Yuk Perbaiki Iman

Renungan Jum’at Sore

Oleh : Akhmad Fauzi*

Syukurlah, kemarin ada berita MH370 mulai sedikit menemukan titik terang. Sekecil apapun titik terang itu tentu sangat berharga bagi keluarga juga pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Selamat tentunya yang diharapkan, titik terendah pengharapan adalah bisa menemukan keluarga dan pesawat itu bagaimanapun rupanya. Idealnya memang ada kepastian ditemukan semua penumpang dengan selamat, namun kalau toh tidak demikian hal paling terjeleknya adalah ada kepastian jika ditemukan.

Ketika Ade Sara terbunuh dengan kejamnya, dua pelaku ingin berikhtiar untuk memastikan dan menyakini jika sosok korban adalah titik inti kepastian itu. Harus digaris-bawahi jika ikhtiar untuk memastikan dan meyakini sesuatu dari kejadian Ade Sara ini mutlak salah. Kesalahan terbesarnya adalah ada yang tersakiti (korban), lebih dari itu pemaknaan ikhitar itu tidak lugas dan cenderung berdasar diri sendiri yang berarti berdasar akal dan rasa yang dimiliki. Sementara akal dan rasa yang dimiliki seseorang nilainya relatif subjektif. Apalagi jika yang mendominasi adalah akal, maka dapat dipastikan emosi dan intelektual lebih mengemuka sesuai konsumsi pemikiran yang dimiliki lengkap dengan latar belakang alasan (sebab) mengapa perlu ada ikhtiar. Padahal, akal dan rasa itu akan lebih bemakna baik bagi dirinya maupun orang lain jika selaras dengan norma dan aturan yang ada. Ketika hasil perasan akal dan rasa itu lepas kendali dari norma tentu akan melawan tatanan yang ada yang berakhir pada pendholiman dan pelanggaran.

Begitu juga dalam mensikapi pemilu tahun ini. Akal dan rasa saling sengkarut mewarnai diri lengkap dengan amunisi pembenaran-pembenarannya. Jika tanpa koridor, aturan, etika, dan kepekaan rasa maka yang ada hanyalah gerak tanpa berpikir apa nilainya, yang penting target nantinya tercapai.

Inti dari uraian di atas adalah yakin dan pasti. Sesuatu yang menjadi kejaran aktifitas kita dalam kehidupan sehari-hari. Ironisnya, yakin dan pasti itu tidak bisa “dipastikan” berbanding lurus dengan ikhtiar yang dilakukan. Berarti ada faktor lain yang masih harus dijangkau untuk lebih bisa memastikan dan meyakini.

Hikmah Kecelakaan MH370 yang sangat di tunggu kepastian riilnya, Ade Sara yang telah jadi korban sia-sia akibat ulah dua anak manusia untuk memastikan hasil dari diskusi akal dan rasa (ternyata lebih condong pada nilai emosinya), sampai pada euphoria pemilu dua tiga bulan ke depan menjadi penguat jika perlu ada batasan rasa dan akal untuk menatanya. Batasan inipun tidak akan mampu bersuata banyak jika tidak teryakini dalam hati.

Keyakinan dalam Islam menjadi pondasi untuk melakukan gerak selanjutnya. Abu Bakar pada awalnya merasa risih ketika disuruh Roshulullah untuk berdakwah (menyampaikan risalah) karena merasa tidak punya pemahaman yang cukup tentang nur yang dibawa Roshulullah ini. Maka Roshulullah bertanya, cukup singkat, “Apakah engkau sudah meyakini ucapan Lailahaillahlah…?”. Ketika dijawab sudah, bahkan begitu yakin, maka “Cukup bagimu untuk memulai dakwah ini….”, jawab Roshulullah.

Gunakan akal dan rasa dalam menyimak sekelumit risalah itu. Rasakan dengan utuh atau tajamkan akal dalam menalarnya, maka akan terasa betapa keyakinan ternyata akar segalanya. Keyakinan dalam konteks keTuhanan khususnya. Bias dari keyakinan ini berjibun akibatnya. Sangat tidak logis jika seseorang meyakini (utamanya akan ketauhidan) akan berbuat tidak dalam koridor aturan Tuhan itu sendiri. Sementara Tuhan adalah simbol kebaikan, kasih sayang, kekuatan dan lain-lain.

Kita yakin Tuhan ada dengan segala ke-Maha-anNya. Kita yakin Dia telah menyempurnakan aturanNya. Kita juga yakin, buah dari keyakinan ini akan berakhir baik untuk pemiliknya.

Maka memperbaiki Iman (keyakinan) perlu terus dilakukan. Mudahnya kita mengakses hal yang subhat (meragukan) maupun yang jelas-jelas haram menjadi picu semangat agar keimanan itu selalu dalam kondisi refresh.

Hedonisme (cinta dunia) sesuatu yang lumrah sekarang, penyakit yang 1400-an silam sudah diprediksi akan menjadi primadona penyakit umat Islam di akhir jaman. Gila akan harta dunia tetapi takut akan kematian. Maka, genggam erat kembali keimanan kita, usap agar terus berkilau.

Hasut dan benci, penyakit hati yang bisa membunuh siapa saja. Membunuh kepekaan kehambaannya, membunuh keberpihakannya pada kebenaran yang mutlak, membunuh keinginan untuk selalu baik dan harmonis. Hasut dan benci ini bukanlah karena bermasalah pada hartanya tetapi bermasalah di hati. Hati letak ukuran pasti keimanan kita, maka hembuskan hawa kehidupan bersama keimanan yang ada agar kembali menggumpal segar bersemayam di hati kita.

Tergesa-gesa dan berlebihan, suatu liukan bisikan setan yang melenakan. menjadi kerubutan tema-tema hitam untuk mengaburkan kebenaran nilai jika berjalan sewajarnya dengan keseimbangan yang wajar pula menjadi titik pijak keberhasilan dan kejernihan. Tergesa-gesa dan berlebihan menjadi makanan penghuni dunia sekarang, ingin cepat dan ingin menumpuk. Ingin segera selesai juga bisa meraup hasil yang tak terbatas. Keimananlah yang bisa mendinginkan suhu ketergesa-gesaan dan berlebihan itu. Karena dalam keimanan ada kepastian akan takdir tetapi tetap yakin jika ihtiar dengan segala niatan adalah pahala karena percaya ada Tuhan di dalam hatinya. Ihitar dan niat lebih menjadi fokus penilaian, maka perbaiki niat dan proses ) ihtiar) itu. Rengkuh keimanan agar dunia berputar sewajarnya dan selaras akan kebutuhan yang dibutuhkannya.

Keimanan meliputi segalanya, keimanan adalah percaya yang diyakini dalam hati diikrarkan dalam lisan dan dibuktikan dalam perbuatan. Berjalan di rel keimanan sama dengan mengendarai kepastian dengan peta yang jelas dan menjanjikan. Tidak ada keraguan dan kesia-siaan. Menjadi kebutuhan penuh ruang jiwa dan raga. Keimanan akan berwarna pada pemiliknya dan berimbas pada ruang di sekitar dirinya.

Andai setiap insan saling bergesek mengasah iman, betapa berkilau gesekan itu. Menjadi warna teduh di seputaran kolong langit dan beimbas pada kesejukan kehidupan yang ada. Iman menajadi penelusur kebaikan-kebaikan. Maka, perbaiki iman kita agar penulusuran kebaikan itu tidak pernah menemukan titik henti. (*)

Kertonegoro, 21 Maret 014

gambar dari akhwatperindusurga.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: