Topeng Monyet

Oleh : Agus Susanto*

“…. Sarimin menyang pasar!”  … Dung, dung, dung, dung … dung, dung, dung, dung, dung.

Terus si monyet yang bernama Sarimin dengan sigap membawa payung dan keranjang kecil, menandakan si monyet Sarimin hendak pergi ke pasar. Lalu setelah atraksi pergi ke pasar, si monyet Sarimin pergi naik motor tidak lupa memakai helm kecilnya. Lucu dan pintar si monyet Sarimin tadi. Masih ingat jelas diingatan saya saat peragaan topeng monyet di kampung masa kecil saya di gang kecil Kauman jalan Raya.

Menurut Wikipedia, sejarah topeng monyet adalah kesenian tradisional yang sejak dahulu sangat dikenal di Indonesia, terutama di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kalau di Jakarta atraksi ini dikenal dengan nama topeng monyet, sedangkan di daerah Jawa dikenal sebagai ledhek kethek.

Menurut Matthew Isaac Cohen, seorang professor budaya teater Indonesia dari Royal Holoway University of London, pertunjukan yang menampilkan monyet dan anjing direproduksi di Indonesia. Miniatur sirkus ini merupakan salah satu hiburan mengamen paling umum di pasar, jalan-jalan pedesaan, dan perkotaan di seluruh barat Indonesia.
Pertunjukan akrobatik ini menjadi umum pada awal 1890-an. Cohen juga menjelaskan bahwa atraksi monyet dan anjing terkait dengan perkembangan seni pertunjukan komersial di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Selain pertunjukan komersial berskala besar seperti sirkus. Kelompok akrobatik Jepang, operet, dan burlesque (pertunjukan drama atau musik yang bertujuan membuat tertawa), ada juga hiburan berskala kecil: panggung pesulap Eropa, India dan Cina; balloonists (orang yang mengoperasikan wahana balon terbang), pertunjukan anjing dan monyet, serta seniman boneka.

Pertunjukan topeng monyet terutama dinikmati oleh anak-anak, baik pribumi maupun Belanda dan Eropa. Hal ini bisa dilihat dari foto koleksi Tropenmuseum Amsterdam, Belanda. Foto yang bertarikh 1900-1920 ini memperlihatkan seorang dalang Arab dengan dua monyetnya yang dirantai. Foto diambil oleh Charles Breijer anggota de Ondergedoken Camera atau persatuan juru foto Amsterdam yang bekerja sebagai juru kamera di Indonesia dari 1947 sampai 1953. Dia kerap membuat foto kehidupan sehari-hari.

Keputusan Gubernur Jakarta Jokowi menargetkan Jakarta bebas topeng monyet di tahun 2014 disebabkan karena adanya unsur penyiksaan didalam melatih seekor monyet supaya bisa terlatih didalam pentas pertunjukan topeng monyet. Disamping juga banyaknya penyakit yang bisa dibawa oleh seekor monyet. Seekor monyet yang diperiksa juga positif terkena virus simian T-cell lymphotropic, yang diyakini sebagai virus HTLV, nenek moyang virus primata yang menular pada manusia, yang kemudian diketahui penyebab leukemia. Seekor monyet positif terkena virus herpes B, diketahui sebagai CHV-1, yang jarang menjangkiti manusia. Tetapi, dari 40 kasus pada manusia, 80% rata-rata berakibat fatal.

Belajar pada banyak penelitian di kawasan Afrika, Engel juga mencurigai kemungkinan monyet penghibur jadi perantara HIV penyebab AIDS  pada manusia. Untuk tindakan preventif, cairan tubuh monyet jangan sampai terkena bagian tubuh yang terluka sewaktu monyet menggigit atau mencakar kulit.

Terlepas dari kontroversial tentang penyiksaan binatang dan efek penyakit yang bisa ditularkan oleh seekor monyet. Jujur saya kagum kepada sikap kepemimpinan dan kedisiplinan pawang monyet yang diterapkan kepada seekor monyet peliharaannya. Sehingga monyet-monyet peliharaan nya tadi sangat loyal dan patuh terhadap apa saja yang diperintahkan pawangnya.

Kalau saja kita semua bisa mengambil sisi positif dari pertunjukkan topeng monyet, mulai dari perekrutan monyet, lalu latihan-latihan yang harus dijalani oleh monyet tadi kemudian jenis-jenis atraksi yang harus dihafalkan, lalu sampailah si monyet ke panggung utama “show time”nya. Itu semua seharusnya bisa menginspirasi kita manusia-manusia yang pastinya lebih hebat dari pada seekor monyet.

Pasti semua yang mengenal saya tidak akan percaya bahwa saya dulu pernah menjadi juara bulutangkis mewakili porseni SD kota Jember. Menjadi adik sepupu dari pahlawan Thomas Cup bulu tangkis Indonesia Mulyadi, yang memang asli arek Jember. Saya dilatih untuk bisa menjadi seorang juara. Lari sepuluh kali stadion Notohadinegoro setiap hari saya jalani, push up setiap kalinya harus 200 kali. Belum lagi latihan-latihan fisik yang sangat-sangat melelahkan. Tiap waktu saya diharuskan memegang botol kecap besar yang diisi pasir dan diputar-putar oleh pergelangan tangan saya. Latihan bayangan di lapangan bulu tangkis memakai lampu empat titik, dan saya diharuskan mematuhi dan mengejar kemana titik lampu yang menyala. Semua itu saya lakoni dengan sungguh-sungguh. Dan hasilnya? Tidak mengecewakan kalau saya bisa menjadi juara saat itu.

Sempat juga diajak Komandan Secaba tahun lalu untuk melihat anak-anak yang baru masuk pendidikan. Dilapangan mereka dilatih fisik maupun non fisik untuk nantinya akan lahir para Tentara yang solid dan tangguh.

Siapa menyangka kalau kita bisa merdeka?Kalau melihat sejarah bangsa kita,350 tahun hidup terjajah.Rasanya tidak mungkin kita bisa ada seperti hari ini. Kalau juga melihat perjuangan Arek-arek Suroboyo didalam berperang hanya dengan bambu runcingnya bisa menang terhadap Belanda saat itu. Semua itu tidak mungkin. Tekanan dan siksaan hidup dan harga diri itulah yang membuat kita semua saat ini bisa menikmati hasil perjuangan para pahlawan kita.

Kalau kita melihat sekeliling kita hari ini,kita banyak dikelilingi oleh orang-orang yang dalam bahasa mangga adalah karbitan. Orang-orang yang cepat putus asa, orang-orang yang maunya langsung enak. Orang-orang yang belum matang tapi dipaksa untuk matang. Bagaimanapun juga sebuah kehidupan itu adalah sebuah proses. Semakin kita kuat didalam setiap proses yang diberikan kepada kehidupan kita. Semakin kuatlah kita didalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada didepan kita. Jangan lewati halangan dan rintangan yang ada didalam kehidupan kita. Hadapi itu semuanya!

Jangan mengeluh meskipun perjalanan hidup kita seolah-olah bagaikan sebuah siksaan yang keras. Tahun-tahun kehidupan yang dikatakan tidak ada kesenangan didalamnya. Kalau saudara berkata hari ini saudara sudah tidak mungkin lagi menikmati hasil perjuangan saudara dan kerja keras yang bagaikan hidup didalam penyiksaan, ingat masih ada anak cucu kita nantinya yang mewarisi kehidupan yang akan datang.

Sukses tidak diukur dari posisi yang diraih seseorang didalam hidupnya. Tapi sebuah kesuksesan itu diraih dari kesulitan demi kesulitan, hambatan demi hambatan, tekanan demi tekanan yang berhasil di atasi ketika saudara dan saya berjalan didalam meraih kesuksesan itu sendiri. Semoga bermanfaat! (*)

*Agus Susanto ([email protected])

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: