Taburkan Kemesraan Sebelum Terpaksa Dipisahkan

oleh : Akhmad Fauzi*

Ketika setangkai kembang jatuh ke tanah
Siapa yang menjamin ketepatan detik jatuhnya
Apalagi sebab mengapa
Sebegitu rapuh ternyata perengkuhan makna hidup ini
Sebatas pandangan dan pembualan angan

Yang bisa terjamah, semua berbatas
Hanya yang berlebihan berkehendak ingin melampaui
Berlebihan segannya atau kelebihan dalam memuji
Maka subtansi isinya akan sulit tersentuh
Padahal, dalam isilah kebenaran berbicara banyak

Apa hak kita? Sementara diri juga tidak termiliki
Tergolek mati rasa tatkala malam menimang diri
Sejengkalpun tidak ada celah untuk berbicara keberpihakan
karena detik selanjutnya bisa jadi ditinggal selamanya

——)***(—–

Sajak dari rentetan perenungan akan jejalan masalah yang mengantri dalam kehidupan ini. menengok ke depan dan ke belakang hanyalah keniscayaan belaka, tanpa mampu terbaca kecuali oleh hati yang pandai mengambil hikmah. Detik ini kita memiliki, padahal tadi bukan milik kita. Detik kemudian semakin kabur, apakah masih milik kita. Sangat konyol ketika kita merasa memiliki padahal kita sendiri tidak tahu milik siapa.

Jabaran tentang bernilainya kesadaran akan nisbinya kepemilikan diri ketika tidak lagi berpikir memiliki. Sangat mungkin jika perenungan itu akan melahirkan nuansa bersyukur ketika waktu masih memperkenankan untuk bisa berkumpul. Berkumpul filosofinya adalah merenda kemungkinan untuk berpisah. Nilai nisbi kepemilikan itulah yang membuat keyakinan jika bepisah adalah nyata!

Maka jangan sia-siakan kesempatan sedetikpun ketika waktu memberi peluang untuk bisa berkumpul. Nilai berkumpul bukan pada siapa yang memfasilitasinya, dimana dengan fasilitas apa, kapan, dan bagaimana. Menenggelamkan beban yang dimiliki untuk menyambut ringannya suasana dengan senyum adalah sikap arif yang harus ditumbuhkan setiap kali menemui momen berkumpul. Berusahalah memaknakan suasana bertemu itu seakan tidak tertemukan lagi momen itu. Betapa berharganya berkumpul dalam sendau-gurau dengan anak istri suami, sementara senyum dalam berkumpul itu bisa tersadari pasti akan lenyap juga pada waktunya nanti!

Berpegang dari kesadaran berpisah itulah, visualisasi kemesraan semakin dipaksa untuk bisa dihadirkan. Hati teramat peka akan proses ini, mengiyakan dan akan berusaha memfasilitasinya, menjadi sekutu terdepan untuk memanjakan suasana dalam mesra. Mesra bermakna luas, bukan hanya sejengkal emosi untuk menuangkan gegabah amarah atau libido semata. Kemesraan adalah gambaran nyata dari kesefahaman akan kerdilnya diri untuk bisa lebih berarti. Memicu lebih dalam lagi jika setiap hentakan nafas sebisa mungkin merengkuh senyum.

Itulah pemaknaan lain dari diskurusus “perbedaan adalah rahmad”, upaya mengumpulkan aneka warna pelangi untuk tersajikan dalam satu menu kelegaan hati, bersama. Memang, ini sebuah rekayasa yang tidak segampang dalam menata kata. Sebuah proses yang memerlukan keluasan wacana, kedalaman pikir, keterasahan hati yang teramu dalam perjalanan sepanjang hidup yang dilaluinya. Sebab berlebihannya pikir akan “keakuanlah” yang lebih dominan menjadi benih penghambat yang kuat untuk menghadirkan rahmad itu.

Ini pula benih lahirnya “semakin tua semakin bijaksana”, karena konteks wacana telah menumpuk dalam memori, paruh perjalanan hidup yang semakin mendalamkan pikir, hati yang mulai menemukan warna sejatinya. Maka mesra dan kemesraan adalah unsur inti yang senantiasa terdambakan.

Betapa sebuah jenjang yang memang sewajarnya terimpikan dalam setiap relung insan. Menjadikan “hari ini lebih baik dari kemarin, esok lebih baik dari hari ini.” Sebuah idealisme langkah agar tidak sia-sia ataupun nista.

Maka mesrakanlah setiap momen yang tercipta walau hanya tersempatkan senyum dan mengerlingkan mata penuh makna rasa bahagia. Itu lebih menumbuhkan keberanian untuk berpisah, karena telah menunaikan tugas hatinya dengan menitipkan mesra pada momen yang ada. Yang berarti pula telah berhasil meninggalkan jejak romansa dalam setiap hati-hati yang terjumpakan.

Muara akhirnya adalah hati terbebas dari beban sakit dan menyakiti, memberikan suplemen otak untuk merebut kejernihan pikir yang akan terwujud dalam langkah yang meyakinkan. Mampu menyingkirkan gelapnya malam, karena optimis jika langkahnya adalah kemesraan adanya. Hadirnya dinanti, perginya meniggalkan hikmah tersendiri.

Taburkan kemesraan sekuatnya sebelum kemesraan itu tertelan perpisahan!

Bayangkan jika dalam masa kampanye satu dua minggu ke depan, menjadi momen bermesraan. Antara keinginan dan harapan, antara obsesi dan ajakan, antara melempar janji dan semangat menunaikan.

Bayangkan juga sistem tata aturan negeri dalam konsep mesra dan memesrakan, akan lahir kepastian, akan berteriak optimis hidup kegirangan, akan lahir ide-ide brilian. Maka akan hadir lukisan-lukisan wajah negeri yang tercerahkan.

Membayangkan juga berdiri mengepalkan tangan sosok negarawan yang berani menutup rapat lembar masa silam yang kelam ketika tidak ada benih kemesraan. Melenggang dengan jiwa kebesarannya, menyapa mesra anak negeri dengan menepati setiap detil langkah, bukan untuk kepentingan diri.

Terbayang senyum-senyum mesra rakyat jelata menyapa ramah dengan segala beban dipundaknya. Beban yang telah diterimanya sebagai keharusan takdir, karena telah tersadarkan oleh sapa mesra tatanan negeri penuh kemesraan.

Terbayang pula, jika itu tidaklah mustahil terjadi. Kini hanya perlu letupan masing-masing diri untuk menyadari jika berpisah adalah nyata, maka akan memicu kemesraan dalam setiap kali jumpa!

Selamat merenung, merenung yang terbaik adalah menatap kebesaran Tuhan yang memiliki kita! (*)

Kertonegoro, 28 Pebruari 014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: