Tuhan Tolong Ampunkan Jokowi dan Prabowo

(Do’a Akhir Pekan buat Jokowi dan Prabowo)

Oleh : Akhmad Fauzi

Nukilan tausiyah yang disampaikan seorang da’i di Indonesia Damai siang tadi. Tidak terlalu persis tetapi juga tidak jauh dari makna itu. Entahlah, apakah masih ada yang mau berkenan memanggil tetesan air mata atas telanjangnya aib dua tokoh ini. Minimal mengadu emosi yang terlanjur meninggi untuk diturunkan detaknya ke ranah seorang hamba. Hamba yang sebenarnya memiliki tingkat kepekaan akan trenyuh dan toleran. Hamba yang senantiasa (sebenarnya) terpanggil untuk selalu mandi suci aura diri.

Sulitkah memberi jempol kepada Jokowi begitu sholawat terucap di sela-sela bibirnya, ketika mengawali sambutan deklarasi Dahlan Iskan? Apa yang ingin kita ambil dari seorang Prabowo hingga kuda dan kedudaannya menjadi ukuran? Sesepakat itukah sebagian kita mengusung calon pemimpin negeri dengan menelanjangi aibnya? Hitung, berapa dosa yang telah direkam oleh malaikat yang ada. Hitung pula nilai ketenangan yang telah diperoleh.

Teringat sejarah sufistik ketika dalam sebuah wilayah telah penuh bisikan fitnah. Moralitas dicibir karena dianggap hanya “katanya”. Wibawa diri dijual untuk mem-bully wibawa lainnya. Harga sakit hati tidak laku lagi dalam debat diri. Semua dalam keberingasan kata dan langkah. Maka terperanjat sang malaikat ketika diperintah untuk membumi-hanguskan kawasan itu. Dalam riwayat, Allah SWT tidak peduli lagi meski dalam wilayah itu ada sosok ahli ibadah, alim, dan khusu’. Allah Maha Tahu apa yang ada, hancur leburlah wilayah itu, menyisakan puing-puing sejarah kehinaan anak manusia. Maha Benar segala firman-Nya, penuh hikmah segala takdir dari-Nya

Rob, telah Engkau sepakatkan empat sosok calon pemimpin bangsa
Adakah memang sedang Engkau diamkan untuk ditelanjangkan penuh hina?
Kebaikan jelas ada dikeduanya, seiring umur jiwa semasa yang ada
Keburukan tidaklah niscaya, toh mereka hanyalah manusia

Rob,
Maafkan calon pemimpin kami hingga berwajah sebegitu nistanya
Semog kursi-Mu mampu meneduhkan emosi mereka
Negeri ini masih melihat bukanlah singgasana yang ada dalam otaknya
Bukan pula gila kuasa yang membanjiri mimpinya

Rob,
Sangat teryakini potret ini hanyalah bentuk kekerdilan diri
Dari mereka yang luka dengan intuisi untuk menghamba
Lebih percaya jika hidup tersambung dari keduanya
Menempatkan segala gerak diri mempeta rasa
Melupakan sejenak, jika Engkau
ada

Hiruk pikuk kehinaan ini hanya anasir dari yang tidak berdaya
Menghembuskan bara, menaiki dengan suka cita
Ini hanyalah kelicikan dari secuil keisengan
Bukan jati diri warna hati negeri

Ampuni beliau ya Rob,
Tokoh calon pemimpin negeri
Karena aku masih bisa meresakan
Getaran iman dalam nafas perjuangan

Maka tangguhkan turunnya malaikat-Mu
Untuk bergegas meratakan persada ini
Amin, semoga…

Warning :
Semoga masih banyak yang percaya jika warna energi yang kita keluarkan akan kembali jua, ke diri sendiri, apapun warnanya…!!! (*)

Kertonegoro, 31 Mei 014

Salam,

@Berangkat Dari Hati Untuk Menumbuhkan Energi Positif

https://www.facebook.com/bermututigaputri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: