Relawan 60 Kali Antar Jemput Pasien

relawanJEMBER (titik0km.com)–  Banyak pihak terlibat dalam aksi sosial bertajuk ` Sinergi Aksi Kemanusiaan` operasi gratis bagi 1.000 kaum duafa yang dilaksanakan Rumah Sakit Bina Sehat Jember. Baik itu melibatkan TNI maupun relawan aksi kemanusiaan yang rela hati mendampingi pasien, meskipun harus bolak-balik mengantar pasien. Bahkan, ada relawan yang rela hati antar jemput 60 pasien.

Sebelum aksi penutupan aksi sosial yang akan dihadiri Pangdam V/Brawijaya pada 10 April mendatang, hingga kemarin sudah sebanyak 807 pasien berhasil dioperasi. Meliputi, pasien katarak, bibir sumbing, hernia, polidaktili (jari lebih), dan CTEV (kaki pengkor). Sisa pasien yang belum dioperasi akan dituntaskan sebelum penutupan aksi sosial.

Menurut dr Maria Ulfah MMRS, koordinator aksi kemanusiaan RS Bina Sehat Jember, masih ada sekitar 193 pasien katarak yang dijadwalkan untuk operasi pada minggu ini.

“Untuk pasien yang belum dioperasi terutama katarak akan dijadwalkan pada Minggu ini. Sehingga total pasien yang akan dioperasi mencapai target 1.000 pasien dari kaum duafa,” ujarnya.

Atas terlaksananya kegiatan sinergi aksi kemanusiaan ini, kata Ulfah, tidak lepas dari peran serta berbagai pihak. Tidak hanya Kodim, PKK, Dinas Kesehatan, dan lembaga lain yang membantu jalannya aksi sosial.

 “Peran serta relawan dalam kegiatan aksi kemanusiaan ini memang sangat besar terutama dalam memotivasi peserta sampai dengan mengantar peserta pada saat screening, operasi, maupun kontrol setelah operasi,” ujar dr Ulfah.

Ini pula yang dilakukan H Mahafud, 32, salah seorang relawan dalam aksi kemanusiaan asal Desa Molokorejo, Kecamatan Puger. Mulai awal pelaksanaan kegiatan, kurang lebih ada 60 pasien yang sudah dia diikutkan dalam operasi gratis ini. Bahkan, tim relawan ini terus mendampingi, memotivasi, dan mengantar pasien dengan biaya pribadi.

Semangat membantu sesama dan membantu masyarakat yang tidak mampu rupanya menjadi tujuan utamanya. “Dapat membantu sesama yang membutuhkan pertolongan dapat memberikan rasa senang tersendiri. Selain untuk ibadah juga dapat meringankan orang lain yang tidak mampu,” kata Mahfud yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang kerupuk tersebut.

Dia sempat menceritakan, salah seorang peserta operasi katarak yang dibawanya adalah Mus Irsyad, 60. Setelah menjalani operasi katarak gratis dan dapat melihat normal, Mus Irsyad langsung mengadakan tasyakuran sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat penglihatan yang d rasakan.

Bahkan, lanjut Mahfud, yang diundang untuk tasyakuran tersebut adalah masyarakat sekampung di sekitar tempat tinggalnya. Tak ayal, kegembiraan ini disambut baik semua keluarganya. Hal ini tidak heran karena kurang lebih selama 8 tahun terakhir ini, Mus Irsyad tidak bisa melihat karena kedua matanya terkena katarak. Padahal, sebagai tulang punggung keluarga,  dia harus menafkahi kebutuhan keluarga. “Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, akhirnya istrinya yang bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga,” kata H Mahfud mengisahkan.

Setelah mengikuti operasi gratis ini dan penglihatannya kembali normal, lanjut dia, sekarang Mus Irsyad dapat bekerja kembali dan mulai beraktivitas seperti sedia kala dan mampu untuk menghidupi keluarganya.

“Saya sangat terkesan dan terharu ketika melihat salah satu peserta operasi katarak yang dapat melihat normal kembali. Apalagi dapat menjadi tulang punggung keluarga seperti sedia kala. Atas nama pribadi dan keluarga pasien, saya mengucapkan terima kasih kepada RS Bina Sehat yang telah membantu orang-orang yang memang membutuhkan,” kata bapak yang sudah dikaruniai 2 anak tersebut.

Tidak jauh beda diungkapkan Rudi Hartono, 40, relawan lain dalam aksi kemanusiaan. Pria yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang becak dan penjual mi ayam tersebut, peranannya cukup besar. Mulai awal pelaksanaan kegiatan operasi gratis ini, sudah 20 orang yang dia antarkan dari daerahnya. “Dari wilayah Pakusari yang saya antar untuk ikut kegiatan ini sudah 20 orang meliputi pasien katarak dan bibir sumbing,” katanya.

Kepedulian membantu masyarakat tidak mampu, kata dia, sebenarnya sudah sering dilakukan. Untuk mengantar pasien tidak mampu tersebut, Rudi Hartono biasanya menggunakan sepeda motor miliknya. Otomatis semua biaya dia tanggung dari kocek pribadinya. Namun dia dengan senang hati melaksanakan itu semua.

“Saya melakukan ini semua hanya ingin bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan tidak lebih dari itu. Selagi tenaga masih kuat, saya akan terus membantu orang di sekitar saya yang tidak mampu,” kata Rudi yang punya kerjaan sampingan sebagai petugas antar jemput anak sekolah ini. (fid)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: