Siapakah Diri Ini Besok?

Oleh : Akhmad Fauzi*

“faidafaraqtafanshob”
“wailarobbikafargob”

Tidak seharusnya, pilpres ini sebagai keningratan aktifitas. Menghabiskan yang tersisa dari perjalanan sejarah diri. Memulai menatapnya sebagai budaya seharusnya segera dilakukan. Sangat disayangkan jika harus dipaksa akan membentuk kejatuhan-kejatuhan. Polarisasi wacana hanyalah akan membentuk keterbatasan memandang.

Singkat cerita, siapakah diri ini besok? Hanya yang ingin menggadaikan takdir dirilah yang menatap seakan besok akan lahir dewi fortuna. Sementara setiap jenjang ketakutan tidak lebih dari buah “kelicikan” tingkah diri. Lahir kembalikah kita besok? Padahal catatan panjang sebegitu indahnya dalam memori diri. Menanggalkan yang sudah terlukis sama kadarnya dengan memaksa meludahi lukisan diri.

Besok adalah rutinitas budaya bangsa yang sudah dimaknakan oleh pendahulu kita untuk meneruskan wibawa negara bangsa. Jangan sakralkan budaya itu, agar tidak bersimpuh di bilik kegersangan emosi. Menatap ke depan usai menunaikan urusan lebih memberi arti untuk bisa leluasa menterjemahkan lagi esensi Illahi.

Begitu kita selesai berurusan dengan dunia dan dengan segala tanggung jawab kita di dalamnya, hendaknya kita bersiap-siap untuk mencari pengetahuan langsung tentang Realitas Ilahi. itulah makna “faidafaraqtafanshob”. Maka, akan ada kerinduan (lanjutan) untuk menjadikan Tuhan sebagai tujuan, itulah “wailarobbikafargob”.

Masih diri sendirikah kita besok, iya…!!! Kecuali yang ingin berniat mendholimi hati. Karena sejatinya, tidak ada yang mampu menyakiti kita kecuali diri kita sendiri, itupun atas kehendah Tuhan, Tuhan yang menjadi fokus utama kita.

Selamat menidurkan hentakan, apapun wacana dan rencana yang ada sesungguhnya jauh sebelum besok sudah tertulis dengan rapi dalam takdir-Nya. Maka merebahkan sayap ambisi lebih manusiawi dari pada memaksa duga seakan bisa membaca suasana.

Malam ini adalah persimpangan jalan jika memang masih ada sisa-sisa nilai yang ingin berbenturan dalam kegelisahan diri. Hanyalah persimpangan, bukan membuat ulang.

Dusta, kalau masih ingin besok bukan diri sendiri,
Kita Indonesia (*)

Kertonegoro, 8 Juli 014
Salam,

Berangkat Dari Hati Untuk Menumbuhkan Energi Positif

Ilustrasi : pixabay.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: