Pilihan Profesi

Swandono Oleh: Suwandono

Banyak orang memiliki kesempatan memilih jenis profesi yang akan ditekuninya, namun banyak pula yang tidak memiliki kesempatan memilih, profesi itu seolah melekat dengan sendirinya sejalan merambatnya waktu. Kelompok yang memiliki kesempatan memilih adalah orang-orang yang memiliki persiapan atau rencana untuk menata masa depannya, sedangkan kelompok yang tidak berkesempatan memilih adalah orang-orang yang tidak melakukan persiapan dengan baik, kalaulah ia memiliki rencana namun tidak diikuti dengan langkah nyata untuk mendukung rencananya itu.

Dalam bahasa sederhana, Profesi sering diartikan sebagai cara mencari nafkah atau jenis pekerjaan yang ditekuni seseorang. Saya lebih suka mengartikan profesi sebagai kendaraan untuk mencari uang, karena Profesi apa pun yang dipilih tentu memiliki tujuan mencari uang/nafkah. Memang ada pula tujuan lain yang mengikuti sebuah profesi, misalnya niat membantu orang lain, kepuasan jiwa, berbagi ilmu dan lain sebagainya, namun tujuan memperoleh penghasilan/uang tetaplah menjadi tujuan utama.

Jika tujuannya mencari uang, maka saya berkesimpulan bahwa semua orang menjalani profesinya dengan tujuan untuk menjadi kaya. Karena setiap orang tentu ingin memperoleh uang sebanyak-banyaknya (dengan cara positif).

Dalawork-spiritm pemilihan profesi dan dihubungkan dengan tujuan menjadi kaya, ada data statistik yang menarik dari sebuah buku yang pernah saya baca. Data itu menyebut: dari 100 orang kaya, 74% berprofesi sebagai Pengusaha/wiraswasta, 10% berprofesi Profesional, 10% Karyawan (Top CEO), 6% lain-lain.

Dari data statistik itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa semua pilihan profesi memiliki peluang terwujudnya tujuan menjadi kaya. Pengusaha bisa kaya, para professional dan karyawan juga bisa kaya, bahkan orang-orang yang profesinya tidak jelas pun juga tetap memiliki peluang untuk menjadi kaya.

 Hanya saja prosentase kemungkinan berhasilnya tujuan itu yang berbeda. Jika prosentase keberhasilannya (menjadi kaya) kecil, maka orang-orang yang memilih profesi itu akan banyak yang tidak berhasil kaya, meskipun belum tentu dapat disebut miskin. Demikian pula jika memilih profesi yang peluang keberhasilan menjadi kaya amat besar, maka banyak orang dalam profesi itu yang akan menjadi kaya, meski tidak sedikit pula yang hidupnya pas-pasan atau bahkan jatuh bangkrut.

Terdapat perbedaan angka prosentase yang mencolok antara profesi Pengusaha (businessman) dengan profesi lainnya. Data ini memberi pesan pada kita bahwa jika kita ingin memiliki peluang besar menjadi kaya maka pilihan profesi sebagai Pengusaha/wiraswasta adalah pilihan terbaik.

Sebagai Karyawan/Pegawai memang tetap memberi peluang untuk kaya, namun peluangnya tidaklah terlalu besar (hanya 10%). Karyawan yang masuk kelompok 10% itu adalah karyawan yang hebat dan secepat mungkin menjadi top executive, sehingga memperoleh gaji amat besar dan memiliki peluang untuk membeli saham di perusahaan tempatnya bekerja atau membuka usaha di luar profesinya sebagai faktor kali untuk menambah kecepatan keberhasilan.

414453_profesiJika mengacu pada data statistik yang telah saya sebutkan, saya ingin mengajak pembaca untuk menaruh perhatian lebih pada pilihan profesi Pengusaha/ Wirausahawan. Jika seseorang telah terlanjur berprofesi sebagai Profesional atau Pegawai, maka bukanlah hal yang salah jika menyisihkan sebagian energinya untuk mencoba mencari celah agar dapat memiliki profesi ganda, sebagai Pegawai sekaligus Pengusaha. Atau jika hal itu tidak mungkin dilakukan, minimal dapat mengarahkan dan menyiapkan anak-anaknya untuk nantinya memilih profesi itu.

Selain memberi peluang paling besar menjadi kaya, memilih profesi Pengusaha minimal tidak menambah jumlah pencari kerja yang kian hari kian menggunung dan tak sebanding dengan lapangan kerja yang tersedia. Suatu fakta yang tak bisa dipungkiri adalah Negara akan menjadi maju jika jumlah penduduk yang berprofesi sebagai Wirausahawan (entrepreneur) cukup tinggi. Sebagai perbandingan, jumlah Wirausahawan/Pengusaha di Amerika Serikat sebesar 12% dari total penduduknya, China dan Jepang 10%, Singapura 7%, dan Indonesia kurang dari 2%. Data ini memberi pesan pada kita, jika kita memilih profesi Pengusaha berarti kita turut berperan untuk membuat Negara kita lebih cepat maju.

Jika saya membuat uraian perbandingan antara profesi Pegawai dan Pengusaha, yang menyangkut kelebihan dan kekurangannya, maka seluruh halaman web ini akan penuh dengan tulisan saya, namun saya akan uraikan satu hal prinsip yang membedakan kedua profesi itu, yakni menyangkut prediksi masa depannya.

Jika berprofesi sebagai Pegawai, sebenarnya apa yang akan diperoleh di masa depan atau akan finish pada posisi apa nantinya, telah dapat dihitung secara matematis di depan. Suatu misal, di usia 25 tahun menjadi Pegawai Negeri dengan gaji awal Rp. 2.000.000,- per bulan, lalu asumsikan setiap tahun memperoleh prestasi dan kenaikan gaji, maka hingga tiba masa pensiun sudah dapat dihitung total pendapatannya, yg berarti pula sudah dapat diprediksi hidup si Pegawai Negeri itu akan seperti apa. Jika tidak ada sumber pendapatan lain atau ada terobosan/lompatan yang luar biasa, maka otomatis si Pegawai Negeri itu tidak akan mencapai tujuan menjadi Kaya.

Namun, Saya pernah ditanya oleh seorang kawan, mengapa para Pegawai Negeri yang menduduki jabatan-jabatan strategis dapat menjadi kaya padahal struktur gaji mereka tidak memungkinkan untuk itu dan mereka tidak mempunyai usaha lain? Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan tegas, saya hanya menjawab “itulah keajaiban di Indonesia”. Karena logika positif saya tidak mampu menemukan jawabannya, meski telah saya paksa berpikir keras. Mungkin pembaca Koran ini lebih memiliki jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu.

Sebaliknya, jika memilih profesi Pengusaha, maka apa yang akan terjadi di kemudian hari tidak dapat dihitung secara matematis di depan, karena sangat tergantung pada bagaimana ia berusaha. Jika usahanya berjalan lancar dan mengalami pertumbuhan hebat maka dalam waktu singkat ia bisa menjadi kaya raya, demikian pula sebaliknya ia bisa jatuh miskin jika tidak menjalankan usahanya dengan baik dan penuh kehati-hatian.

professionJika saya harus memilih, masa depan yang sudah dapat dihitung secara matematis di depan atau masa depan yang memberi peluang untuk menjadi kaya raya (meski ada resiko menjadi miskin), maka saya akan memilih masa depan yang memberi peluang kaya raya. Karena hidup saya tentu akan lebih bersemangat dan berwarna dari pada sekedar menghabiskan umur untuk sesuatu yang sudah pasti/ sudah dapat diprediksi hasil akhirnya.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa rejeki itu datangnya dari Tuhan. Saya sangat setuju dengan pendapat itu, namun seyogyanya kita menyiapkan wadah yang besar untuk dapat menampung curahan rejeki/ berkah dari Tuhan itu. Dalam konteks ini, profesi sebagai Wirausahawan/ Pengusaha jauh lebih memungkinkan untuk menyiapkan wadah yang besar dibandingkan dengan profesi lainnya.

Besar harapan saya, tulisan ringan ini dapat menambah motivasi pembaca yang budiman untuk berani melangkah sebagai wirausahawan, atau minimal berkenan menyisihkan sedikit energi yang dimiliki untuk menaruh perhatian lebih pada bidang kewirausahaan. Semoga.

Suwandono aalah seorang motivator dan penulis novel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: