Salam Siswaku

Oleh : Akhmad Fauzi*

Pernah seorang orang teman keheranan ketika bertamu di rumahku, sekira pukul 07.30 WIB pada hari Minggu. Ceritanya, sang teman terlalu pagi mertamu ke rumah, sementara aku belum sempat berbenah diri, terpaksa dia harus menunggu aku mandi. Dia ambil koran, dia pilih duduk di teras depan. Mungkin dia tahu, tempat yang paling enak di rumahku adalah duduk di kursi bambu di teras sambil cuci mata lihat orang lalu lalang. Hampir setengah jam dia menunggu aku selesai mandi.

Setelah tersaji kopi hangat dan sedikit makanan, dia masuk sambil membawa koran yang baru saja dibaca. Maka keluarlah catatan-catatan selama dia menikmati pagi di teras itu. Kata pertama yang keluar adalah “Biyyuuhh…”. Aku dengarkan saja ceritanya. Ternyata selama kurang lebih setengah jam dia duduk, tidak kurang sepuluh kali dia menjawab salam yang berarti sepuluh kali juga dia mengangguk dan tersenyum. Saya tanyakan siapa yang salam, dia menjawab anak seusia SMP.

Ohhhhhhh..,
Rupanya dia heran, padahal, ini menurut dia, dia bukan saya, yang berarti bukan gurunya (karena ada indikasi kuat, yang salam itu adalah muridku).
Ooohhhh…

Baru aku menemukan jawabnya ketika sang teman undur diri. Asal tahu saja, sang teman adalah guru senior di sebuah sekolah yang Na’udzubillah sempurnyanya, maka na’udzubillah pula kesejahteraannya, dan terakhir, na’udzubillah enaknya, RSBI! Ooohh…

Mengangguk dan menjawab salam di kehidupan saya merupakan makanan sehari-hari. Yak, Tuhan mentakdirkanku berada di area yang memitoskan norma adalah yang masih terbaik untuk saat ini. Di wilayah yang masih mentabukan ego dan pongah diri. Mungkin gara-gara itu, saya juga yang termasuk menyukai duduk-duduk di teras, sambil menikmati secangkir kopi hangat.

Yang pasti, seorang anak dengan keluguannya, sambil berpeluh mengayuh sepeda ontelnya, setiap di depan rumah selalu melirik, tersenyum, mengangguk, dan salam, adalah sebuah dramatisasi kehidupan yang sulit di temui – dan menurutku- sesuatu yang mahal yang mulai dijual oleh orang-orang untuk membeli supermarket ego, atau eskrim acuh, atau mall cemberut.

Semoga dramatisasi salam, salam, salam, dan selalu salam ini juga akibat dari pembelajaran yang diterapkan oleh sekolah. Semoga siswaku menyadari kalau energi salam ini akan mereka temui di suatu waktu. Semoga, Tuhan, Allah SWT menatap yang salam dan yang membalas salam sebagai orang yang telah dipilih untuk begitu.

Terima kasih siswaku,

Tradisimu telah mengherankan temanku, dan kita tahu, dia butuh itu! (*)

Kertonegoro, 7 Januari 014

sang guru beruntung,

akhmad fauzi

gambar dindieneng.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: