Peringati HSN, Ribuan Santri di Jember Gelar Apel Bersama dan Kirab

Jember, (titik0km.com) – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke 5 tahun 2019, ribuan santri dari berbagai kecamatan di Jember menggelar Upacara di Alun-Alun Jember dan Kirab Santri, selain diikuti oleh santri, peringatan HSN ini juga diikuti oleh ratusan pendekar dari perguruan Pagar Nusa.

“Peringatan Hari Santri kali ini, akan dimeriahkan dengan 32 event besar yang dipersembahkan Pemkab Jember kepada Santri, untuk kemajuan dan perkembangan santri itu sendiri, beberapa diantaranya kado Pemkab Jember yang dipersembahkan untuk santri, yakni beasiswa santri dan juga beberapa event yang dikemas dengan Festival Santri,” ujar Wakil Bupati Jember Drs. KH. Abdul Muqit Arief selaku inspektur upacara Hari Santri Nasional di Kabupaten Jember.

Berbicara Santri, Wakil Bupati yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Silo ini mengatakan, bawah keberadaan santri tidak lepas dari salah satu lembaga yang cukup berperan dalam perkembangannya, yakni keberadaan Pondok Pesantren yang sekaligus sebagai ‘laboratorium’ untuk ‘menggodok’ mental dan pendidikan Santri.

“Pesantren itu ibaratnya sebagai laboratorium atau tempat untuk menggodok mental santri sebelum terjun ke tengah-tengah masyarakat, seperti kita ketahui, bagaimana santri selama tinggal di pesantren, mereka harus melakukan segalanya sendiri, mulai dari memasak hingga mencuci baju, sehingga dalam jiwanya terpupuk jiwa santri yang menumbuhkan kesadaran harmoni perdamaian, kenapa? Karena mereka akan melakukan semua aktivitasnya secara bersama-sama dengan santri lainnya,” beber Wabup.

Hal ini oleh Wabup, dibuktikan dengan kecintaan santri terhadap tanah air tidak pernah pudar, karena ada konsep yang selalu dipegang teguh, yakni hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air sebagian dari iman. Kemudian metode mengaji dan mengkaji, dan santri juga diajarkan untuk khidmah (pengabdian) yang merupakan prinsip loyalitas santri yang dibingkai dalam etika beragama.

Selain itu, santri juga mendapat pendidikan kemandirian dan gerakan komunitas seperti sastra kesenian yang tumbuh subur di pesantren. Dari pesantren juga muncul tradisi diskusi dan dialog yang merupakan ruh dari demokrasi. Tak kalah pentingnya pula, dari pesantren juga muncul khazanah kearifan lokal yang menjadi ruang kondusif untuk menjaga lokalitas di tengah arus jaman yang semakin pragmatis.

“Di Pesantren juga melahirkan prinsip mashlahat (kepentingan umum) yang merupakan sebuah pegangan wajib santri, dan yang terakhir pesantren merupakan lembaga penanaman spiritual, bukan sekedar soal fiqih saja, melainkan banyak pula yang melatih untuk tazkiatunnafs atau proses pembersihan hati,” pungkas Wakil Bupati Jember. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: