Saatnya Demokrat Balas Dendam

Oleh : Mike Reyssent*

Awalnya…

Pada tanggal 9 Oktober 2001, Departemen Kehakiman dan HAM RI, mengeluarkan Lembaran Berita Negara Nomor : 81 Tahun 2001 Tentang Pengesahan. Partai Demokrat dan Lambang Partai Demokrat.

Selanjutnya, pada tanggal 17 Oktober 2002, di Jakarta Hilton Convention Center (JHCC), Partai Demokrat dideklarasikan, dan dilanjutkan dengan Rapat Kerja Nasional (Rakemas) Pertama pada tanggal 18-19 Oktober 2002, di Hotel Indonesia, yang dihadiri Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) seluruh Indonesia. (http://www.demokrat.or.id/sejarah/)

Seiring waktu, Partai Demokrat, sebagai partai yang baru besutan SBY and the genk ini, telah begitu banyak menarik simpatik masyrakat Indonesia, yang saat itu, begitu mendambakan sosok pemimpin baru, yang akan membawa perubahan bagi bangsa ini.

Pada pileg tahun 2004, Partai Demokrat, memperoleh 8.455.225 suara, atau 7.34% dari total seluruh suara nasional, sehingga berhak mendapatkan 57 kursi di DPR RI…

Sebuah hasil yang sangat bagus dan menjanjikan untuk sebuah partai baru…

Pada tahun 2004, SBY mencalonkan diri sebagai calon presiden berpasangan dengan Jusuf Kalla.

Penyelenggaraan pemilu yang dilaksanakan pada tanggal 5 Juli 2004, kala itu diikuti oleh 5 pasang calon presiden. Melalui proses pemilihan umum dilakukan secara langsung, yang untuk pertama kalinya diadakan di Indonesia. Namun, karena tidak ada satupun pasangan calon presiden, yang memperoleh 50% suara, maka pemilihan presiden 2004 itu, tidak dapat dilaksakan hanya satu kali putaran saja, jadi harus melalui dua putaran.

Baru pada putaran kedua, pasangan SBY-JK, akhirnya SBY bersama Jusuf Kalla, memenangkan proses demokrasi tersebut, dengan memperoleh suara 60.62%, mengalahkan pasangan Megawati-Hasyim Muzadi…

Padahal menurut hasil QC, pasangan Megawati-Hasyim Muzadi, saat itu lebih unggul dibandingkan pasangan SBY-Jusuf Kalla. Dan pasangan Megawati-Hasyim yang diprediksi akan memenangkan pilpres 2004…

Setelah pilpres 2004 inilah, bergabunglah seorang tokoh muda, bernama Anas Urbaningrum yang sebelumnya adalah seorang anggota KPU!!! (yang nantinya bahkan menjadi Ketua Umum Partai Demokrat)

Kehebatan….

Tahun 2009, Partai Demokrat yang masih tergolong sangat muda ini, berhasil memenangkan Pileg dengan perolehan sebesar 20.85% suara, atau sebanyak 150 kursi di DPR. Sungguh suatu prestasi yang sangat luar biasa, telah dicapai oleh partai berlambang bintang Mercy itu, mengingat Partai Demokrat baru berusia 8 tahun.

Pada tahun yang sama, SBY untuk kedua kalinya mengajukan diri, menjadi calon presiden berpasangan dengan Budiono, dengan diusung oleh koalisinya yaitu, PKB, PPP, PAN, dan PBB, berhadapan dengan, pasangan Megawati-Prabowo, yang didukung oleh PDIP dan Partai Gerindra, dan juga pasangan, Jusuf Kalla-Wiranto yang didukung oleh Golkar dan Hanura.

Ketika melawan pasangan Megawati-Prabowo, dan pasangan JK-Wiranto, pada ajang Pilpres 2009 tersebut, SBY kembali memenangkan pemilihan presiden untuk kedua kalinya, hanya melalui satu putaran, dengan perolehan angka yang sangat telak yaitu 60.80% suara!

Sungguh sebuah angka yang sangat menakjubkan dan fantastis! Bisa dibayangkan dukungan yang begitu besar dari rakyat untuk sebuah partai baru bernama Partai Demokrat ini, dalam mengalahkan jago jago tua yang berpengalaman…

Sama seperti tahun 2004, setelah ajang pilpres 2009 ini, bergabung lagi seorang mantan anggota KPU yang bernama, Andi Nupati….!!!

Awal kejatuhan….

Tanpa pengkaderan lagi, dan tanpa track record yang jelas di kancah politik Indonesia, banyak tokoh baru dan muda bergabung ke PD, yang sedang naik daun ini. Bisa diibaratkan, Partai Demokrat sebagai gula, sehingga sangat menarik semut semut. Jadi, bisa dilihat niat dari mereka bergabung ke Partai Demokrat ini, semata mata hanyalah ingin mengambil keuntungan saja, bukanlah dengan niat membangun bangsa ini….

Terbukti, tokoh muda di Partai Demokrat inilah yang sekarang banyak terlibat kasus korupsi. Tercatat saat ini, ada 4 tokoh muda berpengaruh, mempunyai jabatan vital dan yang tadinya sangat bersinar di Partai Demokrat, sekarang malah menjadi penghuni Hotel Prodeo KPK. Belum lagi tokoh senior Partai Demokrat, yang sekarang sudah mendapat pembebasan bersyarat, belum lagi yang saat ini sedang menjadi daftar tunggu KPK, untuk mempertanggungkan perbuatannya.

Slogan kampanye “Katakan Tidak Pada Korupsi” yang diusung oleh Partai Demokrat pada kampanye pileg 2009, menjadi bahan olok-olok media dan rakyat. Bahkan, 3 dari 4 tokoh yang menjadi pemeran iklan kampanye, “Katakan TIdak Pada Korupsi” saat ini, sedang berada dalam Rumah Tahanan KPK! Sungguh mengenaskan….

Masih tersisa satu, dari 4 tokoh pemeran slogan kampanye “Katakan Tidak Pada Korupsi”, yang belum merasakan dinginnya tembok penjara, yaitu The Prince of Cikeas, Edhie Baskoro Yudhoyono, yang juga biasa dipanggil Ibas.

Hanya karena Ibas adalah seorang putra kesayangan SBY saja, maka sampai saat ini, ia belum juga menempati kamar yang sudah disediakan oleh KPK.

Coba seandainya saja Ibas, hanya seorang cleaning service yang tidak lulus SD, maka sudah sejak lama, Ibas bergabung dengan genknya di DPR yaitu Anas dan Nazaruddin….

Tak pelak lagi, sejak banyak kasus korupsi, yang melibatkan tokoh penting di Partai Demokrat terbongkar oleh KPK, telah membuat Partai Demokrat menjadi terpuruk.

Partai Demokrat yang begitu gagah perkasa sewaktu pileg 2009, tetapi dalam perolehan suara di pileg 014, hanya mendapat 61 kursi di DPR!

Dengan begitu buruknya hasil pileg 014 bagi Partai Demokrat, membuat Presiden SBY menjadi merenung dan berpikir panjang.

“Apa langkah terbaik yang akan diambil oleh SBY, dan strategi apa yang mesti dilakukan, serta bagaimana cara mengembalikan citra Partai Demokrat yang sedang coreng moreng tersebut”

“Lalu yang menjadi sangat penting adalah, apa dan siapa yang patut disalahkan dalam masalah ini?

Kira-kira seperti itulah, yang menjadi pemikiran SBY dalam beberapa bulan terakhir sejak kejatuhan Partai Demokrat di pileg 014 lalu.

Akhirnya….

Setelah melakukan kajian yang sangat mendalam, SBY akhirnya berkesimpulan, bahwa kejatuhan Partai Demokrat ini tak lain dan tak bukan karena faktor media dan masyarakat.

Dalam beberapa kesempatan, SBY curcol (curhat colongan), dengan mengatakan media telah menyudutkan Partai Demokrat, dengan pemberitaan yang terus menerus tentang kebobrokan Partai Demokrat.

Bukan sekali atau dua kali SBY saja, mengatakan hal itu, tapi berulang kali. Sebuah pemikiran yang sangat salah, mengingat korupsi adalah public enemy, dan sangat menyengsarakan rakyat, sehingga harus diperangi dan diberantas secara tuntas di negeri ini, tanpa pandang bulu siapapun pelakunya….

Bisa dilihat, bahwa SBY mempunyai atau menyimpan dendam yang dalam terhadap media dan masyarakat sehingga harus beberapa kali mengungkapkan perasaaannya itu….

Jadi, cara berpikir SBY yang seperti itu, adalah cara berpikir yang keblinger, ibarat kata “buruk muka cermin dibelah….”

Harusnya, SBY memperbaiki di dalam tubuh Partai Demokrat sendiri, membuat sistem pengkaderan yang lebih baik di partainya, bukan seperti sekarang ini, dengan cara, asal comot dari mana saja kadernya…

Bukan juga, malah menyalahkan media dan masyarakat, yang telah lari dari Partai Demokrat, karena semua ini adalah hukum alam, Apalagi di era arus deras informasi saat ini, ketika semua bisa dengan mudah didapat oleh masyarakat, apapun juga tidak dapat disembunyikan lagi.

Seperti sudah kita ketahui semua, di rapat paripurna DPR, untuk membahas RUU Pilkada tidak langsung, yang diusung oleh kubu KMP, yang dilaksanakan sejak Kamis siang, 25 September 014, dan berakhir pada Jumat 26 September 014 dini hari, semua masyarakat yang menonton peristiwa itu, sangat kecewa dan miris, dengan tingkah laku pengecut dari elite Partai Demokrat, ketika mereka melakukan aksi WO.

Tanpa ada settingan dari siapapun dan pihak manapun, tindakan ataupun aksi WO yang dilakukan oleh para elite Partai Demokrat, telah menjadi Trending Topic di dunia maya… Rakyat sudah bisa menilai sendiri, mana yang pantas, dan tidak pantas, mana yang benar dan mana yang ngawur…

Terlebih lagi, ketika SBY mengaku terkejut, kecewa dan akan melakukan investigasi terkait aksi WO, yang dilakukan para elite Partai Demokrat itu. Sebuah sandiwara, kemunafikan serta bukan sikap seorang ksatria, dari pemimpin yang tidak bertanggung jawab tapi lebih menyalahkan anak buah!!!

Di saat hampir berbarengan dengan pernyataan SBY yang mengaku terkejut, dan kecewa kemarin, Ruhut Sitompul yang merupakan seorang anggota Partai Demokrat, mengatakan bahwa aksi WO dari fraksi Demokrat, dalam pembahasan RUU Pilkada kemarin, berdasarkan sudah diketahui oleh SBY!!! Bahkan, Sekjen PPP, Romahurmuziy, juga mengatakan, bahwa semua aksi WO dari fraksi Demokrat itu, memang sudah disetting oleh kubu KMP bersama Demokrat!!!

Sangat menarik pernyataan dari anggota fraksi Demokrat, Gede Pasek Suardika, yang saat itu tidak ikut melakukan WO, Gede Pasek mengatakan, bahwa aksi WO fraksi Demokrat, adalah ajang balas dendam Partai Demokrat terhadap PDIP. Sebuah pernyataan yang kelihatan konyol, karena diiringi oleh cekikikan dan ejekan dari anggota DPR lainnya.

Tetapi, jika kita cermati lebih seksama, pernyataan Gede Pasek, adalah sebuah pernyataan atau pengakuan yang setengah benar…

Nampaknya, Gede Pasek saat itu, masih belum mau membuka keseluruhan cerita dari drama ini lebih awal…

***Kesimpulan saya adalah, tindakan WO dari fraksi Partai Demokrat dalam pembahasaan RUU Pilkada kemarin memang jelas adalah perintah dari SBY***

Pertanyaannya,

“Mengapa SBY melakukan itu, padahal SBY adalah Presiden pertama, dari hasil proses pemilihan presiden secara langsung ini???

Jawabannya adalah,

Seperti Gede Pasek bilang, bahwa ini adalah tindakan balas dendam dari Partai Demokrat, tapi menurut saya bukan terhadap PDIP, melainkan terhadap rakyat!!!

Pertanyaan berikutnya,

“Mengapa SBY kesal dan dendam terhadap rakyat?

Jawabannya sudah jelas,

“Seperti saya tulis diatas, bahwa SBY mempunyai dendam terhadap media, yang memberitakan terus menerus kebobrokan dari Partai Demokrat sehingga menyebabkan Partai Demokrat menjadi terpuruk. Sedangkan media yang memberitakan, dan menyinggung tentang kebobrokan Partai Demokrat secara terus menerus adalah adalah Metrotv, sebuah stasiun tipi pendukung kubu Jokowi-JK, yang menolak RUU Pilkada dilaksanakan secara tidak langsung!!!

Bahkan slogan kampanye Partai Demokrat “Katakan Tidak Pada Korupsi” diplesetkan oleh Metrotv menjadi “Katakan Tidak Untuk Menonton yang Lain”!!! Masih ada lagi iklan acara Metrotv, yang juga menyinggung Partai Demokrat, yaitu acara Metro Realitas yang ditayangkan Senin hingga Kamis. Dalam iklan acara itu, ada suara Anas Urbaningrum yang mengatakan “Saya tidak tahu proyek Hambalang…”

Bisa dibayangkan betapa kesal dan dendamnya SBY terhadap MetroTV, dan itu berakibat langsung terhadap tindakan SBY kepada pendukung Jokowi. Jadi dari situ bisa ditarik benang merah antara, dendam Partai Demokrat, aksi WO dan hilangnya hak rakyat untuk 5 tahun masa yang akan datang…

Dengan melakukan aksi WO tersebut, SBY sudah membalas lunas berikut bunga berbunga, semua perlakuan rakyat pendukung Jokowi, yang seringkali melecehkan Partai Demokrat, dengan cara merampas haknya untuk memilih!!!

Sebaiknya, kita tidak lagi berharap keseriusan Partai Demokrat mengusut kasus WO tersebut, juga jangan lagi berharap Presiden SBY, tidak akan menanda tangani RUU Pilkada itu, apalagi berharap Partai Demokrat ikut menggugat kasus ini ke MK….Karena, jika kita mengharap SBY untuk bertindak, itu hanya akan menambah sakit hati kita saja….

Apakah dalam pileg yang akan datang, masih ada yang mau memilih Partai Demokrat?

Apakah dalam masa yang akan datang, Partai Demokrat masih bisa eksis dikancah perpolitikan Indonesia?

Selamat Tinggal Era Reformasi dan Selamat Datang Kembali Orba…. (*)

*Penulis merupakan Kompasianer

(http://politik.kompasiana.com/014/09/28/saatnya-demokrat-balas-dendam-691187.html)
Salam Damai….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: