Tahun Tangis Wanita

Oleh : Akhmad Fauzi*

Ditulis Jelang Hari Ibu 22-12-’13

Sebelas hari ke depan perempuan, wanita akan menemui harinya. Meski bukan hari gadis tetapi layak juga seorang gadis, baik lajang, maupun janda, berharap banyak di hari itu. Hari Ibu, 22 Desember 013. Hari yang ditunggu kaum hawa sedunia untuk mengambil makna penting atas perjalanan kiprah seorang ibu dalam menapaki peradaban, dari tahun ke tahun.

Sayang memang, tahun ini sedikit tergores wajah wanita. 013 banyak mata wanita yang harus sembab atau dipaksa sembab. Teringat tiga tahun terakhir, ketika hari itu tiba. Bakal ada catatan-catatan rahasia dari tiga dara saya, tiga putri saya lengkap dengan anggaran dan skenarionya. Kini, catatan itu sudah hampir di tangan, tetapi harus dihiasi bayang-bayang kelam sosok-sosok mereka yang tergores oleh kejamnya jaman. Apa boleh buat, tahun ini tradisi perayaan ala kadarnya itu akan terbungkus juga tetesan tangis wajah muram mereka, kaum hawa.

Apapun Jejak Mereka, Mereka Tetaplah Wanita

Rasanya semua masih ingat bagaimana seorang anak kecil, manis lucu, dibopong sang kakek memasuki ruang tahanan KPK menemui ibu tercinta. Pikir waraspun akan tergugah juga melihat (atau tepatnya membayangkan) takdir mereka. Angie, dengan segala putusan hakim untuk dirinya, tahun ini meneteskan air mata. Pantaskah ada cela cerca di sela-sela tangis putra mungilnya?

Masih ingat juga kan perjuangan seorang ibu untuk mendapat pengakuan “keayahan” dari anak mereka? Ibu yang merasa perlu meminta pertanggungjawaban “ayah”, juga anak yang bingung menanti kepastian tanpa ayah. Anak yang kebetulan tertakdirkan kurang begitu normal, sementara sang ayah begitu gagahnya membela partainya. Meski kisah ini sudah dua tahun lalu, empat bulan lalu sempat ramai lagi saat sang “ayah” ingin menapaki kariernya. Bisakah kita ikut merasakan tangis mereka? Utamanya ibu dari sang putra?

Tak urung, Bu Anni SBY pun harus sembab dalam marahnya. Coba lepas dulu konflik interest dalam hal ini, tutup buku tentang etika ber-IT, rendahkan pikir akan benci. Ibu Anni adalah wanita, karakter dasar tetap wanita meski pendamping beliau adalah jawara negara. Marah milik siapapun, jika wanita marah seharusnya lebih dikedepankan “potret anehnya”, bukan balik mencerca. Wajarnya, ledakan amarah wanita seharusnya ke dalam dulu, menghentakkan nafas menyentuh hati begulung sehebatnya. Jika telah keluar, berarti bergulung-gulungnya rasa itu begitu dahsaytnya. Tetap, dia (beliau) wanita dengan warna dasar lemah lembut. Saya melihat, ada sembab dalam amarahnya!

Nenek Artijah, tetangga sebelah desa, yang harus merasakan sulitnya penjara. Penebangan pohon di lahan yang sudah ia wariskan ke keturunannya harus berbuah gugatan. Hukum benar-benar tajam, meski ke bawah. Tidak saja tajam, tapi buta kelayakan dan kelenturan. Konflik dan kasus ini telah terjadi, putusan terbacakan, endingnyapun melegakan, tetapi tetap masih menyisakan tangis di dia, nenek Artijah, wanitalah dia.

RW, apa yang belum terjabar dari dia? Sampai yang detail dan dalampun tuntas sudah. 013 benar-benar tahun tangis bagi dia, RW, sosok yang sempat ramai berdilema dengan pelaku sastra, SS namanya. Semoga pembaca bisa melihat tetesan tangis wanita di sana! Tetesan tangis itu seharusnya lebih deras dari naluri, cita, visi, dan keyakinan yang ada!

Kurang lebih sebulan sebelumnya, Asmirandah. Yang harus membagi cinta dengan nilai-nilai yang dipegangnya. Yang harus mendayung dalam prahara cerita yang ia sendiri bisa jadi adalah korban tanpa dirasa. Yang harus tersenyum kepada keluarga untuk meyakini akan kebenaran pilihan hidup dirinya, dan tersenyum pula kepada pria yang penuh tanda tanya! Suaminya. Menangislah ia, Asmirandah, wanita belia yang cerita asasinya di sayat-sayat semaunya.

Mundur ke belakang, tak terhitung tetesan air mata wanita yang harus hidup sendiri oleh keji suaminya. Sang pejabat yang senang bermain mata dengan jabatannya tanpa memperhitungkan jika KPK telah ada. Suami yang kini harus berjibaku dengan alibi-alibi. Menghitung ucapan penyidik dan jaksa akan vonis akhirnya. Sebagai bahan dasar menghitung “kejandaan sementara” istrinya, ibu anak-anaknya, inipun wanita. Ada tangis bertumpuk di sana.

Puluhan tahun, wanita, hampir mendominasi warna dasar kehidupan bagi saya. Betapa tidak, lima dari penghuni rumah, hanya saya yang pria. Dua puluh enam guru dan karyawan di sekolah saya, 65% adalah hawa. Siswa saya juga begitu! Di komunitas teater sekolah, di group vokal sekolah, wanita mendominasi jua.

Apa yang harus saya ceritakan kepada mereka? Padahal sebelas hari lagi mereka akan merayakan harinya. Ah, wanita, mengapa tidak langsung ke 2014 saja.

Yuk, kita tata ulang kesiapan kita menyambut hari istri, menantu, cucu, saudara perempuan kita, wanita. Masih ada sebelas hari, sangat cukup untuk menutup kelamnya tangis yang ada, sehebat apapun praduga yang kita miliki. Hati memang tidak terkotak untuk harus care memilih pria atau wanita. Tetapi hati bisa merasa, hati jua yang berbicara. Dan hati suka yang indah, yang benar, dan terarah. Mereka, yang meneteskan air mata itu, wanita, yang tetap indah dan bisa kembali terarah.

SELAMAT DATANG HARI IBU
RAMAHKAN DALAM MENGHIRUP AROMANYA. (*)

Ketonegoro, 1 Desember 013

*Mohon maaf kepada nama-nama yang tersebut dalam artikel ini, empati dan sapa jua yang menjadi dasarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: