Saya Menderita Hernited Nucleus Pulposus

Oleh :  HM. Arum Sabil

Sebuah kisah nyata penderita HERNITED NUCLEUS PULPOSUS yang memutuskan untuk melakukan operasi tulang belakang di Indonesia

Saya seorang petani yang hidup di desa Tanggul Kulon Jember Jawa Timur, sengaja menulis tentang kisah sakit saya ini untuk berbagi informasi.  

Dua tahun belakangan ini rasa nyeri dari punggung, paha, dan betis sudah saya rasakan, namun rasa nyeri itu datang dan pergi begitu saja.

Disuatu pagi pada tanggal 2 Maret 2013 ketika saya bangun tidur, saya merasakan rasa nyeri yang aneh di punggung saya, dan ketika turun dari tempat tidur rasanya seperti ada beban yang mencengkeram. Setelah saya bawa jalan kira-kira 5 langkah rasa nyeri di punggung tersebut sedikit menghilang, keesokan harinya rasa nyeri yang aneh tersebut rasanya semakin meningkat itupun tidak saya rasakan saya beranggapan mungkin itu hanyalah faktor kelelahan.

Pada tanggal 8 Maret 2013 tepatnya hari Jum’at, saya memberikan kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Jember, rasa kemeng dan kesemutan di kaki serta rasa nyeri di paha dan betis mulai sedikit terasa dan hal itupun terasa setelah turun dari mobil, Namun setelah berjalan beberapa langkah, terasa lebih baik. Setelah selesai memberikan kuliah umum, pukul 16.30 WIB, saya berangkat ke Surabaya. Punggung masih terasa kemeng dan peningkatan rasa nyeri pada saat naik maupun turun mobil bahkan setelah bangun tidur. Saya berfikir kalau itu sebenarnya adalah karena otot-otot saya kaku.

Esok hari saat bangun tidur pada tanggal 9 Maret 2013 rasa kemeng dan nyeri semakin meningkat namun tidak saya mengacuhkan rasa nyeri tersebut. Apa lagi pada hari itu kami bersama tim dari PT. Charoon Pokhpan berencana berangkat ke Thailand untuk melakukan studi peternakan.

Betapa semangatnya diri ini, ketika saya dan rombongan hendak mengunjungi Thailand. Meski kepergian kami ke negeri Gajah Putih itu, bukan sebagai pelancong yang siap memanjakan diri, dengan segala keindahan pesona wisata seribu Pagoda tersebut, namun semangat yang ada dalam diri ini, seolah tidak pernah surut seperti ombak yang ada dilaut pasang.

Semangat tersebut muncul, karena saya dan rombongan, akan mengunjungi beberapa tempat peternakan modern yang ada di negara tersebut. Tentunya, keyakinan akan membawa ilmu baru, sepulang dari kunjungan tersebut, selalu menjadi stimulus dalam setiap gerak dan langkah, yang ada pada diri ini.

Sebelum berangkat menuju Bandara Internasional Juanda Surabaya, yang siap menerbangkan kami menuju Kota Bangkok yang juga dikenal sebagai ibukota negara Thailand tersebut, saya pun masih merasakan nyeri di tubuh bagian pinggang. Namun waktu itu saya menganggapnya sebagai rasa nyeri biasa yang selalu muncul, pada seseorang yang merasakan kelelahan.

Saya pun tidak begitu menghiraukan, rasa nyeri yang semakin terasa mengganggu dalam perjalanan mencari ilmu baru tersebut. Apa yang saya lakukan selama ada di Thailand, hanya fokus pada serangkaian agenda kunjungan yang begitu berharga dalam hidup ini. Meski sebenarnya rasa nyeri di punggung ini semakin membuat tubuh saya tidak nyaman.

Perjalanan penerbangan dari Bangkok menuju Chiang Mai yang dilanjutkan perjalanan darat menuju kawasan peternakan yang harus ditempuh selama 8 jam pulang pergi itu, membuat fisik tubuh ini semakin memburuk. Apalagi ditambah dengan padatnya agenda kunjungan, semakin membuat nyeri di punggung ini terasa sakit. Namun rasa sakit itu seolah saya tukar dengan semangat mendapatkan ilmu, dengan harapan bisa membawanya pulang untuk perubahan dunia peternakan di Indonesia.

Sudah genap seminggu saya dan rombongan ada di Thailand, jadwal kepulangan ke tanah pertiwi pun mengajak kami segera beranjak menuju bandara Suvarnabhumi Bangkok. Di bandara itulah rasa nyeri yang sudah beberapa hari ada di punggung, paha, dan betis saya itu mulai melemahkan sistem kerja tubuh ini.

Kaki sebelah kanan yang selalu setia mengantarkan badan ini bergerak, dari satu tempat ketempat lainnya, harus terhenti dan tidak mampu melangkah lagi karena rasa sakit dari pangkal paha dan betis yang sangat luar biasa. Saya pun sangat terkejut, dengan kaki kananku tersebut. Padahal saya harus berjalan dari ruang chek in pesawat ke pintu pesawat yang akan mengantarkan kami pulang berjarak sekitar 1 km.

Melihat keriangan yang tampak pada paras setiap wajah anggota rombongan membuat diri ini tidak tega mengeluh dihadapan mereka. Saya pun berusaha melaju meski saya harus menggeret kaki kanan saya yang terasa sakit tiada tara.

Terasa sangat berat berjalan sejauh satu kilometer dengan hanya menggunakan satu kaki. Jika saat itu saya boleh memilih, lebih baik saya harus berjalan sejauh seribu kilometer namun dengan kaki yang normal.

Segala upayapun harus saya lakukan agar anggota rombongan lainnya tidak ikut merasakan apa yang saya rasakan saat itu. Akhirnya saya pun berimajinasi seolah menjadi seorang tentara sedang tertembus timah panas dan harus segera menyelamatkan diri. Alhasil saya pun tersugesti dan mampu berjalan sejauh satu kilo meter dengan kondisi kaki kanan yang pincang.

Di atas pesawat selama tiga jam penerbangan dari Bangkok ke Jakarta, rasa nyeri mulai terasa sangat sakit. Setelah kami tiba di Jakarta dan harus pindah pesawat yang menuju Surabaya, kaki kanan saya pun tidak lagi mau berkompromi. Rasanya saya tidak punya daya lagi untuk berjalan karena rasa sakit yang luar biasa dan kaki ini rasanya sangat sulit untuk digerakkan, sehingga dengan tertatih-tatih saya berjalan dengan berbisik kepada istri dan anak saya yang mendampingi saya agar dicarikan kursi roda.

Saya berpesan kepada istri dan anak saya agar sakit yang saya derita ini tidak didengar oleh teman-teman lain yang satu rombongan karena saya tidak ingin teman-teman yang satu rombongan dengan saya merasa panik melihat kondisi saya, maka istri dan anak saya mulai mencari kursi roda sebagai alat bantu untuk menuju transit pesawat dari Jakarta menuju Surabaya. Namun kursi roda sulit ditemukan karena dipakai oleh para jama’ah yang baru pulang dari Umroh.

Seolah semakin di uji kesabaran saya saat itu oleh Allah SWT. saat itu saya Membutuhkan kursi roda yang bisa membawa saya berpindah ke pesawat yang hendak ke Surabaya tidak bisa saya dapatkan di bandara Soekarno-Hatta. Akhirnya dengan terpaksa saya pun harus didorong kursi roda yang sebenarnya diperuntukan untuk anak-anak.

Rasa nyeri yang semakin menusuk punggung itu semakin terasa menyiksa dibadan ini. Setiba di Surabaya saya sudah mulai merasa panik karena rasa sakit yang sangat luar biasa dan rasanya kaki kanan ini sudah tidak punya kemampuan lagi untuk digerakkan apalagi berjalan. Maka saya teringat dengan seorang teman Dr. Indra yang sering bersama-sama fitnes di Surabaya. Beliau menyarankan agar saya menemui seorang dokter spesialis ortopedi terbaik disebuah Rumah Sakit ternama di Surabaya, Maka saya langsung menuju ke Rumah Sakit tersebut. Pada tanggal 15 Maret 2013 kira-kira jam 16.30 WIB saya sudah berada di Rumah Sakit yang di rekomendasikan teman saya.

Para perawat yang menerima saya juga telah berkomunikasi dengan dokter yang akan menangani saya, maka saat itu saya langsung di foto MRI. Obat anti nyeri mulai dimasukkan ke tubuh saya melalui infus, itupun tidak mengurangi rasa nyeri yang sangat luar biasa pada kaki kanan saya. Rasa nyeri yang mendera sambil menunggu kehadiran dokter yang akan menangani sakit saya tersebut, rasanya cukup menyiksa karena saya baru ketemu dengan dokter tersebut Pada malam harinya sekitar pukul 21.00 WIB. Dokter masih belum bisa menyimpulkan secara pasti tentang sakit saya karena masih menunggu hasil foto MRI.

Maka tanggal 16 Maret 2013 malam sekitar jam 20.00 WIB dokter tersebut datang ke ruang rawat inap saya dan sekaligus membacakan hasil dari MRI tersebut. Betapa kagetnya kami sekeluarga ketika dokter spesialis ortopedi tersebut memfonis saya mengidap penyakit Hernited Nucleus Pulposus (HNP) pada lumbal 4-5. Suatu penyakit yang biasa orang awam sebut saraf terjepit yang ada di tulang belakang manusia. Saya dan keluarga mengalami kepanikan yang sangat luar biasa disaat mendengar penjelasan dari dokter tersebut tentang dampak dari penyakit yang saya alami ini bisa mengalami kelumpuhan permanen.

Kepanikan tersebut diperparah lagi ketika dokter yang menangani saya akan melimpahkan saya kepada dokter seniornya, saya dijanjikan untuk bisa dikomunikasikan kepada dokter seniornya. Saya harus menunggu lagi dengan sabar dengan rasa sakit yang sangat tidak tertahankan untuk menunggu kabar pelimpahan kepada dokter yang lebih senior tersebut. Tiga hari tiga malam saya merasakan sakit yang semakin meningkat dan tidak bisa tidur sehingga tensi darah saya mengalami kenaikan yang tidak pernah terjadi seumur hidup saya yaitu 161/100. Panik, stres, kecewa, rasa sakit yang bercampur aduk.

Sebagai orang awam yang saya sama sekali tidak mengerti sebab dan akibat dari pada penyakit yang saya derita ini, saya menjadi bingung mencari tempat untuk bertanya. Di tengah kepanikan saya tersebut, manager saya, Restu Prayogi dengan berbekal I-Pad melalui jaringan Internet mencari informasi tentang Hernited Nucleus Pulposus (HNP), begitu juga dengan dokter ahli yang punya kemampuan terhadap penyakit tersebut. Dari informasi yang di dapat dari manager saya maka ditemukanlah dokter dan rumah sakit yang bisa menangani penyakit saya tersebut. Yang jadi persoalan adalah dokter dan rumah sakitnya ada di Singapore, sementara kondisi saya jangankan berjalan, untuk duduk pun tidak bisa. Maka manager saya berinisiatif mencalter pesawat khusus untuk ke Singapore menuju dokter dan rumah sakit tersebut. Persiapan keberangkatan ke Singapore sudah dilakukan semua tinggal menunggu keberangkatan keesokan harinya.

Sebelum berangkat pada tanggal 18 Maret 2013 pagi hari saya mencoba menghubungi mbak Justini seorang pengusaha di Surabaya. Saya ceritakan tentang sakit saya secara spontanitas Mbak Justini merekomendasikan saya kepada seseorang yang bernama Dr. Sofyan. Saya mencoba lagi bertanya kepada sahabat saya Dr. Faida owner Rumah Sakit Bina Sehat Jember, ternyata juga merekomendasikan ke dokter yang sama yaitu Dr. Sofyan, terus saya mencoba lagi bertanya kepada seorang sahabat Soehariyanto juga merekomendasikan kepada dokter yang sama yaitu Dr. Sofyan, dan akhirnya saya meminta pertimbangan kepada kerabat saya Dr. Burhan dan ternyata kerabat saya tersebut juga menyetujui ke Dr. Sofyan specialis bedah syaraf.

Karena saran sahabat dan kerabat semua mengarah kepada Dr. Sofyan, dan sahabat saya Dr. Faida menjelaskan bahwa Dr. Sofyan tersebut bertugas di Rumah Sakit bedah di Jl. Raya Manyar No. 9 Surabaya, maka kami segera menghubungi Rumah Sakit tersebut. Akhirnya rencana saya ke Singapore saya batalkan dan pada tanggal 18 Maret 2013 jam 18.00 WIB saya langsung dievakuasi pindah ke Rumah Sakit bedah Jl. Raya Manyar No. 9 Surabaya.

Sampai di UGD Rumah Sakit bedah Jl. Raya Manyar No. 9 Surabaya, saya langsung ditangani secara cepat oleh para perawat dan dokter jaga di UGD, rupanya sudah mendapat petunjuk dari Dr. Sofyan. Infus mulai dipasang di tubuh saya dan obat anti nyeri dosis tinggi juga sudah dimasukkan melalui infus, begitu juga dengan obat anti nyeri sejenis morfin juga dimasukkan di dalam tubuh saya. Sesaat kemudian Dr. Gigih ahli bedah saraf datang ke UGD juga terus merokemendasikan saya untuk segera masuk ke ruang rawat inap sambil memastikan obat yang masuk ketubuh saya. Malam itu saya sedikit bisa terlelap tidur dan ke esokan harinya tanggal 19 maret 2013 jam 09.00 wib pagi Dr. Sofyan ahli bedah saraf Visite menemui saya dan menjelaskan secara detail tentang penyakit saya sesuai dengan hasil MRI.

Dengan tegas Dr. Sofyan menyatakan bahwa saya harus operasi karena penekanan bantalan tulang belakang ke saraf sudah mencapai 70%. Dengan di awali permintaan maaf kepada Dr. Sofyan saya bertanya ”berapa kali Dr. Sofyan melakukan operasi terhadap orang lain yang sakitnya sama dengan saya?” Dr. Sofyan menjawab “sering” pertanyaan yang ke dua saya adalah ” Apa benar  jika orang  mengalami syaraf kejepit seperti saya jika dioperasi berdampak kelumpuhan?” Dr. Sofyan menjawab “jika ada orang yang dioperasi lumpuh, itu bukan saya yang mengoperasi, yang saya lakukan selama ini adalah saya mengoperasi orang lumpuh dan bisa berjalan.”

Dan pertanyaan saya yang ketiga adalah “seandainya saya di operasi berapa persen tingkat keberhasilannya operasi saya. Dr. Sofyan menjawab, ”saya tidak bisa mendahului kehendak Tuhan tapi saya jamin 95%.”

Dari jawaban Dr. Sofyan tersebut saya merasa punya harapan namun belum mempunyai keberanian untuk memutuskan memilih opsi operasi, saya bilang ke Dr. Sofyan untuk di berikan kesempatan berfikir dalam rangka untuk memutuskan langkah operasi, dan saya meminta kepada Dr. Sofyan untuk dilakukan visioterapi dulu. Setelah Dr. sofyan pergi dari ruang inap saya, saya mencoba menghubungi teman-teman dan sahabat saya untuk saya mintai saran dan pertimbangan, rasa sakit di paha dan betis kaki kanan saya terus mengalami peningkatan yang mendalam.

Tidur dengan berbagai posisipun rasanya tidak nyaman dan sakit. Saya terus berikhtiar dengan menelpon sahabat saya Agus Pakhpahan mantan Deputy kementrian BUMN dan sahabat saya tersebut sangat menghawatirkan saya bahkan menyarankan saya agar jangan mengambil jalan opsi operasi, karena pengalaman yang beliau dengar ada temannya yang di operasi akibatnya lumpuh dan meninggal dunia.

Mendengar penjelasan tersebut hati ini bertambah galau, saya terus berikhtiar dan memantapkan hati dengan menelpon beberapa teman, sahabat dan kerabat dekat untuk saya mintai pertimbangan, sarannya juga sama mereka juga melarang saya untuk mengambil jalan opsi operasi, bahkan istri sayapun bersikeras untuk tidak mengambil opsi operasi, bahkan seorang tokoh ulama yang kenal baik dengan saya kyai Hasyim Muzahdi sangat menghawatirkan saya bahkan beliau menyarankan juga agar jangan mengambil jalan opsi operasi. Salah satu kerabat saya Anang dan Ashanty datang dan bermalam di rumah sakit karena rasa sayang dan kuatir yang sangat tinggi menyarankan saya juga untuk tidak mengambil jalan opsi operasi.

Opsi untuk tidak melakukan operasi juga muncul dari pengalaman Bapak Dahlan Iskhan, beliau menceritakan pernah menderita HNP pada tahun 1995 di sembuhkan dengan cara kontraksi dan Visioterapi dan sampai hari ini penyakit beliau tidak kambuh lagi. Keesokan harinya Dr. Sofyan dan Dr. Gigih Visite menemui saya memberikan penjelasan lagi secara detail, beliau menyampaikan posisi saraf tulang belakang saya sudah terjepit 70%. Beliau mengingatkan jangan sampai sarafnya nanti cidera karena terjepit, kalau sarafnya cidera dan sampai ngompol maka susah akan di sembuhkan, bahkan bisa mengalami kelumpuhan. Kalau mengambil opsi Visioterapi itu bisa saja di lakukan tapi dampaknya adalah terhadap perjalanan kualitas hidup.

Dr. Sofyan yang di damping oleh Dr. Gigih juga menjelaskan jika mengambil opsi operasi tidak menyarankan dengan operasi mikro, dihawatirkan dalam jangka panjang akan bisa kambuh kembali bahkan lebih parah karena kerusakan pada tulang antara lubal 4-5 akibat bantalannya sudah rusak. Beliau mengarahkan saya untuk melakukan operasi makro atau besar dengan mengganti bantalan tulang belakang diantara lubal 4-5 dan diperkuat oleh pemasangan titanium diantara lumbal 4-5.

Saat itu saya merasa bingung Seolah-olah saya ada di sebuah persimpangan jalan dan harus memilih jalan mana yang harus saya tempuh, di saat kebingungan, resah, dan galau untuk memutuskan pilihan, tiba-tiba saya kedatangan seorang pasien Dr. Sofyan yang bernama Bapak Satrio usia 70 tahun dari Purwokerto berjalan menuju ruang inap saya dan menceritakan kalau mengalami sakit yang sama dengan saya bahkan lebih parah dari saya, karena sarafnya yang terjepit sudah di atas 70% bahkan beliau sempat meminta kakinya di amputasi karena tidak tahan dengan rasa sakit yang di deritanya.

Yang akhirnya beliau mendapat informasi tentang keahlian Dr. Sofyan maka beliau memutuskan untuk bertemu Dr. Sofyan dan segera untuk di operasi. Tiga hari setelah operasi beliau menceritakan rasa sakitnya hilang dan membuktikan bisa jalan masuk keruangan saya sambil menceritakan kisah sakitnya.

Melihat fakta di hadapan mata saya tanpa ragu langsung saya putuskan untuk segera melakukan operasi makro atau besar dengan memasang titanium diantara lumbal 4-5. Maka pada tanggal 25 maret 2013 jam 06.00wib saya di operasi. Pagi itu tubuh saya di angkat di pindahkan ke tempat tidur dorong menuju ruang operasi, saya melihat Ibunda saya, Istri saya dan anak-anak saya Kiki, Andika, Lia, Fany, Valentino, Aditiya dengan setia mendampingi dengan membisikan do’a sebagai suport untuk memacu semangat saya agar tetap optimis.

Saya merasa semangat dan termotifasi karena ternyata teman-teman sahabat dan kerabat saya juga menunggui saya dengan sabar dalam proses operasi tersebut. Tempat tidur dorong saya terus menggelinding menuju ruang operasi. di ruang operasi tersebut saya mencoba melihat ke kanan dan ke kiri suasana ruang operasi tersebut sambil saya berdoa dan pasrah kepada Allah SWT, saya bermunajat kepada Allah SWT dan menyerahkan tentang hidup dan matiku hanya kepada Allah SWT. Saya memohon kepada Allah SWT agar aku di berikan kesembuhan dengan menuntun dokter yang mengoperasi saya agar diberikan kemudahan kelancaran dan keberhasilan, Setelah itu saya tidak ingat apa-apa.

Dan selanjutnya pada jam 11.00 WIB siang saya sadar terasa terbangun dari tidur, mata rasanya ngantuk sekali mungkin itu adalah reaksi dari obat bius, lamat-lamat saya mendengar sapaan Ibunda, Istri dan anak-anak saya begitu juga teman, sahabat, dan kerabat saya bergantian menyapa saya.

Ketika kesadaran saya sudah mulai pulih dari reaksi obat bius, saya mencoba menggerakan kaki kanan saya, rasa sakit itu sudah tidak terasa,  ternyata saya rasakan kaki kanan saya normal. Saya coba kaki kiri saya gerakan ternyata juga normal bahkan kedua tangan sayapun saya gerakan juga merasa normal, saat itu saya mengucapkan takbir “Allahhuakbar” rasa syukur yang tiada tara atas kuasa dan kebesaran Allah SWT saya bisa diberikan keselamatan dalam proses pelaksanaan operasi.

Tanggal 27 maret 2013 sekitar jam 12.00 WIB siang Dr. Sofyan dan Dr. Gigih visite keruangan saya, saya langsung diminta untuk duduk dan berjalan. Saya mencoba mengikuti saran dokter tersebut Alhamdulillah saya bisa duduk dan mulai bisa berjalan dengan jarak kurang lebih 6 m dengan kaki sedikit gemetar. Kata Dr. Sofyan kaki gemetar tersebut karna terlalu lama kaki saya tidak di gunakan untuk berjalan.

Senang dan bahagia saya rasakan, karena sudah bisa duduk dan berjalan sejauh 6 m. Keesokan harinya pada tanggal 28 Maret 2013 saya mulai ada peningkatan dengan berjalan kurang lebih 60 m. pada tanggal 29 Maret 2013 terus saya mengalami peningkatan yang lebih baik dan sudah mampu berjalan mencapai 1000 m atau 1 km. perkembangan terus membaik pada diri saya, saya sudah bisa melakukan aktivitas sholat rukuk dan sujud.

Dan lalu saya pulang kerumah di Desa Tanggul Kulon Kabupaten Jember. Sesampainya di rumah saya sebagai seorang petani mulai melakukan aktivitas sehari-hari. Pada saat ini tanggal 6 April 2013 paska operasi 12 hari, pagi ini saya melakukan kegiatan rutin saya setelah sholat subuh melakukan olahraga jalan kaki dengan jarak tempuh 6 km dan waktu tempuh 1 jam 15 menit. setelah itu saya lanjutkan berjalan ke kebun, ke kandang sapi, dan ke kandang ayam dengan mengendarai traktor. setelah itu saya mandi pagi dan di lanjutkan dengan latihan taichi kegiatan tersebut diatas sengaja saya lakukan pada paska operasi 12 hari untuk membuktikan apa yang dikatakan Dr. Sofyan, kalau aktivitas tersebut bisa dilakukan yang tentunya dengan hati-hati.

Bahagia haru yang menyelimuti hati dan pikiran saya dan rasa bangga yang sangat luar biasa terhadap Dr. Sofyan dan Dr. Gigih terhadap kemampuannya sebagai seorang ahli di bidang bedah syaraf. Ternyata di negeri ini ada anak bangsa yang mempunyai kemampuan yang tidak kalah dengan dokter ahli bedah syaraf di luar negeri. Semoga di negeri ini akan terus bermunculan dan lahir dokter-dokter seperti Dr. Sofyan dan Dr. Gigih.

Betapa bersyukurnya hati ini bisa terlepas dari ancaman kelumpuhan yang sempat saya alami sekitar kurang lebih setengah bulan itu dengan menyebut Takbir beberapa kali sayapun bisa melangkah lagi dengan kedua kaki ini.

Penulis:

HM. Arum Sabil

Petani dari Desa Tanggul Kulon Kabupaten Jember Jawa Timur

One thought on “Saya Menderita Hernited Nucleus Pulposus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: