Titik Nol

Titik Nol

Oleh : Agus Susanto*

Pas akhir bulan Juli kemarin, setelah menerima honor bulanan dan Tunjangan Hari Raya, ada empat orang yang tidak segera pulang. Tapi mereka sengaja berlama-lama duduk ngobrol sambil melihat saya dan istri membagikan honor bulanan dan THR kepada teman karyawan lainnya. Jam menunjukkan pukul sembilan lebih 20 menit, saat saya dan istri selesai semua memberikan apa yang menjadi hak dan bagian karyawan yang bekerja ditempat saya.

Empat karyawan saya juga terlihat masih berbincang sesekali tertawa lepas, saya dekati mereka dan mereka memberikan isyarat kepada saya untuk bisa berbincang dengannya. Saya menggangguk setuju setelah saya makan malam dulu. Mereka menyetujui dan saya segera tinggalkan mereka sejenak.

Setelah makan malam saya kembali menemui mereka ber-empat. Awalnya hanya pembicaraan ringan-ringan saja, baru salah satu diantara mereka memberanikan diri untuk membuka kalimat yang penting. ”Pak Agus, kami ber-empat sengaja menunggu bapak untuk mengungkapkan sesuatu,” ujar Luwi, salah satu karyawan saya.

”Kami ingin mengundurkan diri dari tempat kerja yang sekarang ini pak, setelah Hari Raya Idul Fitri kami mencoba mengadu nasib ke kota Jakarta. Ada tawaran kerja dari saudara saya di Jakarta,” kata Luwi.

Saya tidak segera mengiyakan ataupun menolak permohonan pengunduran diri mereka, saya ajak mereka ngobrol tentang hal-hal lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pengunduran diri mereka. Seolah-olah sama sekali tidak ada masalah meskipun secara mendadak saya ditinggalkan oleh mereka,ber empat lagi!

Kami semua tertawa lepas dan terbahak-bahak saat semua menceritakan hal-hal lucu yang terjadi semasa mereka bekerja di tempat saya.

Tetap diakhir pertemuan itu saya harus dengan hati legowo meng-iya-kan permohonan pengunduran diri mereka semua. Ya semua empat orang sekaligus! Dan tetap tersenyum lebar sambil tetap memberi wejangan selalu sukses ditempat yang baru.

Kejadian yang seperti saya alami tadi, di hari menjelang, para pekerja mudik ke kampung halamannya, selalu diharapkan membawa sanak saudaranya untuk bisa bekerja di kota lain. Harapan-harapan dan tawaran-tawaran yang lebih menjanjikan memang membuat siapa saja akan tergiur mendengarnya. Siapa yang tidak ingin naik honor bulanannya? Siapa pula yang tidak ingin naik jabatannya? Dan kapan kesempatan itu akan datang?

Bekerja dikota besar selalu diinginkan dan dimimpikan oleh banyak pekerja kita. Impian akan kehidupan yang lebih baik selalu terpampang jelas di benak kita. Momen yang paling pas juga terjadi, saat mereka mudik, saat itu pulalah banyak pekerja dari daerah yang pada waktu arus balik akan membawa sanak saudara maupun kerabat-kerabatnya untuk dipekerjakan di kota yang lebih besar.

Titik Nol mereka ada disana! Memulai hal baru adalah sebuah momen yang paling mengesankan dan menggetarkan hati kita. Memulai pekerjaan yang baru, berteman dengan orang-orang yang baru, berada di kota yang baru dan ditambah dengan tantangan-tantangan yang baru pula, akan membuat sejarah yang baru didalam hidup mereka.

Saya selalu senang dengan perbandingan, setiap saya menulis, saya selalu melihat sebuah permasalahan dari berbagai sisi, dan dari berbagai pandangan banyak orang.

Dari cerita diatas jujur saja saat itu saya kehilangan langsung empat orang. Hal itu membuat saya harus berpikir ulang untuk menempatkan siapa-siapa saja yang akan mengisi kekosongan posisi yang ditinggalkan oleh karyawan saya tersebut. Proses pengisian kekosongan posisi harus segera dilakukan esoknya. Dan pastinya akan ada rangkap posisi disana. Segera juga saya mengkontak karyawankaryawan yang lain untuk segera mencari pengganti teman mereka yang mengundurkan diri. Juga saya mengkontak teman-teman untuk memberi tahu ada lowongan pekerjaan ditempat saya.

Tidak mudah memang untuk bisa langsung mendapatkan karyawan yang langsung bisa mengisi kekosongan. Saya jadi tertawa sendiri, saat saya banyak mengajarkan untuk banyak orang bisa menjadi entrepreneur sehingga tidak bergantung kepada pimpinan dan membuka usaha sendiri, saat itu pula saya jujur membutuhkan mereka yang mau bekerja di tempat saya.

Sungguh kejadian yang bertolak belakang, kalau kita lihat iklan-iklan lowongan kerja begitu banyak, yang belum bekerja juga begitu banyak tapi juga mencari tenaga kerja sangat begitu sulitnya.

Sekarang mari saya ajak untuk melihat dari sisi karyawan. Saya selalu mendengar cerita bahwa tukang masak di depot itu dulunya adalah tukang masak dari sebuah restaurant yang top di kota tersebut. Sekarang mereka buka warung sendiri. Itulah titik nol dia! Dulu tukang potong rambut yang jadi langganan saya, juga bekerja disebuah salon yang cukup terkenal di kota ini. Sekarang mereka membuka salon sendiri. Itulah titik nol dia! Didatangi seorang sales alat musik dari importir ternama di Jakarta, saya sempat mau order barang saat melihat dia datang. Ternyata saya keliru, dia tidak lagi membawa barang-barang dari importir ternama tersebut, tapi sekarang dia sudah menjalankan bisnis musik sendiri. Itulah titik nol dia!

Saya ingat saat saya berhadapan dengan staff customer service di sebuah bank kecil. Pada waktu itu saya ingin membuka tabungan. Tapi beberapa waktu lalu saya sempat tidak kenal saat staff customer service menyapa saya diruang prioritas bank besar pula. Saya ingat-ingat pernah ketemu dimana ya?

Dia mengingatkan saya, waktu membuka tabungan di sebuah bank kecil. Sekarang dia sudah naik jabatan menjadi kepala bagian. Itulah titik nol dia!

Banyak cerita-cerita dari teman, sahabat, saudara yang masing-masing mempunyai titik nol-nya sendiri-sendiri.

Yang disebut dengan titik nol adalah titik awal yang baru yang bisa merubah semua aspek didalam kehidupan kita. Semua dari kita pasti mempunyai sejarah titik nol-nya. Coba ingat-ingat, apakah yang saudara semua nikmati dan dapatkan saat ini adalah sebuah kebetulan? Tidak bukan? Ada titik nol dan titik awal disana.

Saya punya titik nol saat saya memutuskan untuk tidak bergabung dengan usaha keluarga dan saya memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Pahit memang saat pertama kali saya coba berusaha bekerja sendiri. Seperti seekor burung yang terbiasa nyaman didalam sangkar, makanan selalu ada dan tepat waktu. Lalu saat sangkar itu terbuka, dan burung itu lepas, sesungguhnya saat itulah titik nol burung tersebut berawal. Meski kadang tidak mendapatkan makanan setiap harinya dan bahaya serangan dari lawan-lawan burung tersebut terjadi setiap saat, kedinginan, kehujanan,kepanasan dan semuanya dirasakan tapi itulah kehidupan yang sesungguhnya yang sedang terjadi untuk menjadi seekor burung yang nyata.

Saya belajar dari burung tersebut, mencoba berusaha dan berdoa. Akhirnya saya bisa bertahan dan melewati semua persoalan sehari demi sehari. Jangan takut untuk menghadapi kehidupan ini. Apapun masalahnya, hadapi dan jalani. Siapa tahu hal yang paling menyakitkan yang terjadi didalam kehidupan kita itu adalah titik nol kita menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih indah disana.

Sebab rancangan Tuhan bukanlah rancangan kita! Cari titik nol-mu! Semoga bermanfaat! (*)

Agus Susanto [email protected].com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: