Remaja dalam Ancaman Pergaulan Bebas

Oleh : Arin RM*

Dewasa ini, di sekitar kita banyak dijumpai penyebaran HIV/AIDS, PMS, remaja hamil di luar nikah, anak muda ketergantungan narkoba, praktik aborsi, penyebaran dan pembuatan video porno oleh anak SMP/SMA dan perkelahian antarremaja hanya karena masalah rebutan pacar.

Fenomena nyata yang terus berkembang karena maraknya pergaulan bebas yang menjadi potret buram kehidupan remaja saat ini. Padahal remaja merupakan generasi penerus yang akan menerima tongkat estafet kebangkitan umat. Di dalam diri remaja terdapat potensi besar berupa idealisme, sikap kritis dan inovatif yang akan menjadi penentu berhasil tidaknya kebangkitan sebuah bangsa. Namun, idealisme tersebut pupus sebelum bertunas lantaran sederet hal negatif di atas kian membuat resah banyak pihak.

Jelas bukan hanya meresahkan pelaku sendiri, tetapi masyarakat di sekitarnya juga turut merasakan ketidaknyaman akibat dekandensi perilaku generasi, yang tentu saja berpotensi menjangkiti remaja di sekitarnya karena pada usia anak dan remaja, mudah sekali dipengaruhi lingkungan sekitar

Di sinilah relevansi bahwa pergaulan bebas itu dikatakan sebagai musuh semua pihak. karena ini bukan hanya sekedar masalah personal pelaku, tetapi juga orangtua, sekolah, dan masyarakat secara keseluruhan. Pelaku pergaulan bebas minimal bisa membuat kecewa orang tua, terlebih jika masih berstatus remaja/pelajar yang secara finansial masih tergantung sepenuhnya kepada orang tuanya. Kekecewaan yang disertai rasa malu ini juga akan dirasakan juga oleh pihak sekolah, mau tidak mau sekolah akan terbawa bila ada pelajarnya yang berbuat di luar norma.

Kenapa? Karena biasanya perilaku ang sudah tidak bisa ditolerir dan terbongkar ke publik umum akan berujung pada pemberhentian si pelajar dari sekolah yang bersangkutan. Selepas dari sekolah otomatis remaja bermasalah akan kembali ke rumahnya, di mana di tempat tersebut ia merupakan bagian dari anggota masyarakat. Boleh jadi perilakunya yang melanggar norma ini akan menjadi benih tumbuhnya kerusakan di lingkungan yang dia tempati. Jika masyarakatnya terpapar oleh pergaulan bebas, bisa dibayangkan bagaimana nasib bangsa ini ke depannya.

Oleh karenanya ancaman pergaulan bebas yang tengah mengancam remaja ini harus dihentikan. Dampak negatif yang bermunculan tentu sebagai akibat kemaksiatan yang jelas-jelas melanggar perintah-Nya. Hal ini dikarenakan banyaknya remaja yang abai terhadap firman Allah berikut: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (TQS. Ar Ruum [30].

Hingga wajarlah jika Allah memberikan peringatan dengan munculnya berbagai dampak negative berupa tingginya angka HIV/AIDS, aborsi dan penyakit menular tersebut. Dengan demikian, nyatalah apa yang seharusnya menjadi fokus bagi penyelesaian persoalan ini, yaitu mencegah dan melawan pergaulan bebas di kalangan remaja dengan pencegahan mendasar dan komprehensif.

Kenyataan di lapangan menunjukkan dengan jelas bahwagaya pergaulan remaja saat ini yang semakin jauh dari tuntunan agama, bahkan cenderung mengikuti gaya hidup hedonis yang senang berhura-hura. Di tambah lagi dengan masyarakat yang semakin individualistik sehingga tidak ada lagi kepedulian terhadap satu sama lain untuk saling menjaga serta melindungi diri dan kehormatan.

Padahal kesuksesan upaya melawan ancaman pergaulan bebas di kalangan remaja ini memerlukan upaya yang terintegrasi dari seluruh pihak.

Keluarga merupakan tempat awal pembentukan mental dan perilaku anak. Dalam keluargalah seharusnya dilakukan penanaman nilai-nilai Islam yang menjadi syarat utama untuk menumbuhkan sikap kebal terhadap semua bentuk serangan kemaksiatan.

Dengan pembinaan akidah sejak dini dari lingkungan keluarga, diharapkan para remaja mampu mengatur perilakunya sehingga tidak terjerus pada pergaulan bebas. Perhatian keluarga, terlebih lagi orang tua ini diperlukan agar pergaulan remaja terkontrol dan terarahkan pada hal yang benar.

Langkah dasar yang dilakukan keluarga ini hendaknya disambut oleh pihak sekolah dengan membekali para siswa dengan pendidikan terintegrasi/tidak memisahkan sain dan agama/akhlaq sehingga bisa dilahirkan pelajar berkepribadian Islam.

Sekolah yang menjadi benteng pembinaan remaja secara masal haruslah menghilangkan kegiatan-kegiatan yang memunculkan memicu adanya pergaulan bebas. Di antaranya, budaya sekolah yang cenderung membiarkan tindakan pacaran – kalaupun ada sanksi hanya untuk yang sudah hamil (di luar nikah). Demikian pula dengan budaya campur baur dan membiarkan siswi perempuan ber-tabarruj dan mengenakan pakaian jauh dari tuntunan agama.

Di sisi lain, ada pula persoalan penting lainnya dari sekedar pembinaan agama, yaitu tindakan meminimalisir semua bentuk rangsangan. Sebab, betapa banyak muda mudi yang sebenarnya mengetahui bahaya bahkan dosa di hadapan Allah SWT akibat gaul bebas, namun ternyata mereka terjerumus juga. Itu terjadi karena derasnya arus rangsangan di lingkungan sekitarnya sehingga mereka tidak kuasa menolak dan menahan gejolak jiwa yang mulai terpengaruh.

Rangsangan seksual biasanya berupa tindakan pornografi dan pornoaksi yang bertebaran di masyarakat. Di antara bentuk pornografi seperti tayangan televisi yang menyuguhkan pergaulan bebas seperti menjamurnya sinetron yang kelihatannya Islami, namun berselubung propaganda pacaran. Demikian pula dengan menjamurnya media bacaan porno baik cetak maupun melalui internet. Semuanya mempropagandakan gaul bebas yang akan memfasilitasi berkembangnya pergaulan bebas.

Sayangnya, kebijakan pemerintah untuk memblokir berbagai situs porno belum sepenuhnya berhasil mengendalikan tayangan porno di media online bahkan cetak. Sehingga untuk serius mencegah pergaulan bebas ini, pemegang kebijakan memang perlu memberlakukan aturan yang tegas. Dan tidak ada salahnya jika aturan tersebut mengutip dari sistem pergaulan dalam Islam.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: