Tradisi Mudik Adalah Kekuatan Hati

Oleh : Akhmad Fauzi*

Korban mudik melampaui korban bencana alam? Sutopo P.N, Humas BNPB, melihat ini sebuah tragedi! Di Tempo, beliau membandingkan mudik yang hanya 20 hari, tetapi korbannya bisa melampaui bencana alam yang terjadi beberapa kali selama setahun. (TEMPO.CO ; 5 Agustus 013).

Apakah berita ini menjadi momok? Bisakah fakta empiris ini menjadi letupan pertimbangan untuk “menangguhkan” untuk mudik? Atau justru seperti suara-suara yang ada (termasuk di awal tahun 2000, PT. Telkom pernah memprakarsai adanya “tilpun murah” PENGGANTI mudik! Bisakah kita menganggap “bebal” para pemudik itu? Atau, benarkah yang dikatakan sosiolog-sosiolog kalau mudik di samping –salah satunya- sebagai budaya juga bentuk aktualisasi pengukuhan identitas akan kemapanan diri? Atau, ini fenomena yang tidak ada keunikannya?

Jawabannya, luar biasa! Mudik lebaran ini –konon- nomor dua di dunia setelah “mudik ala China”. Namun kalau di ukur dari rasio jumlah penduduk, bisa jadi, mudik lebaran (yang gregetnya hanya di Indonesia) bisa dipastikan inilah aktifitas mudik terhebat di dunia. Apa yang terjadi? Semua tunduk dengan aktifitas ini. Kliring BI dan geliat Bursa Saham harus istirahat sejenak, legowo mengikuti hiruk pikuknya budaya tahunan ini. Proyek milyaran rupiah tidak mampu merayu desakan untuk mudik. Nyonya-nyonya besar pun harus mengungsi ke hotel barang satu dua pekan, karena ditinggal partner kerja setia rumah tangganya! Negera, harus memeras otak agar bisa melayani pemudik sebaik mungkin. Media? Saling berlomba menayangkan berita teraktualnya.

Jangan iming-imingi apapun agar pemudik ijin dulu tidak mudik. Jangan kabarkan kengerian akan efek mudik ini, karena itu akan menjadi gelembung semangat untuk semakin segera mudik! Silahkan dihambat dengan larangan-larangan, semua akan di balas gelora untuk melanggarnya. Lawan gejala ini dengan bopengnya jalan-jalan atau lusuhnya pelayanan alat transportasi (apapun), saya jamin peluh mereka menjadi bukti otentik akan dahsyatnya budaya ini.

Energi yang begitu besar ini menjadi tantangan yang turun-temurun di semua dinasti kekuasan di negeri ini, sekaligus menjadi barometer ukuran kerja pemerintah. Migrasi manusia dengan segala katifitasnya sealigus migrasi finansial menjadi bidikan khusus dari semua disiplin ini di negeri ini.

Jangan tanya tentang anggaran yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk memfasilitasinya. Dalam sebuah berita dirilis bahwa Departemen Perhubungan harus mengeluarkan anggaran lebih dari 12,5 milyar untuk mudik gratis, dan itu hanya untuk pemudik sepeda motor. Belum dengan anggaran dari lembaga-lembaga lain yang –maaf- ikut-ikutan mengadakan mudik gratis untuk (mungkin) mengambil simpati.

Mudik, tema yang sulit untuk dibendung setiap tahunnya. Tanpa ada koordinasi, tanpa berfikir resiko, berbuat apapun untuk melaksanakannya (walau harus berhutang), tanpa melirik ke belakang bagaimana sebenarnya ekses yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Senyum hati (untuk senyum wajah agak jarang sebenarnya) tampak dari semangat di wajah (dan bawaaannya) cukup memberikan hiburan tersendiri di layar-layar kaca selama H-7 sampai dengan H+7.

Mudik, sejarah dan peradaban di perjalanan waktu tak mampu menghentikannya walau teknologi telah berusaha menyajikan fasilitas-fasilitas agar bisa menjadi pengganti aktifitas ini.

Mudik, hati yang berbicara. Karena ada nuansa kerinduan di sana. Karena suatu panggilan yang tak mampu dijabarkan kata-kata. Karena mudik BUKANLAH budaya, tetapi keharusan hidup untuk kembali ke hati. Andai momen ini menjadi ukuran diri pasca mudik. Andai mudik menjadi tour yang melibatkan hati setiap detilnya. Andai mudik mampu menghasilkan catatan-catatan setelahnya.

Mudik, bak permata yang lama hilang untuk bisa ditemukan kembali! (*)

Kertonegoro, 5 Agustus 2013

Link reverensi tulisan ini :

1. http://fokus.news.viva.co.id/news/read/434634–jumlah-pemudik-diperkirakan-4-juta-orang-
2. http://ramadan.tempo.co/read/news/013/08/05/151502457/Jumlah-Korban-Mudik-Lebih-Tinggi-dari-Bencana-Alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: