Solusi Biaya Kuliah Mahal

SwandonoOleh: Suwandono

JEMBER (titik0km.com) – Kita sering memakai kata “musim” untuk menyebut suatu masa. Ada musim rambutan, durian, giling tebu, hingga musim kawin. Khusus bulan Juni hingga Agustus, saya acap menyebutnya musim hutang. Lho, mengapa demikian? Karena dalam masa itu banyak pegawai dan pekerja proyek saya yang mengajukan permohonan hutang. Fenomena itu selalu terulang dari tahun ke tahun. Untuk keperluan apa mereka berhutang? Untuk membayar biaya sekolah atau kuliah.

Mahalnya biaya pendidikan menjadi pangkal persoalannya. Untuk masuk di TK saja, kadang butuh biaya jutaan rupiah. Kian tinggi jenjang sekolahnya, kian tinggi pula biayanya. Bahkan untuk fakultas-fakultas favorit di perguruan tinggi biayanya ratusan juta rupiah.

Bagi pegawai rendahan, apalagi kelas pekerja bangunan, tingginya biaya pendidikan menjadi momok yang amat menakutkan. Bila mereka punya barang yang bisa dijual, pasti akan menjualnya untuk menutup biaya itu. Jika sudah tak punya barang, jurus hutang selalu jadi andalan. Sampai kapan musim hutang ini ada? Sampai ada skema pendidikan yang berpihak pada mereka.

Saya tidak tahu apakah para petinggi negeri ini paham bahwa sistem pendidikan yang ada saat ini bisa membunuh harapan kaum papa. Banyak orang tua terpaksa mengubur hidup-hidup impian anaknya menjadi dokter, arsitek top, notaris, dan lainnya. Mengapa demikian? Karena mereka sadar tak mungkin kuat membayar biaya kuliahnya. Bahkan, janin impian itu sudah harus diaborsi ketika anaknya masih di bangku SLTP. Mereka sudah mewanti-wanti anaknya untuk tidak bermimpi menjadi dokter, perlahan mereka menggiring anaknya untuk cukup sekolah sampai SLTA saja. Selanjutnya disuruh mencari pekerjaan.

Keadaan yang demikian, menimbulkan dampak sistemik amat luas. Motivasi anak-anak miskin bisa surut karena impiannya harus terpenggal sebelum waktunya. Yang terlahir miskin, kian sulit bersaing dengan yang berkecukupan. Fakultas favorit di perguruan tinggi terkesan lebih diperuntukkan bagi anak-anak orang mampu. Memang ada fasilitas untuk anak miskin, akan tetapi fasilitas itu seperti lotere. Susah ditangkap dan hanya segelintir orang yang beruntung. Bisa jadi pendapat saya salah dan bisa didebat habis-habisan oleh para pengelola perguruan tinggi. Namun, keadaan yang acap saya temui memang seperti itu. Mungkin Anda juga pernah mendengar atau bahkan mengalaminya sendiri.

Dengan sistem pendidikan yang ada saat ini, banyak peristiwa yang susah dicerna akal sehat. Para orang tua yang punya anak cerdas yang ingin kuliah justru amat terbebani hidupnya. Kepalanya seperti mau pecah karena pertentangan kepentingan. Di satu sisi ingin anaknya bisa kuliah di fakultas favorit, di sisi lain mereka tidak punya uang untuk membiayainya. Orang tuanya susah, anaknya stress.

Saya pernah membayangkan sistem penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri yang bisa menumbuhkan harapan orang-orang yang kurang beruntung secara materi. Dalam imajinasi saya, para lulusan SLTA yang mendaftar ke PTN tidak perlu memilih jurusan. Mereka hanya mendaftar saja, lantas mengikuti tes seleksi. Kapan mereka memilih jurusan? Setelah hasil tes seleksinya keluar.

Misalnya di Universitas Jember tersedia 5.000 kursi mahasiswa baru. Dari hasil tes seleksi yang sudah dilakukan, dibuat urutan peringkatnya. Dari ranking 1 sampai 5.000. Mereka yang berada di peringkat 1 diberi kesempatan pertama memilih fakultas yang diminatinya. Disusul peringkat 2-3-4 dan seterusnya. Konsekwensinya, peserta seleksi yang peringkatnya rendah, pilihan fakultasnya kian sempit karena sudah diisi peserta yang peringkatnya baik. Yang rangking 5.000 sudah pasti tidak punya pilihan. Tinggal mau atau tidak. Kalau tidak mau duduk di kursi terakhir, ya bisa beralih ke PTS.

Dengan skema itu, anak-anak cerdas punya kesempatan memilih jurusan favorit yang mereka anggap menjanjikan masa depan cerah. Fakultas kedokteran atau teknik, misalnya. Lantas, bagaimana urusan biayanya? Bila orang tuanya benar-benar tidak mampu membayar, bisa mengajukan hutang kepada negara. Bagaimana pengembalian hutangnya? Dibayar dengan sistem angsuran ketika si anak itu sudah bekerja. Tentu bukan hal sulit untuk menyusun sistem pengamanan pengembalian hutangnya. Dalam pemahaman saya, negara memang berkewajiban untuk mencerdaskan anak-anak bangsa, seperti diamanatkan dalam konstitusi.

Menurut saya, tugas orang tua miskin cukup sampai bisa membuat anaknya cerdas. Beban hidup mereka sudah amat berat di peradaban modern ini, tidak perlu lagi ditambahi beban biaya kuliah anak-anaknya yang mahal.

Dengan sistim macam itu, saya bayangkan semua orang akan berusaha sekuat tenaga mencetak anak-anak pintar. Mereka akan mencermati perkembangan prestasi sekolah anak-anaknya. Akan tercipta kompetisi positif di seluruh negeri. Orang-orang miskin punya harapan kelak hidup berkecukupan bila punya anak cerdas. Mereka punya impian indah, ada harapan yang ditunggu di hari esok. Angin optimis akan menyebar ke segala penjuru negeri, menyelinap ke semua paru-paru dan menimbulkan gairah luar biasa. Semua orang akan hidup dengan penuh harapan.

Sistem itu bisa mengeliminir praktek jual beli kursi yang saat ini jadi gosip tak sedap. Juga membuka peluang lahirnya orang-orang hebat di berbagai bidang. Pada ahli akan tumbuh bak jamur di musim hujan. Tidak seperti keadaan sekarang yang melahirkan gurauan: “beberapa tahun lagi, kualitas dokter kita patut dipertanyakan. Karena para mahasiswanya hanya anak-anak orang kaya yang bisa jadi kemampuannya pas-pasan.” Gurauan itu memang sudah dibantah para civitas akademika. Mereka beragumentasi bila mahasiswanya bodoh, pasti tidak bisa lulus karena droup out. Argumentasi itu amat lemah, karena kemungkinan terbesarnya mereka tetap bisa lulus, akan tetapi prestasinya pas-pasan. Pantaslah kiranya bila banyak orang kaya lebih memilih berobat ke luar negeri. Mereka kurang percaya dengan kualitas dokter dalam negeri. Salah satu penjelasannya mungkin berawal dari gurauan itu.

Bila sistem itu belum bisa dilaksanakan secara nasional karena beragam alasan. Mungkin bisa dimulai dari daerah. Misalnya, Pemkot dan Pemkab membuka fasilitas “pinjaman pendidikan” untuk anak-anak cerdas yang orang tuanya tidak mampu. Duitnya dari mana? Amat mudah menjawabnya bila Walikota atau Bupatinya memang punya niat serta kesungguhan untuk itu. Semudah membalik telapak tangan. (*)

 *Suwandono adalah motivator dan penulis novel

One thought on “Solusi Biaya Kuliah Mahal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: