Sekali lagi Tentang Pendidikan

Sekilas Tentang Dunia Pendidikan di Jember

oleh : Akhmad Fauzi*

Ada cerita yang menarik ketika penulis mengikuti workshop pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning, red) untuk guru di sekolah unit baru (USB) dan sekolah satu atap (SSA) –mohon dicermati status sekolahnya-. Ketika sesi tanya jawab, ada seorang guru yang membeberkan pengalamannya dalam menangani siswa, sambil berkaca-kaca sang guru bercerita. Maka terkuaklah dalam forum itu gambaran siswa yang dekil, tidak ada minat belajar, gersangnya respon orang tua sampai kondisi sarana yang beraliran minimalis. Inti paparannya, pembelajaran CTL (dalam arti luas) adalah sesuatu yang nisbi.

Kegetiran guru tersebut bisa dimaklumi, tetapi tidak berdasar. Sebab 50 tahun yang lalu, ketika pembelajaran konstruktivistik (yang salah satunya melahirkan metode pembelajaran CTL) ini diujicobakan, sama sekali tidak mengaitkan kondisi siswa, orang tua ataupun sarana sebagai variabel penelitian. Justru kekuatan pembelajaran ini ada pada pemberdayaan faktor-faktor riil yang sedang dihadapi guru dan siswa untuk mengkontruksi fikir dan materi yang dipelajari dengan berbagai metode.

Diakui atau tidak, persepsi ini begitu subur hinggap di kalangan pendidik sendiri. Sehingga tanpa disadari menimbulkan kesalahan persepsi turunan yang lain, di antaranya :
1. rasa pesimistis (kalah sebelum perang), dalam artian, ambigu terhadap dinamika pembelajaran itu sendiri yang akhirnya memilih menerima kompetensi yang dimiliki apa adanya.
2. larut dalam tuntutan birokrasi, maksudnya, karena terlalu lamanya persepsi ini dibiarkan mengendap hingga langkah kinerjanya sebatas untuk memenuhi kewajiban administratip.

Setidaknya penulis melihat adanya dua gelagat yang cukup familier mewabah di kalangan pendidik (bukan di Jember saja), yaitu :

1. Berfikir Verbalistik

Gejala berfikir verbalistik ini dapat dilihat dari adanya kontroversi pelaksanaan ujian nasional. Sudah bukan rahasia lagi kalau ujian nasional merupakan target akhir. Dan tidak sedikit yang mensikapi perhelatan nasional ini dengan langkah-langkah yang kurang terpuji. Permasalahannya bukan pada perlu tidaknya ujian ini dilaksanakan, tetapi pada penekanan sikap. Hampir semua sekolah akan mementingkan momen ini, seakan pembelajaran adalah untuk ujian nasional. Benarkah?

Gejala lain dapat pula dilihat dari maraknya workshop dengan iming-iming sertifikat bertaraf internasional. Dapat dipastikan panitia tidak akan pernah merugi, sementara peserta merasa terpuaskan dengan sertifikat yang diperoleh. Sebatas sertifikat! Mengapa? Karena dalam sertifikat ada janji-janji verbal.

2. Bersikap Eksklusif

Akhir dari rentetan kesalahan persepsi guru di atas akan berimbas pada ketertutupan diri (eksklusif). Realitas di lapangan membuktikan adanya keengganan sebagaian besar guru untuk membiasakan budaya tutor sejawat. Dan tidak jarang terjadi keengganan untuk membuka diri terhadap perubahan. Paradoks bukan?

Lain lagi dengan hasil penelitian beberapa waktu lalu yang dilakukan pemerintah Jerman yang bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Jember terhadap 10 sekolah (8 SSN, 1 RSBI, 1 SBI) di wilayah kerja kabupaten Jember (Radar Jember, September 2009). Menarik untuk dicermati dari pemberitaan tersebu, ibarat sebuah produk pelayanan jasa, pelanggan merasa kurang puas dengan hasil pelayanan. Maka wajar jika timbul pertanyaan-pertanyaan nakal : 1) hasil ini dari sekolah kotip, SSN lagi, lantas bagaimana dengan yang di luar kotip dan yang bertaraf di bawah SSN? 2) dikemanakan hasil pembinaan dan pelatihan yang selama ini diperoleh? 3) adakah kesalahan sistem dalam hal ini? 4) se-sistemik apakah kesalahan itu? Maka tersedia banyak pernyataan untuk menjawabnya, tergantung siapa yang akan menjawab!

Sebenarnya ini bukanlah sesuatu yang aneh, jauh sebelumnya, beberapa kalangan (dari birokrat maupun praktisi pendidikan) sudah memprediksi terjadinya kondisi ini. Bahkan dengan ringannya mereka mengakui adanya kesalahan kronis dalam menejemen pendidikan, yang ujung-ujungnya masyarakat diminta bersabar karena angin perubahan tidaklah semudah membalikkan tangan. Titik. Sementara kehidupan terus berjalan, budaya begitu dinamis, dan pola pikir masyarakat menuntut untuk melesat tinggi.

Penulis menyayangkan keadaan ini. Bisakah pemerintah disalahkan, padahal realitas menunjukkan, dalam kurun 5 tahun terakhir pemerintah begitu mesra dengan dunia pendidikan. Kran pengembangan diri dibuka lebar-lebar, dana begitu deras mengalir di pojok-pojok kelas. Lebih hebat lagi, perangkat perundangan apa lagi yang dibutuhkan pasti akan dibuatkan. Bagaimana dengan masyarakat? Sampai detik ini tidak ditemukan alasan yang cukup kuat untuk bisa menyalahkan masyarakat, kecuali dalam kasus-kasus tertentu. Kalau demikian, berarti manusianya sebagai pelaku pendidikan. Ternyata faktor ini masih harus di pilah lagi. Siswakah? Jelas bukan, karena siswa bukan lagi sebagai objek didik yang tentunya harus steril dari kesalahan proses pembelajaran terhadap dirinya. Kalau toh guru yang terpaksa menjadi sasaran kesalahan, di wilayah mana letak kesalahannya; sumber daya manusianya (yang biasanya berbentuk kompetensi shoftwear) ataukah faktor pendudukung yang membentuk kompetensi profesinya? Semoga saja seiring perjalanan waktu yang sudah empat tahun itu, wajah pelayanan pedidikan di Jember sudah berubah wajah.

Fenomena di atas adalah sebagian kecil dari aneka warna yang ada di dunia pendidikan. Apapun kenyataannya, sungguh elegan kalau kita sebagai pelaku mengakui bahwa keprofesionalan kita sebagai pendidik sedang digugat oleh keadaan. Pensikapannyapun harus realistis dan terstruktur. Jadi, instropeksi adalah langkah yang tepat dalam mensikapi fenomena ini.

Benang merah permasalahan pendidikan memang terlalu rumit untuk diurai. Meski demikian, kita harus memiliki minimal 2 keyakinan, yaitu : 1) menyadari telah terjadi kesalahan tetapi tetap optimis kalau kesalahan itu adalah momen yang tepat untuk menjadi pijakan menuju yang lebih baik, dan 2) berani berimprovisasi untuk menemukan alternatif pemecahan. (*)

Kertonegoro, 27 Agustus 013

Penulis adalah Praktisi Pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: