Produksi Gula 2014 Diperkirakan Turun 50.000 Ton

SURABAYA (titik0km.com) – Musim giling tebu oleh pabrik gula (PG) baru dimulai pada Mei. Namun, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) memprediksi produksi gula 2014 bakal di bawah angka psikologis 2,5 juta ton.

Menurut Ketua Umum APTRI Arum Sabil, seperti yang diungkapkan dalam rilis Pemprov Jatim pada Senin (27/1), “Dalam kurun dua tahun terakhir produksi tebu rata-rata mengalami penurunan sebesar 50.000 ton. Produksi 2014, kami prediksi juga akan turun seperti tahun lalu. Sejumlah faktor mengiringi penurunan tersebut,” kata Ketua Umum APTRI, Arum Sabil, Senin (27/1).

Menurut dia, penyebab penurunan tersebut adalah karena faktor iklim dari cuaca hujan yang berkepanjangan, tingkat rendemen yang rendah, serta usia varietas yang tua. Selain itu pada 2013 harga lelang gula jatuh dan mengakibatkan kebangkrutan massal pada petani tebu secara nasional. Adapun tingkat rendemen relatif masih rendah yakni rata-rata masih dikisaran 7,5%. Sementara tuanya varietas tebu akibat petani terlambat melakukan pengangkatan. “Karena itu kami mendesak kepada pemerintah supaya adanya jaminan rendemen yang minimal 9%,” ungkapnya lagi.

Faktor lainnya yang tidak kalah serius dan harus mendapat perhatian besar pemerintah adalah menyangkut tidak terkendalinya gula rafinasi yang masuk. Kondisi ini mengakibatkan tata niaga gula di dalam negeri menjadi kacau. Terkait kondisi tersebut APTRI mendukung kebijakan Gubernur Jawa Timur Soekarwo yang melarang gula rafinasi masuk di wilayah Jawa Timur melalui surat keputusan (SK) yang dibuat. Bahkan, kata dia, Gubernur Soekarwo melarang PGdi Jatim mengolah gula rafinasi. “APTRI juga memandang perlu adanya revitalisasi terintegrasi terhadap PG yang ada guna mencapai rendemen yang ideal,” ujarnya.

Selama ini, ujar dia, penetapan analisa rendemen oleh PG memang beragam dan analisa akan sia-sia kalau tidak dibarengi dengan adanya revitalisasi terintegrasi terhadap PG. Untuk meningkatkan produksi, APTRI juga meminta adanya jaminan harga beli gula yakni tambahan minimal plus 10%. Dengan begitu maka akan tercapai rincian harga yang masih di atas biaya produksi. Misalkan harga gula Rp 9.000 per kg jika ditambah minimal plus 10% maka akan diperoleh harga Rp9.900 per kg.

Selain itu, Arum berharap areal tanam tebu di Tanah Air yang kini 451.000 hektare perlu diperluas menjadi 750.000 hektare. Mesin pabrik gula perlu diremajakan agar tercapai rendemen tebu 10%. “Melalui perluasan areal tanam tebu dan peremajaan mesin pabrik gula akan diperoleh produksi gula 7,5 juta ton/tahun, sementara kebutuhan gula nasional tahun ini hanya 4,3 juta ton, sehingga bisa surplus,” tukasnya. (asd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: