Surat Terbuka untuk Mayat-Mayat di Gaza

(Ada hasrat untuk menampilkan mayat-mayat itu, saya urungkan, agar semakin gigih do’a ini untuk mereka…)

oleh : Akhmad Fauzi*

Kepada
Mayat-Mayat Gaza
di
Akhir Peradaban

Darah yang menetes dari celah-celah kafan yang tak lagi putih itu semakin menjauh untuk menjadi simbol kengerian dan tragedi. Hentakan langkah membopongnya -pun- buram untuk menjadi rangkaian ilusi. Jarak antara dunia dan alam barzah hanyalah seukuran dentuman dan ledakan.

Tergeletakmu disembarang tempat telah membagi waktu tanpa jeda bagi malaikat maut untuk menarik ruh dari raga. Tidak diperlukan lagi seremonial talkin atau apapun jua untuk mengiringi naza’ nyawa. Manusia seperti apa, engkau mayat-mayat Gaza?

Kuburmu seluas tanah yang ada, semau kekuatan ledakan amunisi lengkap beserta amarah yang di bawanya. Biarkan jemarimu tertinggal, menancap diantara besi dan ujung amunisi. Relakan letikan darah segar itu untuk disisakan di antara balkon dan beton-beton. Andai kau tak tersisa lagi, melayang bersama bubuk misiu, menyatu bersama anyirnya udara, sungguh, tak akan pernah mengubah ciri khas mayat-mayat Gaza. Siapa engkau, hingga wibawa kemanusiaanmu tak lebih seharga lelucon manusia-manusia serakah dunia?!

Mayat-Mayat Gaza,
Sebegitu besar nilainya bagi sebuah hitungaan angkara. Sampai harus menelan ludah belas kasihan, sampai harus menciptakan dengusan tipuan-tipuan.

Mayat-Mayat Gaza,
Punahmu adalah penanda akhir masa. Akhir dari dialog keagungan cinta, akhir dari kekokohan memegang teguh nilai rasa manusia. Maka jika mayat-mayat itu tidak lagi bergelimpangan, bukan Gaza namanya. Maka kalau fokus dunia menutup mata, itulah Gaza namanya. Maka, jika tidak ada mayat-mayat Gaza, Zionis dianggap dusta.

Berbanggalah Mayat-Mayat Gaza, karena nyawa bukan hak mereka. Bukan pula hidup dari mereka. Tidak, untuk membiarkan sejengkal tanah.

Berbanggalah menghadap-Nya, hai mayat-mayat Gaza. Hujan misiu di atas separuh nyawamu adalah kepastian niat, untuk menimbun keimanan agar sedikit tersendat keinginan dalam merebut tanah idaman, tanah perjuangan.

Mayat-mayat Gaza
Adalah realita gegigihan putra bangsa, yang hanya bisa dilenyapkan oleh berakhirnya jaman.

Mayat-mayat Gaza,
Sedikit yang bisa kita lihat darinya. Tak lebih hanya sebatas darah, tangis, nestapa, dan hilang nyawa. Karena pongah hati telah menutup yang hakiki.

Membisunya manusia bumi, semakin meninggikan nilai mayat-mayat itu
Selamat menikmati taman nirwana, salam. (*)

Kertonegoro, 30 Juli 014

*Semoga Allah SWT. menerima jasad mereka sebagai syuhada karena telah mendengarkan perintahNya, membela tanah air tercinta.

Ilustrasi : www.solopos.com

Bagikan :

Safari Ramadhan Memperkuat Tali Silahturahmi di Jajaran Korem 081 DSJ

MADIUN (titik0km.com)Komandan Korem 081/DSJ Kolonel Czi M. Reza Utama mengajak para unsur Pimpinan dilingkungan Kodim jajaran Korem 081/DSJ serta prajurit dan PNS untuk dapat memanfaatkan momen puasa sebagai sarana mengasah kepekaan, sehingga dalam kondisi lapar dan haus, dapat serta mampu mengendalikan diri dari perbuatan tercela dan memperbanyak Ibadah serta amal, karena Puasa merupakan sarana latihan agar kita memiliki hati yang tulus dan ikhlas, memiliki kesungguhan, kemantapan serta kekuatan untuk mencapai keutamaan.

Menurut Komandan Korem 081/DSJ, Reza Utama, yang melaksanakan kunjungan kerja dan Safari Ramadhan Komandan Korem 081/DSJ akan dilaksanakan mulai Hari Selasa tanggal 15 Juli 2014 sampai Hari Jum’at Tanggal 25 Juli 2014, dalam acara Safari Ramadhan kali ini Komandan Korem 081/DSJ didampingi para Kasi dan Pasi Korem secara bergiliran. “Safari Ramadhan ini bertujuan mengajak semua pihak mengaktualisasikan Hikmah Bulan Puasa Ramadhan ini ke dalam kehidupan pribadi maupun sosial kemasyarakatan, dengan menjunjung tinggi keimanan guna mendukung keberhasilan kita dalam melaksanakan tugas yang menjadi bagian tanggung jawab kita masing-masing,” jelas Reza Utama.

Komandan Korem 081/DSJ juga menambahkan bahwa kegiatan Safari Ramadhan memiliki banyak makna serta manfaat. Karena melalui Safari Ramadhan ini, kita dapat saling meningkatkan tali silaturrahmi dalam suasana penuh kesetia kawanan, keakraban, dan kekeluargaan dengan dilandasi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lebih lanjut Komandan Korem 081/DSJ menyampaikan Ramadhan hendaknya kita jadikan sebagai media membersihkan diri dan pendekatan kepada Allah SWT, karena hidayah puasa memberikan kekuatan luar biasa bagi kita, untuk kembali mengikuti bimbingan suara hati dalam jalan kebenaran berdasarkan nilai-nilai ajaran agama.

Di setiap acara kunjungan kerja dan safari ramadhan Komandan Korem 081/DSJ berpesan kepada prajurit dan PNS Kodim jajaran Korem 081/DSJ agar lebih tekun dalam melaksanakan ibadah diiringi doa dan Dzikir serta memakmurkan masjid dengan memperbanyak membaca Al Quran. Safari Ramadhan ini dimaksudkan untuk memelihara hubungan dan komunikasi yang baik antar sesama, Maupun antara Korem 081/DSJ dengan Umaro’, Ulama dan segenap komponen bangsa, dalam rangka menjalin kebersamaan, berbagi suka dan duka sebagai sesama anak bangsa serta untuk menjaga keutuhan NKRI. “Diharapkan agar segenap keluarga besar Korem 081/DSJ  selalu memperkuat  iman dan taqwa di bulan suci ramadhan yang didalamnya berisi perintah untuk menjalankan ibadah puasa sebagai salah satu rukun Islam,”pungkas Reza Utama. (asd) 

Bagikan :

Pak Prabowo Pak Jokowi Mari Kita I'tikaf

Oleh : Akhmad Fauzi*

Waktu tidak banyak lagi, tinggal tiga malam jika nyawa masih di badan. Sangat di sayangkan jika kerelaan Tuhan memberi malam ini harus berjalan seperti malam-malam yang ada. Malam yang bercerita tentang nikmat untuk manusia dari Tuhan kita. Malam yang bisa membatalkan rencana-rencana dusta. Malam yang menjanjikan banyak suka cita tanpa ada tambahan lagi, apalagi jeda, karena ini janji Tuhan, Tuhan kita, Allah SWT.

Malam yang bisa memanggil simpati makhluk bumi dari yang masih sembunyi sekalipun. Malam yang dipilih untuk figur-figur yang terpilih, oleh Tuhan kita bukan oleh insan dunia. Bukan oleh perdebatan wacana lebih-lebih oleh sajian khws media. Sekali-kali bukaan! Bukan oleh sekelebat kepentingan pun pula kenikmatan yang berbatas dari pujian-pujian.

Hati meyakini, tiga malam ke depan adalah waktu keajaiban bagi kita, terlebih anda, berdua. Kumpulkan seluruh cerca yang berserakan dalam niat indah anda. Telusuri kembali caci dan bully, rekam! Potret piciknya pandangan lengkap dengan dengan background gaya penghentakan. Jangan lupa, catat pula salah nista alpa yang pernah terbawa oleh kita.

Aku saja yang tidak seberapa telah mampu mengumpulkan bulatan salah dosa, yang tak tahu lagi seberapa besar bobotnya. Apalagi anda yang sebegitu wibawanya. Aku berjanji setelah selesai aku mengumpulkan, aku akan membantu untuk kalian.

Prabowo, Jokowi, yuk kita i’tikaf. Tinggalkan peran, atmosfir beban, suka cita. dan sedu sedan. Semoga anda berdua mampu mengumpulkan ribuan bintang dengan diiringi jutaan malaikat Tuhan. Setelah itu…

Ajari aku hidup berbangsa yang sebenarnya!!! (*)

Kertonegoro, 4 Juli 014

Ilustrasi : nahimunkar.com

Bagikan :

Tuhan Tolong Ampunkan Jokowi dan Prabowo

(Do’a Akhir Pekan buat Jokowi dan Prabowo)

Oleh : Akhmad Fauzi

Nukilan tausiyah yang disampaikan seorang da’i di Indonesia Damai siang tadi. Tidak terlalu persis tetapi juga tidak jauh dari makna itu. Entahlah, apakah masih ada yang mau berkenan memanggil tetesan air mata atas telanjangnya aib dua tokoh ini. Minimal mengadu emosi yang terlanjur meninggi untuk diturunkan detaknya ke ranah seorang hamba. Hamba yang sebenarnya memiliki tingkat kepekaan akan trenyuh dan toleran. Hamba yang senantiasa (sebenarnya) terpanggil untuk selalu mandi suci aura diri.

Sulitkah memberi jempol kepada Jokowi begitu sholawat terucap di sela-sela bibirnya, ketika mengawali sambutan deklarasi Dahlan Iskan? Apa yang ingin kita ambil dari seorang Prabowo hingga kuda dan kedudaannya menjadi ukuran? Sesepakat itukah sebagian kita mengusung calon pemimpin negeri dengan menelanjangi aibnya? Hitung, berapa dosa yang telah direkam oleh malaikat yang ada. Hitung pula nilai ketenangan yang telah diperoleh.

Teringat sejarah sufistik ketika dalam sebuah wilayah telah penuh bisikan fitnah. Moralitas dicibir karena dianggap hanya “katanya”. Wibawa diri dijual untuk mem-bully wibawa lainnya. Harga sakit hati tidak laku lagi dalam debat diri. Semua dalam keberingasan kata dan langkah. Maka terperanjat sang malaikat ketika diperintah untuk membumi-hanguskan kawasan itu. Dalam riwayat, Allah SWT tidak peduli lagi meski dalam wilayah itu ada sosok ahli ibadah, alim, dan khusu’. Allah Maha Tahu apa yang ada, hancur leburlah wilayah itu, menyisakan puing-puing sejarah kehinaan anak manusia. Maha Benar segala firman-Nya, penuh hikmah segala takdir dari-Nya

Rob, telah Engkau sepakatkan empat sosok calon pemimpin bangsa
Adakah memang sedang Engkau diamkan untuk ditelanjangkan penuh hina?
Kebaikan jelas ada dikeduanya, seiring umur jiwa semasa yang ada
Keburukan tidaklah niscaya, toh mereka hanyalah manusia

Rob,
Maafkan calon pemimpin kami hingga berwajah sebegitu nistanya
Semog kursi-Mu mampu meneduhkan emosi mereka
Negeri ini masih melihat bukanlah singgasana yang ada dalam otaknya
Bukan pula gila kuasa yang membanjiri mimpinya

Rob,
Sangat teryakini potret ini hanyalah bentuk kekerdilan diri
Dari mereka yang luka dengan intuisi untuk menghamba
Lebih percaya jika hidup tersambung dari keduanya
Menempatkan segala gerak diri mempeta rasa
Melupakan sejenak, jika Engkau
ada

Hiruk pikuk kehinaan ini hanya anasir dari yang tidak berdaya
Menghembuskan bara, menaiki dengan suka cita
Ini hanyalah kelicikan dari secuil keisengan
Bukan jati diri warna hati negeri

Ampuni beliau ya Rob,
Tokoh calon pemimpin negeri
Karena aku masih bisa meresakan
Getaran iman dalam nafas perjuangan

Maka tangguhkan turunnya malaikat-Mu
Untuk bergegas meratakan persada ini
Amin, semoga…

Warning :
Semoga masih banyak yang percaya jika warna energi yang kita keluarkan akan kembali jua, ke diri sendiri, apapun warnanya…!!! (*)

Kertonegoro, 31 Mei 014

Salam,

@Berangkat Dari Hati Untuk Menumbuhkan Energi Positif

https://www.facebook.com/bermututigaputri

Bagikan :

Pertanyaan Tentang Menang

(Renungan Malam Jum‘at : Potensi Penghancuran)

Oleh : Akhmad Fauzi*

Selamat malam Indonesia
Numpang sejenak mengistirahatkan harap
Cukup di teras ini saja
karena aku tahu di ruang tengah masih ada yang menduga-duga
Terdengar juga celoteh anak kecil dengan derai lepas tawa
Semoga yang terlelap di kamar-kamar mampu menuntaskan mimpi indah

Biarkan tanpa cemilan dan kopi yang tersaji
Malam-malamku sudah terbiasa tanpa ada apa
Malam ini aku ingin bermunajat
Mengharap dari apa yang aku catat
Di teras ini, yang mungkin besok lusa masih tetap kokoh

Lima tahun lalu aku juga menginap di sini
Semalaman menengadah resah
Paginya aku sebarkan lukisan cinta
Berharap cukup malam itu aku menumpang lelap

Kini, di lima tahun sudah aku kembali
Ihlas adanya meski harus kembali tengadah
Menyulam do’a, sisa-sisa
Tanpa tahu lagi masihkah bisa melukis cinta
Karena sudah menumpuk jejak langkah kecewa

(dari puisi “Munajat Harap“, akhmad fauzi)

—)***(—

Sesore ini sudah ada yang stress? Beberapa rumah sakit mulai menerima kunjungan pasien yang merasakan keluhan pusing dan degub jantung! Bersabar kawan, lima tahun lagi masih ada kesempatan untuk menjual janji. Ambil hikmahnya, Tuhan tahu yang terbaik untuk kita….! Dan lain-lain.

Itulah tema media sosial mulai kemarin sore sampai sore ini (Rabu-Kamis, 9-10 April 014) yang sempat terbaca saya. Inginnya tidak ingin melanjutkan telusuran ke medsos ini, apa lacur, nafsu mengajak untuk memburu berita-berita yang sejenis. Tidak lagi terpikir seberapa akuratnya tema-tema itu. Nilai aktual yang dijabarkan dengan fakta yang ada menjadi buram, apakah itu sebagai satire saja, atau hanya mengajak dan menasehati teman yang sedang “dirundung” duka, atau malah mensyukurkan fenomena yang ada.

Degup nadi dua hari ini memang lebih berwarna temaram dengan udara yang lembab sehingga terasa gerah tetapi menggairahkan. Akankah sudah terasa bayangan menguapnya lembar-lembar ratusan ribu uang yang dua tiga haru lalu tersebarkan? Sudah cukupkah informasi diri untuk menjustifikasi “kekalahan” atau “kemenangan”. Padahal peluh belum juga mengering, yang kemarin ditumpahkan dengan rasa optimisme yang meninggi! Padahal obsesi masih terselip di setiap hentakan resah, dan hari ini diharapkan menemukan sinyal titik gembira. Gaduh sekali suara yang terdengar, sungguh seakan sangat tidak menghormati usaha yang sudah ratusan jam dilakukan. Seakan-akan menjadi pembenar jika ini hanyalah pesta. Lantas, akan dikemanakan serentetan janji-janji yang terbungkus kertas emas itu?

Jahatnya momen ini, yang harus memaksa munculnya segelintir pemenang dengan menyisakan banyak pecundang! Tusukan yang mematikan tepat di ulu hati pemburu mimpi. Gong yan akan mengalirkan gelombang besar ujian dan cobaan. Momen yang bisa membalikkan derajat seseorang dalam sekejab, tanpa memikirkan besaran kualitas masalah yang diembannya. Terperosok dalam kedunguan, lebih melebar dari pada membangun membangun kesiapan diri untuk menepati janji yang pernah terucap.

Hari itu, jarak sukses dan gagal ditentukan. Semeriah apapun gaya penentuan itu, menang atau kalah harus berbicara. Posisi yang menempatkan diri pada “innalillah…” atau “alhamdulillahi ‘alakullihal…”. Posisi yang menjadi warna kematangan diri, akan bergerak kemana layangan bisikan hati. Ketika innalillahi…. terbaca dalam, sampai menembus titik bawah sadar, maka kemenangan yang terbawa adalah kaca benggala untuk menatap kebencian akan kepentingan diri. Maka, alhamdulillahi ‘alakullihal lebih dewasa terlihat meski harus rela membuyarkan hilangnya kursi yang ingin di raih.

Menang, diksi yang menjadi rebutan nafsu di sembarang waktu. Keelokan sosok menang yang terkonsep di setiap jaman menjadi air liur keinginan untuk mendekapnya. Jarang terdengar jika menang merupakan kelanjutan dari beban. Yang terkabar dari hiruk-pikuknya pengharapan selama ini adalah menang harus tertawa riang tanpa peduli meski meninggalkan jejak-jejak kekalahan dari warga seberang.

Andai tahu jika menang adalah kecewa yang berselimut senyum, niscaya banyak yang berangkulan meluapkan tangis seusai peperangan. Dengan darah yang masih mengucur bersama peluh yang menderaskan warna merah, dipapahnya kekalahan itu untuk ditelan bersama. Saling memangul (bersama) kemenangan itu walau darah kemenangan menjerit kesakitan meminta balas.

Sunyi sekali anekdot semacam ini, kecuali bagi mereka yang telah lama merasakan jika hidup adalah pengorbanan! Kecuali bagi mereka yang telah mampu meletakkan berlipat-lipat kepentingan diri, kecuali yang telah mampu menggelar permadani ramah untuk bersama menikmati kenduri cinta.

Kemenangan terbawa arus deras emosi jiwa
untuk dikabarkan kepada penghuni langit
sebagai bentuk kepongahan diri
Sementara dikubangan tanah bumi
yang kalah, tercekik, untuk semakin terbelalak
membalas rasa!!!

Menyapa yang kalah dan menyambut yang menang adalah ritual kematangan jiwa yang masih dalam taraf permukaan. Melenyapkan kemenangan untuk mencipta kebersamaan adalah kegagahan. Tetapi, menghapus siapa yang kalah, karena telah menang, menjadi paras mulia dalam kelanjutan langkahnya.

Hai, jiwa-jiwa yang baik (nafsu mutma’inah) masuklah kesyurga dari pintu mana yang engkau suka. Saat itu, diksi kemenangan hanyalah bualan belaka…!

Salam sapa :
Hentikan keluhan, meski menghadapi kenyataan jika ihtiar tidak berbuah apa. Lebih terjamin kesehatan hidup dengan tengadah sembari meyakinkan jika “Tuhan, Allah SWT. lebih tahu segala, maka bersyukur menjadi jaminan keselamatan jiwa”. (pesan untuk mereka yang sudah merasa tidak lolos dalam pileg tahun ini, tidak ada kesulitan bagi saya mengucapkan itu, karena kemenangan sejatinya telah engkau genggam, sekarang tinggal memaknai apa kemenangan itu…?) (*)

Kertonegoro, 10 April 014

Ilustrasi : republika.co.id

Bagikan :

Bebas Adalah Absurd

(Refleksi Kebebasan untuk Konteks Ibu Satinah)

Hari ini aku merasa lega, pasalnya, konflik berbulan-bulan yang ingin ikut aku urai telah menemukan titik puncaknya. Bukan karena sudah terurai dan selesai, tetapi karena ihtiar yang telah aku lakukan (tentunya semampu Tuhan memberikan) sudah dalam batas maksimal. Kalau toh hasil yang diharapkan ada yang terkecewakan, setelah saya renungkan, ternyata memang sebatas itu langkah maksimal upaya saya. Ternyata berat memang ketika berada dalam lingkaran konflik.

Tiga hari yang lalu, siswa yang merengek di inbox FB saya karena sedang dalam kondisi marah dan kecewa. Usut punya usut, siswa itu dalam posisi terdholimi. Nasehat yang saya berikan adalah memaafkan yang mendholimi. Ternyata nasehat itu tidak menjadikannya lega dan hilang marah kecewanya. Di akhir diskusi di FB itu, siswa tadi berkata : “Andai Bapak menjadi saya, tidak mungkin Bapak akan pernah memaafkannya”. Maka saya jawab, “Ia mbak, saya dalam menyarankan untuk memaafkan sudah menangis lebih dulu, namun akan lebih menangis jika Bapak harus mengajakmu untuk melakukan yang tidak perlu…”. Entah kenapa, hati ini lebih pas dan bebas menutup diskuisi itu. Yang saya lihat esok hari, siswa itu tersenyum lebih manis rasanya. Teriring do’a, semoga senyum itu karena siswa saya berkenan menuruti nasehat saya. Semoga.

Ayah teman anak saya, setahun yang lalu memasuki masa pensiun. Kebetulan profesinya sama dengan saya. Saya sempatkan bersilaturahmi seminggu sebelum masa pensiun. Dengan berseloroh dia berkata, “Pak Fauzi masih kelihatan gagah, ingin rasanya kembali di usia Bapak”. Terkejut juga menerima selorohannnya. Untuk mengimbangi obrolan itu maka saya jawab saja “Ahh, pak X, justru saya yang iri, terbayang hari-hari Bapak penuh dengan kebebasan. Tidak terbebani target kerja, lebih-lebih masalah yang mengikutinya. Apalagi putra sudah mentas semua.”

Sedikit cemberut yang aku lihat, sampai saya berpamitan pulang tidak terjawab mengapa cemberut. Tidak terjawab pula masalah tentang “siapa yang bebas,” saya yang masih aktif kerja atau beliau yang sudah paripurna?

Tiga sekelumit catatan hidup yang pernah terjadi dalam perjalanan waktu saya. Simpulan yang bisa saya ambil adalah : 1) Kelegaan saya di fenomena pertama adalah karena saya sudah membuktikan untuk ingin berbuat, telah berbuat, dan tetap berdo’a meski tidak lagi mampu melakukan apa-apa. 2) Untuk diskusi dengan siswa, kebebasan saya adalah memaksimalkan upaya saya untuk menghantarkan dilema yang dirasakan siswa agar tidak masuk ke jurang yang lebih dalam meski fakatnya dia dalam posisi yang benar. Marah dan kecewanya merupakan kesakitan hati yang ia rasanya, sangat dholim kalau saya harus memberikan rasa sakit yang baru lagi. Saya mengajaknya untuk memukul kemarahan dan kekecewaannya itu dengan jalan norma tingkat tinggi: “memaafkan ketika dalam kondisi didholimi” (meski saya sendiri belum tentu semampu itu). 3) Mengenai fenomena yang ketiga, entah mana yang benar. Ketika harus ditanyakan ke saya, jawaban saya jelas jika Bapak X yang mau pensiun itulah yang bebas. Tetapi ketika saya lemparkan pertanyaan itu ke beliau, cemberutnya lebih menyiratkan ketidak-setujuannya.

Teringat saya pada sebuah buku yang pernah saya baca lebih dari 15 tahun silam, tentang “sukses”. Dari 100-an tokoh dan ahli yang diwawancarai mengenai definisi “sukses”, semuanya tidak sama. Ada yang melihat sukses dari sisi kemantapan materi, ada yang membidiknya dari sisi kematangan idealisme, ada juga yang melihatnya dari kondisi stabilitas kehidupan keluarga. Bermacam-macam dan penuh tendens latar belakang pendefinisinya.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Ibu Satinah juga keluarga beliau, saya mencoba renungan kali ini mempetakan tiga fenomena di atas ke dalam lingkaran kasus yang membelit beliau. Bagi saya jelas, siapapun yang berada dalam lingkaran kasus tidak akan pernah merasa enak, lebih-lebih kasus yang berkaitan dengan kelangsungan hidup seseorang. Sesuatu yang menjadi sebab munculnya polemik aturan dan norma di setiap peradaban.

Idealnya memang ada diyat yang telah disepakati bersama dan dibayarkan, maka selesai sudah masalah. Apakah itu menjadi sebab Ibu Satinah bebas? Dari sisi hukum jika itu langkahnya maka Ibu Satinah dinyatakan bebas dari segala konsekwensi hukum. Tetapi mungkin ada yang lupa, jika memori seseorang, apalagi dalam menangkap peristiwa yang cukup fenomenal, tidak akan pernah hilang. Sering para psikolog mewanti-wanti agar menjaga anak usia dini dari segala trauma yang dilihatnya, baik ucapan apalagi tindakan. Peristiwa yang dialami ibu Satinah lebih berpotensi memberika dampak trauma bagi pelaku dan keluarga.

Kontens peristiwa yang dialami bu Satinah termasuk yang luar biasa. mendengar kata “pancung” saja sudah merinding seluruh tubuh, belum lagi sampai pada hilangnya nyawa. Yang mengalami, yang memancung, yang mendengar kasusnya, apalagi keluarganya pasti dalam kondisi trauma dengan kadar sesuai nilai keterkaitan psikologi dengan Ibu Satinah. Apakah gejala traumatis ini bisa dikatakan bebas? Bagaimana dengan nilai rasa terhadap korban dan keluarganya? Dan, ini yang perlu segera di ketahui, bagaimana tingkat kelabilan psikologi yang sebenarnya dari seorang Satinah?

Penjabaran ini tidak ingin menyentuh nilai rasa yang ada di hati Ibu Satinah dan keluarga, karena jelas sudah bagaimana rasanya. Umpan balik yang ingin saya sampaikan adalah betapa tidak mudahnya kebebasan itu. Mungkin ada yang mengatakan jika kebebasan adalah suatu keadaan dimana diperbolehkan perilaku apapun tanpa ada koridor yang mengungkungnya. Nyata sekarang, dalam kasus Ibu Satinah, persepsi kebasan semacam itu menjadi batal adanya. Nyatanya, perilaku harus di ukur dengan batasan hukum dan aturan, dan itupun masih juga tidak akan mampu membebaskan orang sepenuhnya.

Mengkuliti kebebasan sama dengan menarik benang untuk dikaitkan ke semua sudut. Ketika benang sudah tertarik, maka jika ada salah satu sudut benang yang putus bisa jadi penglihatan sudut lain akan mengatakan bahwa itu bukanlah pelanggaran. Sama dengan yang dialami Ibu Satinah, Apakah diyat adalah langkah untuk membebaskannya? Masih bisakah tindakan membunuh dan dengan balasan hukuman harus dipancung sama-sama melanggar? Sebebas apa orang membunuh dan semelanggar bagaimana hukum pancung itu? Lebih jauh lagi, dalam kondisi seperti apa Ibu Satinah bisa dikatakan bebas? Lantas bagaimana dengan nilai traumatisnya, juga rasa berterima kasihnya kepada yang membebaskannya? Pertanyaan-pertanyaan itu adalah variabel yang memiliki unsur “tidak bebas”. Lantas kapan harus dikatakan bebas?

Ah, panjang memang kajian ini kalau harus menjawab tuntas. Penulis buku “sukses” pun diakhir bukunya tidak berani mengambil simpulan tentang apa itu sukses. Apalagi tulisan ini adalah tema yang menjadi isyu krusial di semua lini kehidupan, bahkan bisa menjadi picu awal ambruknya suatu kekuasaan.

Sebelum menutup renungan ini, saya ingin menyisipkan sedikit fenomena tentang Jokowi. Bebaskah Jokowi? Atau malah lebih bebas AU? Atau, bisa jadi keduanya sebenarnya dalam lingkaran “tidak bebas”. Kok bisa? Karena ulasan tentang Jokowi ini hanya menyisipkan, biarlah jawabannya ada di masing-masing pembaca. Sudah bebaskah Jokowi? Benarkah beliau sudah sukses? Tanya dalam hati masing-masing, akan tertemukan simpulan yang baku, “Ternyata yang mencintai dan yang membenci Jokowi harus lebih berhati, karena Jokowi sendiripun belum tentu bebas dengan kecintaan yang ada tetapi juga belum tentu tidak bebas dengan para pembencinya…” Renungkan!!! Karena bebas adalah…?

Catatan :
Pengambilan setting Ibu Satinah dalam tulisan ini dikarenakan lebih pada nilai aktual dan ketinggian kasus yang ada, bukan pada rasa hati dan kontens masalah yang sedang menyelimuti dirinya. Penulis tidak ingin menarik simpulan apapun tentang Ibu Satinah, karena ranah penulis hanyalah mengajak merenungi fenomena yang ada. Mohon maaf untuk ibu Satinah dan keluarga. Do’a dari penulis, semoga semua, khusunya Ibu Satinah, senantiasa dalam kebaikan yang diberikan Tuhan, Allah SWT. Karena penulis termasuk yang meyakini jika kebebasan yang sebenarnya adalah berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Warna berserah diri berarti : menerima segala keputusan Tuhan yang sudah tertulis dalam takdirNya karena telah 1) mentaati aturanNya, 2) menjauhi laranganNya. Itu menurut saya. (*)

Kertonegoro, 2 April 014

Ilustrais http://vahrur.blogdetik.com

Bagikan :

Nasehat 3 Jangan dan 1 Harapan Untuk Jokowi

Oleh : Akhmad Fauzi*

Dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim, ….. saya siap menerima amanat itu!”. Diam sejenak, balik arah untuk menggapai merah putih, mencium dan meletakkannya di dada. Ekspresi sosok yang hari itu, di jam itu, merasa ada sedikit perubahan raut wajah. Lumayan, menjadi pengusap keraguan sosok itu akan kekuatan religi dan rasa nasionalisme. Meski singkat ditayangkan dalam breaking news di televisi, makna adegan itu terasa bercerita banyak akan karakter yang dimiliki.

Teringat pesan guru ngaji saya yang kini selalu saya praktekkan, “Awali segala niatan apapun dengan menyebut nama Tuhan, Allah SWT, niscaya setiap gerak selanjutnya akan penuh dengan taburan rahmad. Niscaya tidak akan sia-sia langkah-langkah berikutnya”. Itu pesan guru ngaji saya.

Syukurlah, kepastian sudah ada tinggal mengisi kepastian itu untuk melangkah mencapai target yang diinginkan. Apakah lebih berat? Jawabnya tergantung ihtiar yang dijalankan dalam memenuhi target itu. Setidaknya, Jokowi telah meminta ijin ke Tuhan tentunya dengan harapan Allah SWT memperkenankan hajatnya.

Semakin seru untuk menganalisis pasca pencalonan itu. Setidaknya peta sudah semakin jelas lebih-lebih bagi rakyat, baik yang mendukung maupun yang menolaknya. Kini wajah Jokowi semakin nyata terbaca. Penampilan rupa itu ke depan tergantung yang mempolesnya. Saran saja, hati-hati dalam mempoles rupa beliau, ingat, jika Tuhan menghendaki, beliau akan jadi pemimpin negeri ini. Hindarkan beliau dari friksi-friksi, minimkan adanya resistensi, jauhkan dari ketergantungan dan sandera-sandera!

Terlepas dari menariknya menganilis kursi yang ingin digapai beliau, saya malah tertarik dengan tema lain, yaitu hambatan! Akar dari tema itu adalah berangkat dari logika bahwa bisa dipastikan jika momen pencalonan beliau ada pihak yang merasa diuntungkan dan dirugikan. Baru-baru ini saja sudah terjadi hal yang kurang mengenak pada beliau, berkaitan dengan pembelian Bus TJ. Kalau toh sekarang sudah klir, tidak ada jaminan kelak tidak akan ada lagi. persinggungan yang dirugikan dan yang diuntungkan itulah akan melahirkan hambatan. Bukankah lebih baik melihat hambatan dari pada menghayal cerianya hasil?

Ini tulisan beisi semacam nasehat dari penglihatan saya sebagai penikmat politik negeri ini. Perlu ditarik garis tegas, saya tidak ingin masuk dan tidak akan pernah masuk dalam kancah kepentingan politik. Tegas pula disampaikan, jika mencintai negeri lebih bermakna dari pada mengkebiri diri untuk bersemayam satu sisi.

Isi Nasehat tulisan ini sebenarnya sejak lama menjadi wacana opini dipelbagai media, menjadi pro dan kontra, tidak jarang menjadi senjata untuk menohok balik lawan. Padahal jika konten nasehat itu dicermati dengan manis akan menjadi kekuatan yang besar untuk meraih keyakinan massa.

1. JANGAN Pertama : Jangan mau dikendalikan, terlihat dikendalikan atau juga tidak perlu merasa dikendalikan.

Opini yang berkembang selama ini, Jokowi tak berdaya dengan sosok Ibu Mega. Benarkah opini itu? Entahlah. Uniknya, yang menyuarakan opini ini bukan hanya lawan Ibu Mega, bahkan pendukung Ibu pun kadang terkesan garang mengatakan ini, lebih-lebih ketika Ibu Mega masih berputar-putar saja ketika hendak menentukan calon presiden untuk partainya. Bagi lawan partai yang menuduh Jokowi lemah dihadapan ibu Mega sehingga mencibiri keduanya adalah kewajaran dan bisa jadi akan terus mencibir. Tetapi bagi yang satu rumah dengan keduanya, maka inilah saat yang pelik untuk minta maaf, karena terbukti ibu Mega sudah legowo memberikan titisan dinasti ini ke Jokowi.

Kabar lain yang menjadi potensi untuk “jangan pertama” ini adalah adanya sosok-sosok pemilik modal (bahkan dikabarkan ada yang hitam) yang sudah saling bergaining dengan beliau, Jokowi. Tentu kita masih ingat 10 tahun lalu ketika SBY naik daun, diisukan juga demikian. Benarkah? Saya tidak punya data akurat akan kebenaran isu ini kecuali data opini dari tulisan-tulisan.

Untuk Jangan yang pertama ini sangat urgen bagi kepentingan negeri ditengah keterpurukan negara menghadapi tekanan-tekanan sekaligus pengurasan gila-gilaan SDA oleh pihak luar. Apalagi saat ibu Mega menjabat RI 1 juga pernah terjadi pengambil alihan perusahaanperusahaan dalam negeri oleh investor asing. Maka akan lebih meyakinkan jika Jokowi mulai menampakkan ketegasan dan kemandiraanya sebagai pribadi yang kuat dan kokoh dalam setiap mengambil keputusan tanpa perlu lagi “ewoh” maupun lirak-lirik dengan siapapun. Fokus pada kepentingan negara dan kuat dalam memegang kefokusan itu.

2. JANGAN Kedua : Jangan Beresistensi Dengan Kepentingan Ummat Islam :

Bukan hal baru lagi jika Jokowi dalam menapaki karirnya (lebih-lebih saat bergumul di DKI) harus berhadapan dengan isu-isu sara. Ini pun sebenarnya wajar juga, karena masih lakunya trend politik negeri kita dengan wacana itu. Namun kenyataannya kan beliau lolos juga dari isu itu. Saya berharap “gaya sara” ini segera diakhiri dan lebih mengedepankan “gaya kompetisi berdasarkan kemampuan“.

Keunikan juga terjadi di sini, meskipun isu sara itu sudah berlalu masih saja ada yang meniup-niupnya. Bahkan juga (sama dengan yang pertama) peniupnya kadang kala yang mengaku pendukung Jokowi. Maksudnya, ada yang memang sengaja meniupkan sara tetapi juga ada yang membenturkan Jokowi ini dengan sara lewat (seakan-akan) Jokowi tidak diharapkan oleh kelompok Islam.

Inipun harus menjadi perhatian yang serius dari Jokowi (juga bagi tim suksesnya). Berbenturan dengan kepentingan Islam dan ummat Islam bukanlah hanya akan berimbas pada kepentingan perolehan suara saja, tetapi juga akan berimbas jika beliau nanti terpilih jadi RI-1. Tentu akan menjadi kendala tersendiri bagi perjalanan birokrasi beliau nantinya. Maka yang terbaik bagi Jokowi dan tim suksesnya adalah segera klarifikasi jika Islam tidak anti Jokowi dan Jokowi pun bukan anti Islam. Menghindarkan adanya masukan yang bisa menjadi benturan antara Jokowi dan Islam.

Isu tentang sara ini cukup signifikan untuk segera ditepis, karena akan merugikan kedua-duanya, ummat Islam dan Jokowi itu sendiri. Gaya beliau dalam mensikapi mandat partai dengan mengucap basmallah yang kemudian mencium bendera adalah adegan yang cerdas untuk memulai babak selanjutnya, sekaligus menjadi justifikasi jika Jokowi ramah dengan masalah religi.

3. JANGAN Ketiga : Jangan Meninggalkan DKI Dengan Tidak Mulus :

Dua jam setelah Jokowi dinobatkan jadi capres dari PDI, ragam ungkapan yang saya tangkap lewat wawancara masyarakat di media-media. Uniknya, beragamnya ungkapan itu bukan menuju pada kejelekan Jokowi selama memimpin DKI. Ungkapan itu lebih pada masih singkatnya beliau memimpin DKI sehingga dianggap masih banyak yang belum rampung yang akhirnya malah menjadi hantaman sebagai bentuk ingkar janji Jokowi. Itu suara dari masyarakat, belum dari lawan politiknya atau pun dari wakil rakyat di legeslatif.

Jika Jokowi keluar dari DKI dengan ragam ungkapan apalagi tidak berakhir dengan happy ending, dapat dipastikan (minimal) akan menjadi senjata yang ampuh bagi lawan politiknya untuk merajam karakternya. Bagaimana cara yang baik meninggalkan DKI? Saya yakin tim sukses sudah punya kiat yang jitu untuk menghadapi “jangan ketiga” ini.

Memang, ada juga yang diuntungkan ketika beliau meninggalkan DKI, tetapi tidak bisa menjadi pembenar dan pembela jika Jokowi lepas dari DKI dengan kurang mulus. Ingat, sasaran Jokowi sekarang bukan lagi sebatas Gubernur tetapi presiden tentu nuansa psikologinya jauh berbeda.

4. Harapan

Jokowi sampai detik ini memang masih milik partai, segala geliatnya masih menjadi cermin bacaan sebagai sosok partai. Tetapi jangan lupa juga beliau harus juga sudah diwacanakan menjadi pemimpin negeri ini, negeri besar dengan aneka ragam khazanah kehidupannya. Maka :

1. Mulailah “menjual” Jokowi sebagai sosok yang negarawan, netral, dan dijamin bisa diterima di semua kalangan
2. Sterilkan beliau dari sandera dan imbal jasa kepentingan dengan siapapun
3. Tetap mempertahankan karakter yang dimiliki, sehingga khalayak tidak terkaget-kaget begitu melihat ada perubahan watak pada figur ini
4. Berani mengungkapkan konsep yang riil dan jelas
5. Menjauhi kesan pencitraan dan mombastis berita
6. Menghindari banyak musuh dan barisan sakit hati

Jika dalam jabaran “ketiga jangan” itu ditambah harapan terasa ada kertesinggungan, saya pikir yang merasa tersinggung mulai melakukan gaya counter yang elok. Mengapa? Karena Jokowi realitasnya sudah jadi capres sekarang, maka akan menjadi kontraproduktif jika pengcounteran itu masih saja semirip saat Jokowi belum dicapreskan.

Yah, akhirnya tampil juga Jokowi di kancah perebutan kursi kepresidenan. Berarti semakin ketat kompetisi di pemilu ini. Saya berharap semoga dalam waktu dekat ada konperensi pers dari beliau, Jokowi, yang salah satu isinya adalah mengajak kepada pendukung dan penentangnya untuk mulai elegan dalam berkiprah di lahan masing-masing. Mengapa? Karena di sisi ini yang menurut saya masih akan ramai perang, utamanya di dunia maya lengkap dengan opini-opininya.

Semoga semua dalam kedewasaan hati dan pikir dalam menyikapi suhu politik dalam kehidupan bernegara selama tiga bulan ini. Tulisan inipun dalam niatan untuk sedikit ikut ambil bagian dalam menyejukkannya. Semoga demikian, dan Allah SWT ridho meridhoi. Amin

Kulillahumma malikalmulki tukti mulka mantasya’…… (al-ayah)

Salam kebangsaan! (*)

Kertonegoro, 15 Maret 2014

gambar dari surabaya.bisnis.com

Bagikan :

Kita Di Mana?

Oleh : Akhmad Fauzi*

Seminggu ini banyak peristiwa yang bisa kita ambil hikmah. Dipertonton tragedi demi tragedi. Kehilangan dan menghilangkan, menuduh dan dituduh, sedih dan menyedihkan! Tidak ada yang aneh, seperti juga minggu-minggu sebelumnya, takdir Tuhan merambah siapa saja dan kapan saja.

1. Anas Urbaningrum harus menghadapi kenyataan hukum yang sebenarnya. Setelah setahun lebih terpenjara oleh tuduhan tersangka, kini tuduhan itu resmi sudah. Lebih mengerikan fakta yang ada, penyitaan demi penyitaan menjadi agenda selanjutnya. Semalam terkabar (di running teks sebuah media televisi), asset sang mertua pun harus rela disita KPK.

2. Kekasih dan mantannya membunuh! Belia, datar, dan tampak belum menemukan rasa dosa dan bersalah! Bentuk elegansi kekejian anak manusia hasil polesan dunia kekinian. Miris, karena saat diwawancarai awak media, begitu lugasnya bercerita. Ada dendam yang tidak mampu terbayar apapun. Ada kepuasan ketika diri berlagak menjadi Tuhan! Potret kegagalan peradaban masa kini dengan segala tendensi dan nuansa kesalahan pengambilan makna dan nilai-nilai.

3. MH370, pesawat Boeing 777 milik maskapai penerbangan Malaysia hilang tanpa tahu rimbanya sampai detik ini. Spekulasi bermunculan, mulai dari kerja tangan jahil terorisme sampai pada (yang terakhir) terkabar bahwa ada pejabat keamanan AS melihat jika pesawat itu masih melayang-layang selama empat jam setelah hilang dari monitor radar. Spekulasi yang semakin membuat sakit para kerabat korban. Sakit karena kehilangan, sakit karena kembali berharap, sakit karena kenyataan pesawat itu kini belum tertemukan. Ada yang miris, ketika seorang anak dari korban pesawat itu, kedua orang tuanya, menggambar pesawat lengkap dengan untaian kata pengharapan agar kedua orang tuanya kembali dalam pelukannya! Tafsir keluguan dari seorang bocah yang sejatinya bisa dijabarkan dengan ribuan kata-kata untuk memaknainya.

Bagaimana dengan kita? Apakah minggu ini ada yang bisa kita ambil hikmahnya? Atau kita sudah merasa happy sendiri, atau juga yang paling sedih? Dimana posisi bathin kita membaca ini semua, antara mengatur takdir diri dengan berempati akan tragedi yang ada itu? Acuhkah kita? Mungkin malah lebih, dengan berlagak memberi persepsi dan opini-opini!
Setiap tragedi adalah pembelajaran bagi diri dan mahkluk disekitarnya. Bukan untuk dikuliti lantas ditinggal pergi, atau ditengok sebatas menengok.

Dimana posisi kita, kini? Masih beranikah menancapkan ego dan superioritas? Masih akan bernafsu untuk menanamkan kebencian dan pengerucutan gempita golongan? Masih mencoba bereksperimen seakan Tuhan lepas dari langkah? Masih harus mengibarkan “Aku yang menang…!!!”.

Posisi mana yang akan kita ambil? Ya, ternyata lebih baik mengambil hikmah dari tragedi itu, kemudian menuangkan dalam keterbatasan diri untuk merengkuh kepasrahan!

Dalam pengambilan hikmah ada do’a, ada rasa syukur, ada empati, ada pemikiran, ada perbaikan, ada kewaspadaan, dan ada amunisi untuk menutup tragedi selanjutnya. Kemudian dituangkan dalam keterbatasan diri yang termiliki agar terjawab kebesaran Sang Kuasa dan menjauh dari cerca-cerca. Lahirlah kepasrahan dengan sendirinya untuk menutup gelisah dan ketakutan. Maka, rotasi berfikir akan normal kembali sebagai jaminan langkah hidup selanjutnya dengan warna yang lebih baik lagi, tetapi tetap, hanya untuk diri sendiri!

Jadi, itukah posisi kita? Yah, karena (jika Tuhan mau) bisa saja menempatkan kita sebagai yang ikut dalam tragedi itu! Bersyukurlah dengan tengadah do’a untuk kebaikan bersama. Itulah posisi yang terbaik sebagai hamba.

Catatan :
Tulisan ini sebagai bentuk keprihatinan akan tragedi yang ada dalam minggu ini, minggu lalu, dan minggu-minggu selanjutnya. Bentuk empati yang seluas-luasnya tanpa berfikir siapa dan bagaimana, karena kita hanyalah manusia. Tuhan, Allah SWT, lebih tahu apa yang terbaik, Semoga Ia memberikan kebaikan yang terbaik untuk kita! Amin, insyaAllah… (*)

Kertonegoro, 13 Maret 014

Ilustrasi dari www.ectshow.co

Bagikan :

Komunitas Keong Hutan Adventure Bogor Bergerak untuk Korban Kelud

BOGOR (titik0km.com) – Musibah bisa menimpa siapa saja dan dimana saja terutama seluruh penduduk yang berada di sekitar daerah yang terdampak akibat erupsi gunung Kelud. Kondisi pengungsi dan keadaan di Blitar, Kediri dan malang mampu menggerakkan rasa kesetiakawanan dan solidaritas sosial bagi sesama bahkan didaerah yang jauh dari pusat bencana.

Seperti yang dilakukan Komunitas Keong Hutan Adventure Bogor yang berpanas – panas ria demi untuk mengumpulkan donasi dari masyarakat pengguna jalan di sekitaran komplek perkantoran Pemda Kab Bogor, di Cibinong mulai hari Rabu (19/2) kemarin.

Komunitas yang punya sekretariat di Jln. Asrama Divisi Kostrad Cilodong km 39, Kp. Bedahan RT 09 RW 01 Kel. Pabuaran Kec. Cibinong Bogor ini memang komunitas yang bergerak di kegiatan alam bebas dan sosial. Kegiatan ini langsung dipimpin oleh oleh Azie Perdana, yang juga menjadi penasihat organisasi komunitas ini dan bekerja sama dengan komunitas Sapu Lidi Jakarta akan berlansung sampai tgl 22 Februari 2014.

Kegiatan yang sudah berlangsung selama 2 hari ini, mampu mengumpulkan dana sebanyak Rp. 1,530,700,- dan rencananya akan langsung diserahkan ke BPBD atau Satlak Penanggulangan Bencana Gunung Kelud maupun pihak yang berwenang untuk menyalurkan bantuan bagi pengungsi Kelud.

Inilah hal yang bisa kami lakukan untuk ikut meringankan penderitaan saudara kami yg tertimpa bencana, mudah-mudahan Allah SWT memberi kekuatan untuk kita semua untuk melalui musibah ini. Alam sudah menunjukkan kekuatannya dan kita berharap agar semuanya bisa bersahabat dengan alam dan menjaga kelestariannya,” ujar pria berkaca mata ini sedikit berfilosofi.

Kegiatan komunitas Keong Hutan Adventure tidak hanya sekali ini saja, mereka juga mengadakan penggalangan dana untuk bencana alam dan bakti sosial untuk bencana Sinabung. Juga melakukan bakti sosial di SDN malasari 3 dikawasan Taman Nasional Gunung Halimun yang rusak. Azie Perdana juga menginformasikan bahwa agenda Keong Hutan Adventure Bogor selanjutnya adalah bakti sosial di sekolah anak jalanan Sekolah Bersama Yuk (Sebersy) Bogor. (gun/ias)

Bagikan :