu bakar dan barang-barang bekas untuk dijual ke pengepul barang rongsokan. Aku mengikuti sambil menerawang wajah tua nenek itu dengan seksama.

Dan tampaknya hari ini sang nenek baru selesai mencari kayu bakar dan barang rongsokan sehingga belum sempat untuk makan. Dia juga bercerita kalau hidup sebatang kara setelah suaminya meninggal dunia 5 tahun yang lalu. Tidak tampak kesedihan yang berlebihan di wajahnya saat menceritakan hal itu. Hanya tersirat keikhlasan yang dalam dari tutur katanya

Terdiam mendengar ceritanya mata saya tidak sengaja melihat ada selembar uang 50ribuan tergeletak tidak jauh dari tempat kami mengobrol. ”itu uang nenek jatuh? ” tanyaku kepada Nenek. “Bukan, kalo saya punya uang sebesar itu saya tidak perlu mencari kayu bakar dan barang bekas untuk dijual hari ini,” jawab Nenek sambil tersenyum. ”Saya juga tidak mau mengambil uang itu karena bukan hak saya, dosa nak,” ujarnya jujur.

Subhanallah, dengan kondisi lapar dan tidak punya uang si Nenek tidak mau mengambil uang yang terjatuh di jalan dengan alasan takut dosa karena mengambil yang bukan haknya, kejujuran yang patut kita hargai, belum lagi keikhlasan dalam menjalani hidup dengan segala keterbatasan. Mungkin inilah yang membuatnya tampak tetap sehat diusianya seperti sekarang ini, jujur dan ikhlas.

“Jujur… jujur… jujur, biar hidup lo ga’ ancur.” Sepotong dialog almarhum Benyamin Sueb yang memberi nasihat si Doel dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, tampaknya terbukti nyata dengan kejadian ini.

Sejurus kemudian sebuah motor berhenti di tempat uang tersebut tergeletak. Tanpa membuka helm si pengendara motor setengah berteriak dan berkata, ”Mas, ini uang situ bukan? ”

”Bukan,” jawab saya singkat. Tanpa berkata apa-apa lagi si pengendara motor mengambil uang itu dan pergi meninggalkan kami dengan debu dan asap motornya. Kulihat si nenek hanya tersenyum menyaksikan kejadian tersebut.

”Iya sudah Nek, mari saya antar kerumah Nenek, sekalian saya pulang,” ujarku kepada Nenek. ”Terima kasih Nak, tidak perlu. Gubuk saya sudah dekat,” kata Nenek itu.

Yakin dengan ajakan saya tidak akan dipenuhi oleh sang nenek saya pun pamit dan berlalu. Dalam perjalanan kembali saya termenung, hari ini kembali saya diingatkan bahwa kejujuran dan keikhlasan adalah sebuah sikap yang patut kita jaga dalam kondisi apapun apabila kita tidak ingin hidup kita hancur, seperti yang diucapkan Benyamin Sueb kepada si Doel. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: