Peringatan Nuzulul Qur'an 1435 H Korem 081 DSJ

MADIUN (titik0km.com) – Puluhan Prajurit dan PNS Korem 081/DSJ, juga ibu-ibu Persit Kartika Chandra Kirana Koor cab Rem 081 melaksanakan acara Peringati Nuzulul Qur’an 1435 Hijriah/2014 Masehi. Kegiatan yang dilaksanakan rutin setiap Ramadhan ini, berlangsung di Masjid Sudirman Korem 081/DSJ Jalan Pahlawan Kota Madiun. Sesaat setelah pelaksanaan Upacara Bendera yang dilaksanakan setiap Hari Senin, seluruh Prajurit dan PNS Korem 081/DSJ berbondong-bondong menuju Masjid Sudirman Korem 081/DSJ untuk mengikuti acara Nuzulul Qur’an. Acara diawali dengan Pembacaan Ayat Suci Al Qur‘an oleh Nanda Nida Atul Layinah, kemudian sambutan oleh Komandan Korem 081/DSJ, dan ceramah disampaikan oleh Kusnan Spdi dari Depag Kabupaten Madiun ini diakhiri dengan do’a bersama.

Acara ini selain juga diikuti oleh jajaran Perwira, Bintara, Tamtama, juga dihadiri perwakilan Anggota dari Kodim 0803/Madiun serta perwakilan Anggota Satdisjan yang ada di Madiun. Dalam Sambutannya Komandan Korem 081/DSJ yang dibacakan Kasrem Letkol Arh Eko Wibowo Kusrianto, S.E pada acara peringatan Nuzulul Qur’an ini disampaikan bahwa Nuzulul Qur’an merupakan tonggak awal proses turunnya Al-Qur’an kepada Rasul yang mulia Muhammad SAW.

Peringatan Nuzulul Qur’an memiliki hikmah yang dalam bagi proses pembinaan keagamaan, terlebih kegiatan ini dilaksanakan dalam kondisi sedang melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan. Bagi Umat Islam di Indonesia, peringatan Nuzulul Qur’an kali ini terasa sangat Istimewa. Karena pada bulan ini bangsa Indonesia melaksanakan pesta Demokrasi untuk memilih Capres dan Cawapres yang telah dilaksanakan dengan tertib dan lancar, yang akan ditetapkan oleh KPU pada Hari Selasa, tanggal 22 Juli 2014.

Peringatan Nuzulul Qur’an tahun ini menjadi Momentum yang tepat bagi Umat Islam di Negara kita untuk mendo’akan agar Penetapan Presiden terpilih Hari Selasa besok berjalan dengan aman dan damai, siapapun yang terpilih nantinya bisa membawa Bangsa dan Negara kita kearah yang lebih baik. Sejalan dengan itu peringatan Nuzulul Qur’an kali ini mengambil tema “Dengan Hikmah Memperingati Nuzulul Qur’an Kita Tingkatkan Keimanan dan Ketaqwaan Kita Kepada Allah SWT Sebagai Pedoman Dalam Menjalankan Tugas”.

Dalam tausiyahnya, Kusnan Spdi mengatakan Al-Qur’ān adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur’an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari rukun iman, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-’Alaq ayat 1-5. “Al-Qur’an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril A.S. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas,” jelas Kusnan dalam tausiyahnya

Kusnan juga menambahkan, Kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, pada dasarnya merupakan karunia terbesar bagi kehidupan umat islam dan bagi umat manusia secara umum. “Eksistensi Nabi Muhammad SAW sebagai penerima Wahyu, sesungguhnya diutus ke bumi ini sebagai Rahmatan Lil‘alamin, sehingga sangat tepat bila Al-Qur’an yang merupakan kitab suci petunjuk umat, juga merupakan rahmat bagi semua makhluk di alam semesta ini,” pungkas Kusnan. (asd)

Bagikan :

Menjadi Khusnul Khotimah Impian Semua Muslim

SURABAYA (titik0km.com)Peringatan Isra’ Mi’raj di Kodam V/Brawijaya tahun 2014 ini mengambil tema “Jadikan Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1435 H untuk Meningkatkan Kebersamaan Dengan Rakyat dalam rangka Menjaga Kedaulatan NKRI”, yang dihadiri oleh prajurit militer, PNS dan ibu-ibu persit Kodam , pada Senin (2/6) di Masjid At-taqwa Kodam V/Brawijaya.

Segala sesuatu yang dilakukan manusia dan hanya berorientasi pada dunia tidak akan membawa ketenangan karena pasti ada iri dan dengki, harus ada keseimbangan antara kebutuhan dunia dan akhirat agar tercapai ketenangan yang hakiki. Demikian yang sekelumit ceramah Ustadz KH. Sholihin Yusuf ketika menyampaikan ceramahnya pada acara peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1435 H.

Isra’ Mi’raj yang merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah menuju Madinah dan dilanjutkan ke Sidrotul Muntaha tersebut adalah kehendak Allah untuk menerima perintah melaksanakan sholat lima waktu bagi umat Islam. Perjalanan Nabi Muhammad SAW yang ditempuh dalam waktu semalam, adalah wujud salah satu kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad SAW. Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa yang langka/tidak masuk akal tetapi nyata.

Di samping itu menurut Kyai yang humoris ini, kita harus bisa mensyukuri dan menerima apa yang kita terima dengan ikhlas agar apa yang kita miliki menjadi barokah bagi diri kita dan orang lain. Selain itu beliau mengajak para prajurit, PNS dan ibu-ibu persit agar selalu mendekatkan diri dengan para alim ulama sehingga bertambah ilmu dan amal sholehnya. Sehingga dengan begitu, di akhir hidup kelak akan mencapai khusnul khotimah.

Sedangkan Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Eko Wiratmoko dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kasdam V/Brawijaya Brigjen TNI Asma’i mengatakan, bahwa peringatan Isra’ Mi’raj merupakan saat yang tepat bagi kita untuk merenung dan introspeksi. Dengan harapan kita semua sebagai anggota Kodam maupun warga masyarakat dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan Allah SWT.

Dalam amanatnya beliau juga menghimbau dan mengajak kepada keluarga besar Kodam V/Brawijaya untuk melaksanakan hal-hal sebagai berikut: Pertama, Laksanakan ajaran agama dengan penuh keyakinan dan buktikan secara nyata dalam bentuk perbuatan yang baik dan bermanfaat secara individu dan kehidupan sosial. Kedua,Tingkatkan disiplin dan solidaritas diantara seluruh komponen bangsa, sehingga kita tidak mudah dipecah belah oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mengatas namakan kepentingan rakyat. Ketiga, Melalui peringatan Isra’ Mi’raj ini, tumbuh suburkan semangat pengabdian yang profesional dan proporsional untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa guna meraih masa depan yang lebih baik. (asd)

Bagikan :

Benci Itu Menyakitkan Sabar Itu Memuliakan

Yang Tersisa Dari Maulid Nabi

Oleh : Akhmad Fauzi

Tertulis dalam sebuah sejarah Rosul, pada suatu hari, di akhirakhir hayat beliau, menegur Sayyidina Abu Bakar ketika ketahuan tertidur lelap di pagi hari menjelang subuh. Ketika di tanya oleh beliau mengapa sampai tertidur padahal tidak biasanya demikian? Abu Bakar menjawab kalau semalaman dia beribadah sekuatnya. Dengan senyum Roshululloh memberikan penilaian jika tidaklah harus seperti itu. Di akhir nasehat beliau, mengajak mertua beliau itu untuk wajar saja dalam beribadah dan meminta agar suatu saat nanti menggantikan beliau memberikan separuh dari makanannya pada seorang Afrika hitam beragama Yahudi, yang buta matanya yang biasa duduk di taman di tengah kota Mekkah.

Benar, amanat memberi makan itu ditunaikan oleh sahabat r.a ini. Hari pertama memberi makanan Abu Bakar terperanjat bukan main, karena mendapati ucapan orang buta itu untuk membenci Roshululloah, dengan berapi-api si buta itu berkata, “Hai orang yang memberi makan saya, jangan percaya dengan Muhammad, dia pendusta, pembual, hanya menipu hati kalian, jauhi dia sejauh-jauhnya….”. Sebenarnya Abu Bakar marah dan ingin menjawab ucapan itu, tetapi teringat pesan Nabi, maka amarah itu dipendamnya.

Barulah di hari ketiga Abu Bakar sudah tidak kuat dengan cacian terhadap Roshulullah ini, apa lagi ketika di tanya siapa anda? Maka dengan terheran-heran, Abu Bakar menjawab jika dia adalah orang yang biasa memberi makan dia, si buta itu selama ini. Dengan berteriak, si buta berkata, “Anda bohong besar, anda bukan yang terbiasa memberi makan saya….!!!” Abu Bakar tetap bertahan dengan jawaban pertamanya karena sudah diwasiati oleh Nabi untuk mengatakan demikian untuk menyembunyikan jati dirinya.

Marah si buta atas pengakuan Abu Bakar itu. Dengan berteriak-teriak sembari berdiri dan menunjuk-nunjuk ke segala arah, si buta membentak, “Kamu melecehkan saya ya, dikira tidak bisa merasakan! Kamu bukan orang yang biasa memberi makan saya, kamu orang lain…!” Abu Bakar bingung, maka dia meminta alasan si buta itu kok bisa tahu kalau dia bukan orang yang biasa memberi makan itu. Dengan tetap berteriak dan marah dia melanjutkan, “Kamu bukan orang itu, karena jika kamu orang itu, kamu pasti menyuapi makan ke mulut saya. Tidak seperti kamu yang hanya meletakkan makanana yang engkau berikan itu ke tangan saya….!!! Kamu pengikut Nabi pendusta itu ya….!!!” Hardik orang buta itu.

Dengan teramat lunglai, Abubakar meninggalkan sendirian orang itu dengan mencoba tetap berusaha untuk tidak membencinya.

Subhanallah, itulah Roshulullah. Teladan sempurna nyata ada di Beliau SAW. Sambil melangkah, Abu Bakar menangisi hebatnya hati kekasih Allah SWT ini. Jadi selama ini Roshululloh bersabar diri dengan si buta ini. Bayangkan, sudah jatah makan paginya dibagi separuh dengan orang buta itu, disuapkannya lagi makanan yang diberikan ke mulut si buta, masih juga harus sabar mendengar cacian-caciannya. Subhanalllah…!!!

Habis sudah kata-kata yang ingin di tulis saat ini. Ikut lunglai merasakan betapa hebatnya Roshulullah menata hati menyikapi apa yang sedang di hadapi.

Rsuhulullah memang insan pilihan, tetapi bukan berarti menjadi pembenar jika kita tidak mampu mengikuti akhlak beliau. Apa yang belum tertulis tentang beliau? Apa yang tidak ada di Beliau? Apa yang ingin digugat dari figur Beliau? Caci dan hina apa lagi yang belum tertumpah…!!! MasyaAllah…!?

Ya Muhammad, ya Rosul…. Kami hanya ingin menulis setitik kemuliaan akhlakmu untuk menjadi jaring keberingasan diri. Selebihnya, Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad….. (*)

Kertonegoro, 15 Januari 014

Catatan :

Kisah di atas saya sadur dari tausiyah Ustadz Wijayanto dalam acara “(bukan) Empat Mata” (tayangan 14 Januari 014), tentu dengan modifikasi untuk enak dijabarkan menjadi bahasa tulis. Semoga Allah SWT mengampuni saya jika ada satu dua frase yang mungkin masih salah. Mohon maaf pula untuk pembaca.

Bagikan :

Pemuda Derma Insani Bahagiakan Yatim

JEMBER (titik0km.com) – Puluhan anak yatim larut dalam kegembiraan bersama teman-temannya. Mereka terlihat sangat antusias mengikuti instruksi dari kakak-kakak pendamping dalam berbagai permainan yang mengggembirakan di salah satu taman wisata di Jember.

Menurut Makmun Jaya, pendiri Derma Insani, kegiatan bertajuk “Tebar Ceria Yatim” yang melibatkan puluhan anak yatim dan para dermawan ini diselenggarakan oleh organisasi pemuda Derma Insani. “Turut hadir pula para donatur ke acara yang digelar disalah satu taman wisata di Jember, hari Minggu (17/11). Mereka datang dan memberikan santunan uang tunai secara langsung kepada para anak yatim,” jelas Makmun Jaya.

Derma Insani sendiri merupakan Organisasi yang berdiri sejak 2010 yang senantiasa aktif dalam menyelenggarakan kegiatan sosial untuk Anak Yatim dan Janda Tua. Hingga saat ini Derma Insani yang dimotori oleh para kawula muda berjiwa sosial tinggi terus aktif dalam mengkampanyekan gerakan peduli anak yatim dan menyantuni serta memberdayakan para janda tua. “Sebagai bentuk kepedulian kami selaku pemuda dan dalam rangka merayakan peringatan hari anak yatim yang yang kebetulan jatuh pada bulan Muharrom tepatnya pada 10 Muharrom,” lanjut Makmun Jaya yang juga pendiri organisasi Derma Insani

Dlaam rilisnya, acara tebar ceria yatim merupakan puncak dari rangkaian acara “Festival Anak Yatim Derma Insani”. Sebelumnya telah diselenggarakan acara sunatan massal anak yatim, doa bersama dan santunan tunai dan kemudian ditutup dengan acara rekreasi bersama para yatim. “Rekreasi ini merupakan puncak acara dari Festival Anak Yatim Derma Insani, sebelumnya kami sudah menggelar acara sunatan massal, makan bersama yatim plus santunan langsung,” ungkap deni selaku panitia pelaksana kegiatan.

Menyantuni anak yatim memiliki keutamaan yang sangat luar biasa. Bagi orang-orang yang peduli pada anak yatim akan mendapatkan keismewaan tersendiri. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW “Aku dan orang-orang yang mengasuh atau menyantuni anak yatim di Surga seperti ini, Kemudian beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya.”

Bahkan dalam hadist yang lain diriwayatkan bahwa menyantuni anak yatim dapat melembutkan hati.“Ada seorang laki-laki yang datang kepada nabi mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabipun bertanya: sukakah kamu, jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi? Kasihilah anak yatim, usaplah mukanya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” [HR. Thabrani, Targhib, Al Albaniy: 254].

Sejak berdiri hingga saat ini Derma Insani terus berfokus pada gerakan membangun umat terutama dalam memberdayakan anak yatim dan janda tua. Mengusung misi “Terwujudnya Masyarakat Indonesia Berdaya Ekonomi Mandiri & Berjiwa Insani” para kawula muda yang tergabung dalam Derma Insani terus aktif menggalang dana dan menyalurkannya kepada yang berhak dengan berupa program pemberdayaan maupun santunan tunai. (asd)

Bagikan :

Mari Kita Bicara Terorisku

Mari Kita Bicara Terorisku

Oleh : Akhmad Fauzi(*)

Jujur saja, ada rasa takut juga untuk memulai tulisan ini. Ketakutan terbesarnya ada pada diri saya sendiri. Ekses akan tidak bernilainya diri di antara besarnya tema yang akan saya ungkap, itulah yang saya takuti. Untuk mati, rasanya terlalu naif jika harus ditakutkan, karena KEMATIAN BUKANLAH TRAGEDI. Untuk kebermanfaatan tulisan, saya pikir harus mengakui kalau tulisan ini tidak akan pernah mampu merubah sesignifikan mungkin fenomena teror yang ada. Untuk merubah persepsi? Apalagi lagi ini, karena, saya termasuk yang percaya warna persepsi (seiring meluasnya akses global dan kompleksnya permasalahan) sulit untuk di giring, kecuali ADA HIDAYAH.

Sejatinya, besarnya tema ini bukan pada terorisme itu, karena bagi saya, terorisme adalah konsekwensi logis dari aksi dan reaksi sebelumnya. Tidak ubahnya kita mendiskusikan antara telor dan ayam. Sederhananya, terorisme adalah rumbai-rumbai saja, bukan fondasi yang harus digali.

Oleh karena itu, terorisku, perkenalkan, saya hanyalah hamba yang ditakdirkan Tuhan, Allah SWT, untuk diberi kekuatan menyapa anda, kalian semua. Meski sapa saya ini tekesan abstrak dan absurd, tetapi saya yakin kalian punya eksistensi dan lahan yang sama, yang telah diberikan Tuhan (maaf, saya memakai kata Tuhan saja ya untuk menyebut kemuliaan dan kebesaran Tuhan, Allah subhanahuwata’ala) kepada kita di dunia ini. Seperti terurai di atas, ada juga ketakutan saat menulis semua ini. Syukurlah, fikir saya masih mau untuk sejenak menata hati yang kemudian muncul bisikan, “teruslah menulis, nilai kemanusiaan memanggilmu untuk itu”.

Terorisku, maafkan kalau aku memanggilmu demikian. Saya tahu persis engkau pun tidak ingin dipanggil itu. Saya juga tahu persis engkau lebih senang terpanggil “jihad” dengan dasar utama karena panggilan hati yang engkau yakini. Saya tidak akan mendiskusikan hal ini, karena saya tahu apalah diri saya. Lebih dari itu, saya menyadari saya tidak perlu ambil bagian untuk menjadi penengah.

Aku memanggil teroris, karena dalam kajian keilmuwan yang saya miliki mengatakan demikian. Siapapun yang menimbulkan ketakutan dan kerusakan, menurut ilmu yang saya pelajari, adalah teroris. Iya, terorisku, yang di dalam negeri saja berapa yang harus di sebut teroris, apalagi yang di luar sana. Jadi, semoga semua memaklumi pemanggilan saya ini seperti itu. (lihat link ini : http://id.wikipedia.org/wiki/Definisi_terorisme)

Terorisku, kita mulai dari aktifitas saya ya. Setiap kali ada aksi kalian, pasti besoknya puluhan pertanyaan selalu terlontarkan oleh siswa didik saya. Bukan lelahnya untuk menjawab, terorisku, tetapi setiap kali jawaban normatif saya sampaikan, siswa selalu mengalami kebingungan. Kasihan siswa saya, karena sesuatu yang normatif dari saya selalu dijawab kejadian-kejadian yang ada. Saya khawatir saja, jangan-jangan siswaku juga antipati dengan yang normatif itu. Padahal terorisku, selama saya jadi guru, hanya tiga empat anak yang ingin (entah guyon apa serius) menjadi teroris, meskipun kenyataanya sekarang empat anak itu “tidak jadi” mewujudkan cita-citanya.

Di keluarga saya juga begitu, kebetulan semua wajar-wajar saja, tidak ada yang berminat menjadi teroris. Ada sih dua tiga orang saudara yang senang menjadi teroris, tetapi sebatas teroris tingkat keluarga. Ada juga satu keluarga saya yang sedikit beraliran keras ketika saya tanya, “Kenalkah anda dengan teroris itu?”. Jawabnya kok begini : “Hanya khilafah yang bisa mengatasi semuanya…”. (jangan protes dulu ya, karena wacana yang ada selama ini –katanya- teroris itu dekat dengan aliran keras ini. Untuk saya, saya termasuk yang tidak setuju kalau ada justifikasi itu).

Terorisku, mari kita bicara, atau lebih tepatnya, “bicaralah”. Wujud dari keinginan akan engkau bicara sangat kuat kok. Masih sangat buram di pemikiran saya, mengapa Bapak polisi (kemarin itu) harus seperti itu. Masih kabur logika saya, ada apa di berdarah-darahnya demonstran itu? Lebih kabur lagi, mengapa yang jadi otak selalu remang-remang. Semakin kabur saja ketika gelimpangan noda itu di wacanakan BENARSALAHNYA.

Terorisku, coba adakan pendekatan dengan mantan-mantanmu yang sekarang mencoba menjadi pengamatmu. Siapa tahu mereka tidak saja menjadi pengamatmu bahkan bisa jadi menjadi “jembatan” akan hasrat yang engkau miliki. Saya termasuk yang heran kok dengan analisis mereka yang kadangkala menjadikan “bekas komunitasnya” menjadi titik satu-satunya. Padahal, kesempatan teroris itu cukup luas untuk dijajaki. Yang mengambil situasi juga bisa dikatakan teroris, yang ingin mengalihkan perhatian pun juga bisa dikatakan teroris, apalagi yang memang berprofesi teroris.

Terorisku, negara ini punya salah apa di kalian. Sungguh, saya tidak ingin mengatakan “korban itu punya salah apa”, karena, siapapun korbannya tetap negara juga yang repot merawatnya. Saya pernah ditanya anak saya yang sudah menginjak dewasa, ini pertanyaannya : “Pa, apa maksudnya negara tidak boleh kalah dengan teroris?”. Aku menjawab begini : “Itu artinya negara harus bijak, mbak. Satu kaki sebagai pelindung, kaki lainnya harus bisa melakukan pencegahan”. Teroris, anak saya tanya lagi, “Apakah negara sudah melakukan itu?”. Singkat jawaban saya, “Sudah, mbak…”. Rupanya anak saya semakin bingung, saya tahu, dalam fikirnya adalah : “Kok masih juga ada teroris, ya…?”

Sama dengan yang saya fikirkan apa yang menjadi tanda tanya anak saya itu. Bedanya, terorisku, saya sudah faham kalau kalian, terorisku, tidak akan berhenti selama tidak ada kelapangan hati dan fikir. Dan saya sangat faham, teroris itu, terorisku, akan tetap ada karena hanya ada satu manusia yang dijaga hatinya untuk menjadi teroris, yaitu Muhammad SAW. Terorisku, semua berpotensi untuk menjadi teroris kok. Makanya, mari kita bicara.

Bicaralah, terorisku, saya menulis ini karena termasuk yang ingin menghargai isi pembicaraan kalian. Banyak kok yang masih tidak ingin terjebak kebencian dengan kalian. Kalau toh saya dan mereka “geram” (bahkan benci), itu bukan karena geram akan yang engkau bicarakan, tetapi lebih pada tindakan yang terlanjur dilakukan. Jangankan engkau teror seorang polisi, sebuah penjarapun engkau teror, maka kegeraman itu pasti akan mengarah ke kalian.

Mari bicara, terorisku, alternatif pemecahan permasalahan sudah tertumpahkan tuntas kok oleh Tuhan, jauh sebelum dunia mengenal teror ini.

Kertonegoro, 20 Agustus 2013

Catatan :
Tulisan ini mengalir begitu saja seiring tangis anak istri kerabat keluarga Sang ANUMERTA mengantarnya ke lahat yang abadi. Sembari menatap anak istri sendiri yang ikut menangis bersandar di relung hati saya. “ingin rasanya rasa kemanusiaan ini aku kembalikan lagi ke asalnya……”

Bagikan :

KH Achmad Shiddiq Pahlawan Pancasila

Sarasehan Membumikan Pancasila Peringatan Hari Lahir Pancasila Univeritas Jember (1)JEMBER (titik0km.com) – Berbahagialah masyarakat Jember memiliki tokoh yang berperan besar dalam pengembangan Pancasila, dia adalah KH. Achmad Shiddiq. Pendapat ini dilontarkan oleh KH. Hasyim Muzadi dalam acara Sarasehan Menyambut Hari Kelahiran Pancasila bertema “Membumikan Pancasila Di Tengah Ancaman Neo Liberalisme Dan Neo Komunisme” yang diadakan oleh Universitas Jember di Gedung Soetardjo (25/5). “KH. Achmad Shiddiq menurut saya pantas diberi Continue reading “KH Achmad Shiddiq Pahlawan Pancasila”

Bagikan :

Kunjungi Situs Bersejarah Masjid Jin Di Mekkah

Masjid Jin MEKKAH (titik0km.com) – Jika di Madinah ada beberapa situs bersejarah, berupa sebuah masjid yang ada sejak zaman Nabi Muhammad seperti Masjid Quba’ dan Masjid Qiblatain. Di Mekkah juga ada masjid yang memiliki nilai historis dalam awal peradaban Islam, yakni Masjid Jin. Dilaporkan langsung dari Mekkah al Mukarramah Saudi Arabia, oleh Continue reading “Kunjungi Situs Bersejarah Masjid Jin Di Mekkah”

Bagikan :

Situs Bersejarah Tempat Abu Bakar RA Jadi Khalifah

Oleh : Iqbal Kholidi – Langsung Dari Madinah

Di Madinah terdapat sebuah tempat bernama SUKAIFAT BANI SAEDAH. Dia berjarak hanya 200m dari Masjid Nabawi namun jarang sekali yang mengetahui tempat bersejarah ini, meskipun sangat dekat dengan Masjid Nabawi.

Sebenarnya lokasi ini sangat mencolok karena berupa taman yang asri, dan berbeda dengan lokasi lainnya yang gersang dan dipenuhi Continue reading “Situs Bersejarah Tempat Abu Bakar RA Jadi Khalifah”

Bagikan :

Momentum Maulid Rasulullah dan Umrah ke Baitullah

Oleh: Iqbal Kholidi*

     PADA beberapa waktu terakhir ini Kantor Imigrasi Jember banyak di padati oleh orang-orang mengurus paspor yang merencanakan menunaikan ibadah Umrah ke tanah suci Makkah, mereka bukan hanya warga Jember tapi juga orang-orang yang datang dari berbagai daerah. Rata-rata mereka para calon jamaah Umrah itu, adalah orang yang lanjut usia, kebanyakan dari mereka sebelumnya berencana dan sebagian sudah mendaftarkan diri sebagai calon jamaah Haji, lantaran daftar tunggu Haji yang antri hingga belasan tahun, sementara keinginan untuk menunaikan ibadah ke tanah suci tidak bisa di bendung lagi, mereka memilih untuk menunaikan ibadah Umrah terlebih dahulu. Daftar tunggu Haji yang antri hingga belasan tahun nampaknya menjadi berkah bagi para penyedia jasa pemberangkatan umroh, para pendaftar calon jamaah Umrah setiap hari berdatangan dan terus bertambah.

   Umat Islam begitu antusias untuk menunaikan Ibadah ke tanah suci Makkah, karena orang yang melaksanakan Haji dan Umrah adalah tamu Allah, artinya adalah hanya orang yang benar-benar mendapat Panggilan-Nya yang hanya bisa berangkat ke tanah suci, sekalipun secara materi ia kaya raya bilamana tidak “terpanggil” ia tidak akan mungkin ke tanah suci. Permohonan para tamu Allah di kabulkan berdasarkan Hadits ‘Abdullah Ibnu ‘Umar R.A. Nabi Muhammad SAW bersabda:

      “Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang Haji dan orang yang Umrah, adalah Tamu Allah. Dia (Allah Swt) memanggil mereka, maka merekapun menjawab (panggilan)-Nya dan mereka memohon kepada-Nya. Dia-pun memberikan permohonan mereka”.

      Dan balasan bagi yang melaksanakan Ibadah ke tanah suci sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW“Umrah (yang pertama) kepada Umrah yang berikutnya sebagai Kaffarat (penghapus) bagi (dosa) yang di lakukan diantara keduanya, dan Haji yang Mabrur tidak ada balasan baginya melainkan Surga. (Hadits Riwayat Malik, al Bukhari, Muslim, at Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Majah). Lihat shahih at-targhiib No. 1096

Umrah di Bulan Maulid

    Beberapa bulan sebelum dan setelah ritual akbar umat Islam se-dunia yakni Haji selesai, “pintu” masuk untuk gelombang jamaah Umrah ke tanah suci di tutup oleh pemerintah Saudi Arabia, kini “pintu” itu mulai di buka pada bulan Rabi’ul Awal (maulid).

    Sebagian besar masyarakat kita ketika datang bulan kelahiran Nabi yakni bulan Rabiul Awal (Maulid) menyambut dengan berbagai kegiatan, masyarakat muslim kita telah akrab dengan tradisi muludan. Pada intinya perayaaan maupun peringatan Maulid  Nabi Muhammad SAW itu merupakan bentuk pengungkapan kebahagiaan dan syukur atas terutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini. Yang di wujudkan dengan menyelenggarakan pengajian keimanan dan keislaman, mengkaji dan meneladani nilai-nilai luhur ajaran Nabi Muhammad SAW.

    Keinginan menggebu-gebu orang-orang ke tanah suci bersamaan dengan memasukinya maulid Nabi Muhammad SAW, menjadi momentum bagi kebanyakan orang-orang untuk memilih menunaikan Ibadah Umrah di bulan tersebut. Sehingga gelombang jamaah Umrah memadati dua tanah suci yakni kota Makkah dan Madinah. Bandara-bandara di banjiri oleh para calon jamaah Umrah, bahkan penyelenggara jasa pemberangkatan umrah harus mencarter pesawat untuk melancarkan pelayanan pemberangkatan dan kepulangan.

      Sesungguhnya dalam Islam tidak ada keterangan yang menyebutkan keutamaan pahala maupun kelebihan menunaikan Ibadah Umrah di bulan maulid, artinya sama saja dengan menjalankan ibadah Umrah di bulan di luar bulan maulid. Kecuali bulan Ramadhan yang memang jelas-jelas pahala amal ibadah di lipat gandakan.

    Baik ketika Haji maupun Umrah (meskipun diluar bulan maulid), para jamaah mendapat kesempatan mengunjungi kota Madinah untuk berziarah ke makam Rasulullah SAW. Dalam sebuah Hadist Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang datang kepadaku untuk berziarah, dan keperluannya hanya untuk berziarah kepadaku, maka ALLAH SWT memberikan jaminan agar aku menjadi orang yang memberi syafa’at (pertolongan) kepadanya di hari kiamat nanti” (Hadist Riwayat Daruquthni).

      Dan juga yang perlu di ketahui dan di pahami adalah ritual prosesi Umrah (sebagaimana Haji) di lakukan di kota Makkah (kota kelahiran Nabi) tepatnya di Masjidil Haram bukan di laksanakan di Madinah, artinya ziarah ke makam Rasulullah SAW bukanlah bagian dari rangkaian ibadah Umrah. Rangkaian ibadah Umrah adalah Niat IhramTawaf, Sa’i dan Tahallul.

     Dengan di jadikannya momentum maulid Rasulullah SAW untuk Umrah ke tanah suci, telah menjadi magnet bagi kebanyakan umat Islam, mereka berduyun duyun ke tanah suci, bagi jamaah yang lanjut usia tentu ini harus menjadi pertimbangan akan padatnya manusia di sana, maka tidak ada salahnya menunaikan ibadah Umrah di luar bulan Maulid, karena dari segi pahala juga sama namun dari segi suasana di tanah suci jauh lebih lega dan longgar dari kepadatan manusia, sehingga di harapkan bisa menunaikan ibadah Umrah dengan sempurna dan berziarah ke makam Rasulullah-pun tidak terlalu berdesak-desakan. Wallahu a’lam bisshawab

*Penulis Tinggal di PP.MHI Bangsalsari Jember. Twitter @iqblack_kholidi

Bagikan :