Tutup Mulut

oleh : Akhmad Fauzi*

Low Pofile yang diimbangi mini-kata sehingga terkesan bergaya tutup mulut, Jendral (purn.) M.Yusuf, menjadi sosok yang krusial selama orde baru. Moerdiono pun semirip itu. Khalayak menduga dengan segudang tanya akan fenomena yang pernah dan akan terjadi. Memang, ada kalanya diam adalah emas (syurga).

Entah, gaya tutup mulut ini cukup efektifkah untuk konteks kekinian. Mengingat begitu dekatnya jarak informasi dan piranti untuk memuatnya agar sampai ke pemirsa. Apalagi instannnya pemikiran ketika membaca dan menduga sebuah wacana, sehinga bola wacana itu kadang keluar arena. Ini menjadi bukti tidak berbanding lurusnya antara konsumsi keilmuwan yang dimiliki dengan hentakan emosi jiwa. Setidaknya butuh selangkah lagi untuk mengisi jiwa dengan bahasa cinta, bahasa sesama, bahasa kepedulian, yang itu hanya bisa direguk lewat meditasi (dalam arti luas) dan dialog hati berkepanjangan dalam ranah falsafah keTuhanan.

Mas Anis Baswedan menengarai hiruk-pikuknya suasana kini terpicu pula oleh “diamnya orang-orang baik”. Besarnya tema yang diusung mas Anis beberapa waktu lalu ini menjadi kealpaan publik untuk dicermati lebih jauh. Kealpaan mencermati ini bisa menjadi indikasi kebenaran akan tengarai itu, sehingga memang yang bersiul dan bernyanyi selama ini adalah “yang tidak baik”. Maka pembiaran wacana mas Anis ini menjadi ladang yang aman untuk meneruskan nyanyian dan siualannya. Bisa juga sebagai konteks akutnya kebobrokan, sehingga yang baik lebih baik mengamankan kebaikan dirinya untuk diri dan orang-orang dekat tercnitanya. Atau malah memang tidak ada yang baik, sehingga semua berkolaborasi agar mempoles tengarai mas Anis ini sebagai isapan jempol belaka dan menjadi bahan tertawaan, dibalik ketidakbaikan itu.

Tengarai mana yang benar? Jika menengarainya dalam bahasa kepositifan, mungkin akan menjadi suplemen waktu untuk menyusun kembali barisan para pencerah agar terjadi rovolusi pencerahan. Jika melihat sebaliknya maka menjadi antiklimak untuk lebih mengukuhkan tatanan karut-marut ini dengan mengubur segala suara-suara orang baik itu!

Sulit juga menerka, mana yang akan muncul sebagai dominasi wacana. Agama sudah memberikan sinyal jika kebaikanpun akan kalah oleh keburukan yang terorganisasi. Belum saya temukan adanya pemastian jika kedua-duanya (keburukan dan kebaikan) sama-sama terorganisir mana yang pasti menang. Tuhan hanya memberikan penguatan jika yang haq adalah haq yang bathil tampak jelas bathilnya juga. Sementara ruang hati yang seharusnya terisi nilai-nilai keTuhanan semakin tergerus oleh kepanikan akan kebutuhan dunia. Siapa yang bisa menjamin jika kepanikan itu steril dari permainan yang kurang bermartabat.

Kurang dari dua minggu lagi gaya tutup mulut tidak akan berlaku bagi konstelasi perpolitikan negeri ini. Hentakan dan penekanan frase untuk menyapa keyakinan konstituen menjadi sesuatu yang harus. Tutup mulut berarti kalah sebelum perang, menjadi lahan yang empuk untuk ditumbuhi ilalang fitnah dan “bantar gebang” kedua. Maka jangan heran jika pengab dan gerah sudah mulai terasa menjelang euphoria itu.

Semua siap-siap untuk turun gunung lengkap dengan konsep yang meyakinkan untuk solusi pemecahan kubangan-kubangan negeri ini. Tergantung hati yang menangkap konsep itu, akan berujung bantahan atau mengamini tanpa jeda. Siulan bahkan teriakan itu dipastikan akan menjadi tontonan yang cukup menarik seklaigus akan mengerahkan energi kerutan dahi. Semoga semua dalam kebaikan, khalayak masih mampu mencerna mana yang berkualitas, yang sungguh-sungguh, yang mencerminkan suara hati.

Apakah sama makna tersirat dari tutup mulut, membisu, berdiam diri, mini-kata, dan yang memang sengaja ingin diam? Ketika seorang perawan ditanya oleh walinya tentang kesanggupan menapaki hidup dengan lelaki idaman, diamnya adalah tanda setuju. Lain dengan janda, yang tentu keterdiaman bisa menjadi sinyal penolakan. Dimanakah posisi Ibu Pertiwi sekarang, perawankah atau janda? Atau, jangan-jangan lagi hamil tua?

Ah…, terlalu jauh tafsir itu, yang pasti diam jika itu memang untuk lebih baik, lebih dianjurkan agama tanpa berbatas momen dan bentuk masalah. Bersuara, jika itu memang mengharuskan, itupun langkah baik juga. Ternyata tetap, memaknai diam dan bicara tergantung konsumsi yang ada di diri masing-masing. Ternyata juga, bersuara dan berdiam diri dengan semangat untuk kebaikan cukup ampuh untuk memperbaiki keadaan.

Kita harus di posisi mana? Jawablah dengan menatap mata binar Pertiwi kita, tangkap sinyal dari setiap tetes air yang ada, jadikan gerak untuk membanggakannya kembali.(*)

Kertonegoro, 6 Maret 014

Gambar dari m.tubasmedia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: