Robot Fakultas Teknik Universitas Jember Di Kontes Robot Indonesia

manual KRI telah ngambil liftJEMBER (titik0km.com) – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Robotika Fakultas Teknik Universitas Jember turut berpartisipasi dalam ajang Kontes Robot Indonesia (KRI) Regional IV Jawa Timur (26-27/4). Dalam ajang tahunan yang dilaksanakan di GOR Bima Universitas Negeri Surabaya ini, UKM Robotika menerjunkan robot-robotnya di tiga divisi. “Kami mengikutsertakan robot di divisi KRI untuk manual dan otomatis serta kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI),” jelas Budi Setiawan ketua UKM Robotika. Ajang KRI Regional IV diikuti oleh 23 tim dari PTN dan PTS di Jawa Timur.

Di kategori KRI, robot Nan-Doer ciptaan mahasiswa Tegalboto ini berhasil menembus perempat final sehingga memiliki kesempatan masuk ke babak selanjutnya yang akan mempertandingkan dengan robot-robot dari regional lainnya. “Kita masih menunggu pengumuman dari panitia untuk kepastiannya, sambil terus memperbaiki kelemahan yang ada,” lanjut Budi, mahasiswa jurusan Teknik Elektro ini.

Dalam babak perempat final, robot Nan-Doer berhadapan dengan rival beratnya dari Institut Teknologi Surabaya (ITS). Robot Nan-Doer wajib melakukan tugas menanam daun (leaves) pada lubang (hole) yang sudah disediakan. Tugas ini sesuai dengan tema KRI tahun ini yakni Green Planet. “Harus diakui robot bikinan kawan-kawan ITS lebih baik dari buatan kami, apalagi operator tim Nan-Doer yang terdiri dari tiga orang sempat melakukan kesalahan karena kurang koordinasi,” tambah Yusqi salah seorang anggota tim.

Sementara itu menurut Zheni Akbar, salah satu anggota tim, kendala terbesar dalam mempersiapkan robot adalah masa riset yang pendek. Tim UKM Robotika Fakultas Teknik sendiri baru mempersiapkan diri semenjak November tahun lalu, bandingkan dengan para jawara seperti tim ITS dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) yang sudah melakukan riset bahkan semenjak dua tahun lalu. Robot ciptaan tim ITS dan PENS yang turun di ajang KRI Regional IV tahun 2013 adalah penyempurnaan dari robot tahun lalu. “Untuk itu kami berusaha untuk melakukan regenerasi anggota agar riset yang dilaksanakan di UKM Robotika tidak terputus,” katanya.

Kendala kedua adalah kesulitan mengenai lapangan berlatih dan spare parts robot. Tim UKM Robotika Fakultas Teknik selama ini berlatih di lapangan yang tidak sama dengan lapangan saat lomba dilaksanakan. “Lapangan yang kami pergunakan untuk latihan ternyata berbeda dengan saat lomba sehingga kami perlu melakukan kalibrasi ulang, belum lagi kesulitan mencari spare parts terutama bagian sensor yang harganya memang mahal,” ujar Budi lagi.

Nasib kurang beruntung dialami dua robot UKM Robotika yang turun di kategori KRPAI. Spider, robot pemadam api berkaki dan Evo yang memakai roda tidak dapat berbuat banyak gara-gara kendala teknis. “Pengalaman di Surabaya kemarin kami jadikan bahan evaluasi untuk membuat robot yang lebih baik lagi,” pungkas Budi yang mahasiswa angkatan 2010 ini. (ias)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: