Qurban Adalah Menu Jiwa Kekhalifahan Kita

Oleh : Akhmad Fauzi*

(sebuah renungan anak manusia)

Saat yang sulit bagi seseorang adalah ketika diharuskan untuk membaca diri. Semakin sulit ketika bisikan-bisikan hati memaksa untuk menghitung nikmat hidup yang telah diberikan. Besarnya kemungkinan jiwa tunduk mengakui hebatnya pemberian itu seringkali dilewatkan. Padahal saat itulah momen “sebenar-benar bahagia” ingin memeluk kita. Ternyata masih ada sekat yang belum bisa dijinakkan semenjak manusia dicipta. Penciptaan Adam-Hawa adalah simbol kehendak Tuhan untuk menancapkan predikat kekhalifahan pada diri manusia. Bukti jelas bahwa manusia dicinta Tuhannya, bentuk adanya skenario hebat yang seharusnya manusia itu sendiri berani menemukannya. Sayangnya, manusia hanya mengambil sedikit dari skenario cerita itu, dan itu mengerucut pada (seakan) telah diberi wewenang!

Andai sejak awal tersadari jika tancapan Tuhan itu adalah “rasa percaya” yang hanya titipan, niscaya pengkulitan titipan itu tidak akan seberani sekarang dalam menafsirkan. Pernahkan berfikir jika titipan itu diberikan ke selain manusia? Watak apa yang akan diharuskan diperankan nantinya? Masih adakah gelak tawa tangis canda dan keberingasan dan semaunya? Memang sulit diterima jika tongkat kekhalifan itu sejatinya berisi “intropeksi”.

Khalifah bukanlah sekedar kekuasaan untuk mencuci efek-efek dari aturan. Khalifah tidak harus berkuasa. Khalifah adalah amanat berat dari yang memiliki kita untuk menuju kesucian diri. Tuhan, Allah SWT. meletakkan kekhalifahan ini untuk memuliakan kita dalam memelihara alam dunia ini. Targetnya bukanlah baik buruknya alam ini tapi pemenuhan tugas kita untuk mendapat point di akhir kelak

Rumbai-rumbai peristiwa yang selama ini teradegankan seharusnya sudah cukup untuk mengangkat kembali tongkat kekhalifahan itu agar dirumahkan kembali, di cabut, dan asingkan dari pongahnya watak-watak yang kurang amanah. Namun Tuhan, Allah SWT, maasih mempercayakan itu ke kita karena Dia memang mendahulukan rahmadNya daripada murka!

Gerahnya frase-frase di atas adalah realitas kekinian akibat dari semakin menjauhnya jiwa dari filosofi awalnya. Apakah filosofi awalnya? keberadaan Tuhan! Permainan cantik yang bungkus dengan kehebatan logika, sedikit demi sedikit mampu membuai nilai sakral yang ada dalam diri setiap manusia. Patut direnungkan, Orang Utan kini tidak lagi memilik hutannya, malah dijawab dengan keliaran dalam menebangnya. Bisakah disadari, ketika miras dalam posisi dilanggar, maka jangan salahkan kalau sudah puluhan bahkan ratusan jiwa menggelepar. Maka, ketika kebenaran kebaikan dikamuflase, jangan harap tidak ada lagi pengerukan-pengerukan uang negara dengan gaya berdasi dan santun. Silahkan hebatkan menganalogikan ini semua dengan gaya bebas, seakan efek fustun, pengabnya lebel agama, ngerinya produk sistem atau malah menggila mengerucut pada satu bentuk golongan. Seakan diri dalam bangunan inkubasi tak terjamah arus.

Orang Utan, miras, dan pengerukan itu hanyalah sel-sel yang tidak berarti dari hingar-bingarnya jiwa yang mulai berlagak “seakan tongkat kekhalifahan itu miliknya!”. Sebuah budaya logika berfikir “seakan” padahal seakan hanyalah repetisi dari ketidak-mampuan kita merayu jiwa sendiri, sejak dulu kala.

Qurban salah satu jalan untuk menumbuhkan keihlasan kita akan amanat itu. Ibrahim a.s begitu mantabnya untuk mengorbankan yang tercinta karena telah berhasil membujuk logika jika kebahagiaan akan datang pasca berkorban. Keberhasilan membujuk logika karena jiwa selalu mengajak logika untuk tidak terlalu jauh dari yang memberi amanat kekhalifahan ini. Mengapa logika mau di ajak? Karena tersadari kalau logika bukanlah kemudi utama dalam langkah-langkah hidup. Sebegitu muluskah penempatan tersadari itu dalam setiap jiwa-jiwa? Tidak! Adalah penuh pengorbanan di setiap langkahnya. Adalah selalu berproses untuk mencapai fase itu.

Qurban adalah simbol jika jiwa berpihak pada kepatuhan. Qurban adalah simbol jika amanat kekhalifahan itu intinya adalah berkurban. Jika ruh Qurban ini saling bersinergi, tidak ayal lagi kekhalifahan itu akan terpancar dengan teduhnya di hati setiap manusia, yang sejatinya manusia itu sendiri adalah khalifah. Betapa integralnya Qurban ini dalam mengasah jiwa kita untuk bisa menjadi khalifah.

Wallahu’alam bis showab… (*)

Kertonegoro, 14 Oktober 013

Motto : Budayakan berkurban, jangan membiasakan mencari kurban!

Penulis adalah praktisi pendidikan dan pekerja blogger di : www.bermututigaputri.guru-indonesia.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: